3 Risalah Warisan Syekh Tsu’ailib: Doa, Selawat, dan Tajwid dalam Satu Buku
Dalam sanad keilmuan ulama mutaakhirin, nama Syekh Ibrahim As-Saqqa (w. 1298 H) adalah salah satu sosok yang senantiasa muncul dalam rantai silsilah keilmuan umat Islam hari ini. Jika ditelusuri lebih jauh, banyak sekali sanad As-Saqqa yang bersambung kepada gurunya, Syekh Tsu’ailib Al-Fasyni (w. 1236 H). Sosok yang sangat membekas dalam perjalanan keilmuan As-Saqqa. Bahkan, saking dekatnya hubungan mereka, As-Saqqa ingin dimakamkan di samping sang guru ketika wafat.
Biografi Syekh Tsu’ailib Al-Fasyni sendiri pernah saya tulis beberapa tahun silam di rubrik BIOGRAFI Tawazun ID, di sini. Meski dikenal luas pada masanya, riwayat hidupnya yang tersedia relatif minim. Dalam tulisan tersebut, saya mencoba melengkapinya dari beragam sumber dan referensi.
Karya-karyanya pun tidak mendapatkan kemasyhuran pada masa kini. Banyak dari risalahnya hanya tersimpan dalam bentuk manuskrip dan belum pernah dicetak. Namun, cerita ini berubah sejak Pameran Buku Internasional Kairo (PBIK) pada Januari 2025 lalu. Semua karya tulis beliau akhirnya diterbitkan sekaligus dalam sebuah buku berjudul Majmu’ Rasa'il Al-‘Allamah Tsu’ailib Al-Fasyni (Kumpulan Risalah Alamah Tsu’ailib Al-Fasyni). Terbitnya buku ini memungkinkan generasi hari ini, khususnya para pelajar, untuk mengakses seluruh warisan keilmuan sang wali nan alim.
Di balik penerbitan ini, terdapat sosok penting yang berperan besar: Syekh Prof. Dr. Muhammad Abduddaim Al-Jundi Al-Ja’fari, Sekjen Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah (Lembaga Riset Islam) di Al-Azhar. Dalam pengantar bukunya, beliau menyebut karya-karya Syekh Tsu’ailib sebagai pancaran mahabbah seorang waliyullah kepada Allah ﷻ. Tak heran jika isinya dipenuhi nuansa istighfar, istighatsah, doa, dan selawat kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ.
1) Istighfarat wa Istighatsat wa Adʿ’iyah
Risalah pertama memuat nazam-nazam istighfar, istighatsah, dan doa, ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami dan dihafalkan.
Dalam salah satu catatan kaki yang ditulis oleh cucu Syekh Ibrahim As-Saqqa, yaitu Syekh Hasan Rajab As-Saqqa, disebutkan bahwa:
“Sebab ditulisnya istighatsah ini karena saat itu aku sedang dilanda waswas dan kesempitan. Aku pun mengadu kepadanya. Lalu ia menulis nazam istighatsah ini dan menyuruhku membacanya. Aku membacanya secara kontinu selama seminggu. Maka Allah pun mengangkat semua kegelisahanku kala itu.”
Dari sini, kita bisa meneladan pengalaman spiritual ini, khususnya saat mengalami kesempitan atau keresahan hati, dengan membaca salah satu bab dalam nazam yang disebutkan:
Ampunilah dosaku, wahai Harapan-ku, dengan karunia-Mu.
Penuhilah hatiku dengan cinta-Mu, dan sibukkan aku hanya dengan-Mu.
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di sini2) Shalawāt ‘Alā Asyraf Al-Makhluqat
Risalah kedua ini memuat 33 selawat kepada Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Jika dicermati, selawat-selawat ini bukan hanya bentuk zikir, tetapi juga doa dan istighatsah kepada Allah melalui perantara selawat kepada Nabi.
Banyak ulama menyebut bahwa selawat kepada Nabi ﷺ termasuk amalan yang tidak tertolak, bahkan ketika dibaca dengan niat yang kurang lurus seperti riya atau ujub. Karena itu, para ulama kerap menyarankan memulai doa dengan selawat.
※ Menelaah Selawat dan Puji-pujian untuk Nabi
3) Risalah fi At-Tajwid
Risalah ketiga membahas secara mendalam salah satu topik dalam ilmu tajwid: berapa sebenarnya harakat Mad Thabi’i—dua, tiga, atau hingga enam harakat? Apakah ketentuan itu bersifat tahdid (baku) atau taqrib (perkiraan)? Jika baku, apakah mereka yang memendekkan bacaan telah menyalahi aturan bacaan Al-Quran? Jika perkiraan, bagaimana kaidahnya?
Semua pertanyaan tersebut dijawab dalam risalah ketiga ini dengan pendekatan ilmu tajwid yang argumentatif dan runut.
Setelah membaca ketiga risalah ini, saya berpendapat bahwa karya-karya ini layak hadir di rak buku setiap pembaca muslim. Terlebih dua risalah pertama dapat dijadikan wirid harian, dan kini telah diterbitkan dalam bentuk cetakan, bukan lagi sekadar manuskrip kuno yang sulit diakses. Inilah momen menghidupkan kembali khazanah spiritual dan keilmuan Syekh Tsu’ailib Al-Fasyni di tengah generasi yang haus akan warisan yang jernih dan bermakna.