1 Miliar Shalawat Asyghil Untuk Palestina
Hingga hari ini belum ada tanda-tanda konflik Israel-Palestina akan usai sejak dua pekan konflik berdarah-darah itu berlangsung. Tak ada yang lebih menyedihkan dan menyayat hati selain menyaksikan ribuan warga sipil Palestina meragang nyawa. Mereka yang tak tahu menahu apa yang terjadi, terpaksa harus kehilangan keluarga, senyuman dan kebebasan hidup sebagaimana haknya sebagai manusia. Di momen Hari Santri Nasional yang diperingati pada hari ini, saya ingin mengajak para santri untuk paham duduk persoalan Israel-Palestina dan turut memikirkan problem internasional tersebut. Paling tidak, tetap optimis menyuarakan ‘perdamaian’ di tengah kondisi yang kian memburuk.
Pada mulanya —sebagaimana kita saksikan– konflik Israel-Palestina muncul dengan harapan kemerdekaan Palestina. Sejak serangan diam-diam Hamas pada Israel pada tujuh Oktober lalu, dunia kembali sadar akan posisi dan kekuatannya. Serangan yang terinspirasi pada semangat Perang 6 Oktober Arab-Israel (Harb Sitta Uktubar) itu, disambut sorak-sorai berbagai negara Islam di dunia sebagai gerakan kemerdekakaan Palestina. Namun, harapan dan optimisme tersebut lenyap setelah datangnya serangan balik Israel yang membabi buta, brutal, dan biadab. Per-hari ini, tercatat di pihak Palestina sebanyak 3.500 korban tewas tiga kali lipat lebih banyak dari pihak Israel. Terutama, sejak serangan Israel yang menyasar Rumah Sakit Al-Ahli Al-Arabi yang menyebabkan 500 korban nyawa. Ironisnya, sebagian besar dari jumlah korban nyawa tersebut adalah anak-anak.
Upaya-upaya untuk mencari jalan keluar konflik Israel-Palestina sampai saat ini masih terlihat buntu. Sejumlah pengamat menilai rekonsiliasi melalui jalur diplomatik multilateral, khususnya PBB masih terjegal hak veto AS. Terbukti usulan Rusia kemarin yang mendesak PBB untuk mengeluarkan draft resolusi yang menyerukan “jeda kemanusiaan” dengan tanda tangan 13 negara, masih diveto oleh tiga negara pro-Israel: AS, Inggris, dan Prancis. Bagi saya sikap ini jelas: Negara Barat Pro-Israel masih ingin bermain cuci tangan dalam konflik Israel-Palestina. Upaya lainnya, seperti yang dilakukan Jordania pada Rabu (18/10/2023)yang akan mempertemukan Presiden AS Joe Biden, Raja Jordania Abdullah II, Presiden Mesir Abdel Fatah el-Sisi, dan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas terpaksa dibatalkan karena insiden ledakan Rumah Sakit Al-Ahli.
Kita, para santri perlu sejenak menengok konflik ini dengan jernih ke dalam akar persoalannnya. Konflik Israel-Palestina bukan saja konflik agama yang umumnya disalah pahami, melainkan ia berakar secara kompleks pada faktor historis, politik, sosial, dan teritorial yang berlangsung sejak akhir abad ke-19. Konflik terbaru inim, menurut sejumlah pengamat, berakar pada pendudukan Israel di tepi Barat yang memicu Hamas melakukan serangan. Serangan tersebut kemudian merepresentasikan mayoritas publik Palestina untuk menyuarakan kondisi ekonomi warga Palestina yang semakin memburuk. Kondisi itu dikarekanan sanksi massal Israel terhadap warga Jalur Gaza yang berjumlah sekitar 2,2 jt massa tanpa pandang bulu, dengan memutuskan aliran air, listrik, logistik, dan kebutuhan medis serta pengawasan super ketat dan canggih Israel dilakukan terhadap gerak-gerik masyarakat Palestina.
Hari Santri: Suara Solidaritas Untuk Palestina
Sebagaimana saya singgung di atas, hingga hari ini berbagai cara dan upaya baik diplomatik maupun gelombang protes untuk menyelesaikan problem Israel-Palestina masih menemui kebuntuan. Harapan yang tersisa, sebagaimana dalam amatan Mustafa Abdurrahman, adalah Menunggu Jalur Kemanusiaan di Gaza: yakni mengharapkan Israel sepenuhnya sepakat untuk membuka gerbang perbatasan Rafah, lebih-lebih bisa mencapai kesepakatan gencatan senjata.
Tepat hari ini, tanggal 22 Oktober adalah perayaan Hari Santri Nasional yang dilakukan tiap tahunnya. Hari Santri lahir hakikatnya bernafaskan “resolusi jihad” Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari melawan para penjajah yang merepresentasikan makna “perjuangan”. Pada makna yang sama, saya ingat betul dawuh KH. Zaini Mun’im, pendiri PP Nurul Jadid, “Saya tidak rida kalau santri saya tidak berjuang di masyarakat”. Dawuh yang lain, “Orang yang hidup di Indonesia kemudian tidak melakukan perjuangan, dia telah berbuat maksiat.” Dengan demikian, perayaan ini tidak sekadar dirayakan dalam bentuk seremonial belaka, melainkan lebih jauh pada perenungan akan “santri dan perjuangan” baik untuk agama dan tanah air. Oleh karena itu, tepat kiranya di momen ini, kita para santri turut berempati, berperan, dan memikirkan isu Palestina.
Melalui tulisan ini, sebagai santri, kita harus tetap optimis bahwa problem Israel-Palestina akan segera usai. Kita perlu mendukung penuh upaya-upaya rekonsiliasi baik itu dengan mediasi diplomatik seperti yang tengah dilakukan Mesir, Rusia, maupun upaya bantuan jalur kemanusiaan. Selain itu, kita dukung penuh sikap konsisten Indonesia untuk berpihak pada Palestina dan mengutuk Israel: menyuarakan sikap tegas Al-Azhar, PBNU, dan suara-suara lembaga keagamaan lainnya untuk membela Palestina. Harapan terbesar dan yang paling konkrit sejauh ini, menunggu keluarnya resolusi “jeda kemanusiaan” dari PBB, meski dengan resiko-resiko terburuk sekalipun. Negara-negara Barat pro-Israel akan tidak ada artinya di hadapan suara masyarakat dunia yang bersatu dan solid.
※ Membentuk Karakter ala Al-Azhar
Suara selanjutnya, saya mengajak kita semua: para santri, mahasantri, pemuda dan mahasiswa yang berjiwa santri untuk membuka mata dan mempunyai wawasan yang memadai atas konflik Israel-Palestina. Mengingat jihad kita hari ini—bahkan fardhu ain— adalah jihad ilmu. Santri ideal adalah yang berwawasan global, peka akan isu kemanusiaan serta kritis menyikapinya. Mari gunakan kemudahan media-sosial hari ini dengan sebaik-baiknya untuk memperkaya informasi dan membangun sikap bijak, termasuk saling mengingatkan kepedulian dan solidaritas kemanusiaan atas Palestina.
Terakhir, selain 1 miliar Shalawat Nariyah, berikut serba-serbi upacara hari santri, saya rasa kita perlu mempersembahkan 1 miliar Shalawat Asyghil secara khusus, khusyu’, dan penuh kesadaran pada saudara-saudara kita di Palestina. Sebagai bentuk jihad Bathiniyah yang menghubungkan harapan, jiwa, dan kesadaran kita pada Sang Pemilik Segalanya, Allah SWT. Sebab Allah tidak akan lupa pada janjinya, Waqul Ja’al Haqqu Wa Zahaqal Bathilu, Innal Bathila Kana Zahuqa. Begitu pula selaras dengan dawuh Syekhul-Azhar Prof. Dr. Ahmad Ath-Thayyib, “Ketahuilah, wahai dunia! Agar seisi dunia tahu, bahwa setiap penjajahan akan hilang, cepat atau lambat, lama atau segera.”