5 Hakikat Merdeka dalam Islam

Tepat pada 17 Agustus 2025, kita masyarakat Indonesia memperingati momen kemerdekaan yang ke-80. Ada banyak makna dan refleksi yang dapat kita gali pada saat momen kemerdekaan bangsa Indonesia. Seperti refleksi perjuangan, jati diri bangsa dan apa hakikat dari kemerdekaan itu sendiri. Dalam Islam, kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai kemerdekaan semata dari penjajah, melainkan dari dalam diri manusia terlebih dahulu; yaitu merdeka dari segenap belenggu nafsu dan dunia. Berikut lima makna Merdeka menurut Islam yang dapat kita refleksikan:

1.        Merdeka dari Perbudakan Nafsu

Dalam Islam, kemerdekaan sejati dimulai dari dalam; bebas dari perbudakan nafsu. Islam mengajarkan bahwa seseorang yang dapat mengendalikan nafsunya, hakikatnya ialah orang yang merdeka. Sebagaimana dalam firman Allah:  “Adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka surgalah tempat tinggalnya.” (Surah An-Nazi’at: 40–41).

Oleh sebab itu tak ada artinya kemerdekaan suatu bangsa jika manusianya masih dikendalikan oleh nafsu sifat amarah, kerakusan dan kebencian. Merdeka yang dimulai dari diri akan melahirkan kemerdekaan yang secara kolektif.

2.         Kemerdekaan Bermuara pada Ketundukan.

Bagi seorang muslim, merdeka bukan berarti hidup bebas tanpa arah. Justru kemerdekaan  dan kebebasan hakiki saat kita memilih untuk hanya tunduk kepada Allah SWT. Sebab dengan tunduk kepada Allah, itu berarti kita terbebas dari belenggu segala sesuatu selain-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Celaka hamba dinar, celaka hamba dirham, celaka hamba kain sutra.” (HR. Al-Bukhari). Hadits tersebut melambangkan bagaimana dunia mengendalikan manusia. Dengan hanya tunduk kepada Allah, kita akan terlepas dari belenggu makhluk, uang, atau kekuasaan yang menyesatkan.

Rasulullah

Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan

di sini

3.         Spirit Perubahan (Hijrah dari Gelap Menuju Terang)

Kemerdekaan ruhani adalah ketika ilmu dapat membebaskan seseorang dari kebodohan. Seorang muslim seyogyanya membebaskan akalnya dari belenggu kebodohan dan pemikiran yang sempit. Allah menggambarkan: “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.” (Surah Al-Baqarah: 257). Oleh sebab itu aktivitas membaca, belajar, dan merenung  bagi seorang muslim bukan sekadar hak, tapi kebutuhan untuk membebaskan pikiran dari belenggu kesempitan pandang.

4.         Adil dalam Hati (spiritual) dan Negara

Dalam Islam terdapat korelasi antara kondisi spiritual (hati) dan sosial (negara). Sebuah negeri takkan merdeka saat hati mereka belum merdeka dari sifat iri, tamak, dan zalim. Imam Al-Ghazali mengajarkan keseimbangan antara dua hal; hak Allah dan hak manusia. Begitu pula kerajaan hati dan kerajaan dunia. Rasulullah ﷺ bersabda: “Takutlah kepada kezaliman, karena kezaliman itu kegelapan pada hari kiamat.”(HR. Muslim). Jika hati sudah adil, maka hukum di bumi akan ikut tegak.

5.         Mewujudkan Kemerdekaan dalam Bentuk Praktik Nyata

Kemerdekaan adalah pintu yang menjadi awal perjuangan, bukan tujuan akhir. Ia harus diisi dengan aktiftas yang menumbuhkan perjuangan, sebagaimana petani menanam setelah tanahnya dibebaskan dari banjir. Allah mengingatkan:

“Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin...” (Surah At-Taubah:105).

Sebab merdeka tanpa pembuktian dalam kehidupan nyata hanyalah ladang kosong yang menunggu kembali ditumbuhi ilalang.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik MOZAIK atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim