10 Kitab Paling Tua tentang Al-Aqsha, Al-Quds, dan Palestina

Pada Desember 2017 M, Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengakuan bahwa Al-Quds (Jerussalem) adalah ibu kota Israel. Pengakuan ini tentu menyulut kemarahan dan kecaman dari dunia Arab maupun masyarakat internasional. Sebab hal ini sama saja dengan menganggap remeh Al-Quds yang merupakan rumah bagi situs-situs suci bagi umat Islam, Yahudi, dan Kristen.

Al-Azhar dengan cepat mengambil sikap dengan mengadakan muktamar internasional untuk membela Al-Quds. Muktamar Internasional Al-Azhar untuk Membela Al-Quds ini diselenggarakan pada 17-18 Januari 2018 M. Bukan hanya mengadakan muktamar, Al-Azhar juga meluncurkan Majalah Al-Azhar edisi khusus untuk pembahasan Al-Quds.

Kedua aksi ini mungkin bisa diterjemahkan sebagai upaya Al-Azhar untuk memberikan gambaran jelas terkait status Al-Quds. Jika muktamar internasional berisi penjelasan tegas kepada masyarakat dunia tentang hak rakyat Palestina atas Al-Quds, maka Majalah Al-Azhar adalah penegasan kepada masyarakat Al-Azhar dan Mesir secara umum tentang hak tersebut.

Dalam salah satu tulisan di Majalah Al-Azhar edisi khusus itu, terdapat isu menarik terkait Al-Quds. Ada sebuah fakta yang mengemuka bahwa para orientalis menganggap Al-Quds bukan hak bangsa Arab dan umat Islam. Sebab sebelum terjadinya Perang Salib, bangsa Arab dan umat Islam tidak menaruh perhatian terhadapnya. Perhatian mereka mulai tertuju ketika hendak merebut kembali Al-Quds dari tangan tentara Salib. Sehingga wajar jika di abad ke-6 dan ke-7 H, banyak bermunculan buku-buku terkait Al-Quds, Palestina, dan Masjid Al-Aqsha. Sementara sebelumnya, bangsa Arab dan umat Islam tidak memberikan perhatian, bahkan terkesan abai. Demikian itu sebagian pernyataan para orientalis terkait Al-Quds dan Palestina.

Lebih dari itu, para orientalis juga menerbitkan sejumlah kitab Arab terkait Al-Quds dan Palestina yang ditulis pada abad ke-7 H dan setelahnya. Hal ini sebagai upaya penegasan bahwa bangsa Arab dan umat Islam baru memperhatikan kota suci tersebut pasca dikuasai tentara Salib. Sehingga semakin mempertegas bahwa tanah Palestina tidak mendapat perhatian orang Arab dan umat Islam. Maka sudah sepantasnya untuk dikelola oleh pihak asing. Tentu pernyataan ini hanya sebagai upaya untuk memuluskan penjajahan saja.

Di sisi lain, Syekh Muhammad ‘Imarah dalam Al-Quds baina Al-Haq Al-Islami wal Maza'im Ash-Shahyuniyyah (kitab ini menjadi hadiah Majalah Al-Azhar edisi Januari 2018 M) menyebutkan pernyataan tak berdasar dari Jewish Defense League (JDL). Pendiri organisasi ini menyatakan bahwa "perhatian umat Islam terhadap Al-Quds mengalami pasang surut. Umat Islam mempunyai perhatian hanya jika isu Al-Quds bisa memberikan manfaat kekuasaan kepada mereka saja. Jika tidak, Al-Quds akan diabaikan dan ditinggalkan begitu saja." Pernyataan yang terdapat dalam dokumen ini sejalan dengan apa yang dituduhkan oleh orientalis di atas.

Benarkah orang Arab dan umat Islam tidak mempunyai perhatian terhadap Al-Quds sebelum Perang Salib sebagaimana klaim orientalis? Atau sebenarnya sebagaimana pernyataan JDL, bahwa ada perhatian terhadap Al-Quds, tapi hanya untuk kepentingan kekuasaan semata, dan jika tidak ada kepentingan, maka akan ditinggalkan?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya kita mengenali beberapa kitab yang ditulis umat Islam terkait Al-Quds, Al-Aqsha, dan Palestina sebelum wilayah tersebut dikuasai tentara Salib. Sehingga hal ini bisa menjadi bukti bahwa umat Islam senantiasa memberikan perhatian terhadap wilayah tersebut. Perlu diketahui juga bahwa tentara Salib menguasai Al-Quds pada 489 H / 1099 M, sehingga kitab yang akan disebutkan di sini adalah kitab yang dikarang sebelum tahun tersebut.

Meski sebagian besar masih berupa manuskrip, berikut ini adalah 10 kitab tentang Al-Quds, Al-Aqsha, dan Palestina yang ditulis sebelum 489 H / 1099 M :

1. Futuh Bait Al-Maqdis (Pembebasan-Pembebasan Baitul Maqdis)

Kitab ini ditulis oleh Syekh Abu Hudzaifah Al-Bukhari (w. 206 H). Pengarangnya bernama lengkap Ishaq bin Bisyr bin Muhammad Al-Bukhari. Jika pengarangnya saja wafat pada awal abad ke-3 H, tentu kitab ini ditulis selambat-selambatnya di awal abad tersebut. Ada kemungkinan juga ditulis di abad sebelumnya.

2. Al-Futuh (Pembebasan-Pembebasan)

Kitab ini ditulis oleh Syekh Abul Hasan Al-Mada'ini (135-225 H). Pengarangnya bernama lengkap Ali bin Muhammad bin Abdullah Al-Bashri Al-Mada'ini. Kitab Al-Futuh (Pembebasan-pembebasan) ini berisi banyak sub judul fath (pembebasan). Ada Fathu 'Asqalan (Pembebasan Ashkelon), Fathu Ghazzah (Pembebasan Gaza) dan fath-fath yang lain. Pengarangnya lahir 15 tahun sebelum lahirnya Imam Asy-Syafi'i.

3. Qudhat Filashtin (Para Kadi Palestina)

Kitab ini ditulis oleh Syekh Abu Zur'ah Ad-Dimasyqi (w. 281 H). Pengarangnya bernama lengkap Abdurrahman bin Amr bin Abdillah An-Nashri Ad-Dimasyqi. Beliau lahir sebelum tahun 200 H. Kitab ini berisi para ulama yang pernah menjabat kadi di Palestina.

4. Fadha'il Bait Al-Maqdis (Keutamaan-Keutamaan Baitul Maqdis)

Kitab ini ditulis oleh Syekh Abul Abbas Ar-Ramli. Pengarangnya bernama lengkap Al-Walid bin Hammad bin Jabir Ar-Ramli. Beliau wafat di akhir abad ke-3 H. Beliau merupakan salah satu guru Imam Ath-Thabarani (w. 360 H) dan Syekh Abu Ahmad bin 'Adiy (w. 365 H).

Biografi

Sepilihan riwayat hidup para tokoh dapat teman-teman temukan

di sini

5. Asy-Syuruth Al-'Umariyyah (Persyaratan-Persyaratan Sayidina Umar)

Kitab ini dikenal juga dengan nama Syuruth Umar bin Al-Khaththab 'ala An-Nashara. Pengarangnya adalah Syekh Abu Muhammad Ar-Rab'i (255-329 H). Jika melihat judulnya, kitab ini berisi dokumen perjanjian antara Sayidina Umar dengan orang-orang Nasrani terkait Al-Quds.

6. Shifat Bait Al-Maqdis (Deskripsi-Deskripsi Baitul Maqdis)

Kitab ini ditulis oleh Syekh Husain bin Ahmad Al-Mahlabi (w. 380 H). Sebagaimana terlihat pada judul, kitab ini berisi deskripsi Baitul Maqdis. Al-Mahlabi menulis kitab ini untuk penguasa Dinasti Fatimiyyah Al-'Aziz Billah (w. 386 H).

7. Fadhu 'Asqalan (Keutamaan Kota Ashkelon)

Kitab ini ditulis oleh Syekh Abu Muhammad Al-'Asqalani. Beliau bernama lengkap Abu Muhammad Ahmad bin Muhammad bin Ubaid bin Adam Al-'Asqalani. Jika melihat judulnya, kitab ini berisi keutamaan Kota Ashkelon. Pengarangnya wafat di akhir abad ke-4 H.

8. Akhbar Baitil Maqdis (Berita-berita Baitul Maqdis)

Kitab ini ditulis oleh Syekh Ahmad bin Khalaf bin Muhammad As-Sibhi. Kitab ini berisi tentang Baitul Maqdis. Pengarangnya wafat di akhir abad ke-4 H.

9. Tarikh Baitil Maqdis wa Fadhailuhu (Sejarah Baitul Maqdis dan Keutamaannya)

Kitab ini ditulis oleh Syekh Makki bin Abdissalam bin Al-Husain Asy-Syafi'i Al-Maqdisi Ar-Rumaili (432-492 H). Dari redaksi judulnya, kitab ini berisi tentang sejarah Baitul Maqdis dan keutamaannya. Ini merupakan salah satu kitab yang membahas Baitul Maqdis yang ditulis di abad 5 H. Pengarangnya merupakan salah satu orang yang ditawan oleh tentara Salib. Kemudian beliau dibunuh oleh mereka di depan gerbang Kota Antakya (sekarang wilayah Turki).

10. Fadhlu Ziyarat Al-Khalil (Keutamaan Mengunjungi Kota Al-Khalil)

Kitab ini ditulis oleh Syekh Makki bin Abdissalam bin Al-Husain Asy-Syafi'i Al-Maqdisi Ar-Rumaili (w. 492 H). Jika melihat judulnya, kitab ini berisi keutamaan mengunjungi kota Al-Khalil. Tentu yang dibahas pasti lebih luas dari judul tersebut. Pengarangnya adalah pengarang kitab Tarikh Baitil Maqdis wa Fadhailuhu yang baru disebut di atas.

Demikian 10 kitab yang berbicara tentang Palestina, Al-Quds, dan Al-Aqsha. Semuanya ditulis di rentang abad 3 H sampai abad 5 H. Hal ini membuktikan bahwa umat Islam sejak dulu telah menaruh perhatian terhadap wilayah tersebut. Semoga data kitab ini bisa menjawab tuduhan dari JDL maupun klaim dari para orientalis di atas.

Sebenarnya masih banyak kitab-kitab yang bertema Al-Aqsha, Al-Quds, dan Palestina yang belum disebut di sini. 10 kitab ini hanya sebagai contoh sejumlah kitab yang ditulis sebelum kedatangan tentara Salib ke dunia Arab.

Selain kitab yang telah disebut di atas pun ada kitab khusus yang menghimpun daftar kitab yang bertema sama. Kitab ini berjudul Mu'jam Ma Ullifa fi Fadhail wa Tarikh Al-Masjid Al-Aqsha wa Al-Quds wa Filasthin wa Muduniha karya Syihabullah Bahadur. Dalam Bahasa Indonesia, nama kitab ini bisa diterjemahkan menjadi "Bibliografi kitab-kitab yang ditulis untuk menjelaskan keutamaan dan sejarah Al-Masjid Al-Aqsha, Al-Quds, Palestina, dan Kota-kota di dalamnya".

Jika ingin menemukan data kitab yang lebih meluas, kita bisa merujuk ke kitab bibliografi karya Syihabullah Bahadur ini. Di dalamnya terdapat sekitar 220 judul kitab bertema Paletina, Al-Quds, dan Al-Aqsha yang tersebar di berbagai perpustakaan di dunia. Sebagian judul kitab yang terhimpun itu sudah terbit dan sebagiannya lagi masih berbentuk manuskrip. Kitab karya Syihabullah Bahadur diluncurkan pada 2009 M dalam pengokohan Kota Al-Quds sebagai Ibu Kota Kebudayaan Islam.

Semoga bermanfaat!


💡
Baca juga artikel lain di rubrik MOZAIK atau tulisan menarik Munawar Ahmad