5 Karya Anggitan Imam Al-Bajuri dalam Jagat Maulid
Setiap tahunnya, umat Islam di seluruh dunia akan berpapasan dengan bulan Rabiulawal. Bulan di mana Nabi Muhammad SAW, sosok terbaik di seluruh jagat raya dilahirkan. Selain hari besar Islam lainnya, bulan ini juga menjadi hari besar bagi umat Islam, di mana pada bulan ini banyak umat Islam merayakan Maulid Nabi dengan berbagai tradisi dan budaya masing-masing, sesuai dengan syariat dan norma Islam.
Tradisi ini mengakar kuat di berbagai belahan dunia Islam. Bukan hanya sekadar mengenang kelahiran manusia agung yang membawa risalah ilahi, Maulid Nabi juga menjadi wadah bagi umat Islam untuk meneguhkan kembali cinta, penghormatan, dan penghayatan mendalam terhadap sosok Nabi yang tidak hanya membawa wahyu Tuhan, tetapi juga menjadi teladan sempurna dalam setiap aspek kehidupan.
Dalam mengekspresikan tradisi ini, para ulama memainkan peran penting dalam menjaga dan mengembangkan khazanah peringatan Maulid, baik melalui ihtifal, kajian umum, hingga membuat banyak karya tulis seputar sirah Nabi SAW, sifat dan pribadinya (syamā'il), syair dan pujian, serta khidmah karya tulis lainnya. Saking banyaknya karya tersebut, bahkan ada beberapa ulama yang sampai menulis buku bibliografi seputar nama-nama buku yang ditulis seputar Nabi SAW. Sebut saja seperti Al-Kattani dalam At-Ta'ālīf Al-Maulidiyyah fī At-Ta’rīf bi Mā Ufrida bi At-Tashnīf fī Al-Maulid Asy-Syarīf dan Al-Munajjid dalam Mu’jam Mā Ullifa ‘an Rasūlillāh.
Saking agungnya sosok yang diceritakan ini, banyak para ulama yang menulis karya seputar Baginda Nabi Muhammad SAW beberapa kali. Salah satunya adalah Syekh Burhanuddin Ibrahim Al-Bajuri (1198-1277 H). Sosok yang pernah menjabat sebagai Imam Akbar Al-Azhar ini mengekspresikan kecintaannya tak hanya melalui lisan, namun juga tinta. Tak tanggung-tanggung, ia sendiri memiliki 5 karya tulis berkenaan dengan Nabi Muhammad SAW. Bukan hanya sekadar untaian sejarah, namun terdapat banyak sisi ilmiah di dalam tiap karya tersebut, yang mampu memperdalam pemahaman pembaca melalui sisi ilmiah. Berikut adalah lima karya tersebut:
1. Tuẖfah Al-Basyar ‘alā Maulid Ibn Hajar
Kitab ini adalah kitab maulid pertama yang Imam Al-Bajuri tulis. Dalam mukadimah kitab ini disebutkan mengenai sebab ia membuat syarah ini, yaitu banyaknya usulan dan pertanyaan yang datang kepadanya supaya ia menulis syarah atas Maulid Ibnu Hajar Al-Haitami. Lalu hal berupa usulan ini menjadi dirasa wajib kala gurunya, Syekh Muhammad Al-Fadhali Asy-Syafi’i juga turut meminta muridnya menuliskan syarah maulid ini. Ia pun akhirnya mulai menulis dan menyelesaikannya pada tahun 1225 H (1810 M), kala berusia 27 tahun.
Perlu diketahui, bahwa apa yang di-syarah oleh Imam Al-Bajuri adalah khatimah dari kitab Maulid Ibnu Hajar yang berjudul An-Ni’mah Al-Kubrā ‘alā Al-‘Alam bi Maulid Sayyid Walad Adam. Hal ini dikarenakan maulid Ibnu Hajar tidak bisa dibaca dalam satu majelis maulid, maka banyak para ulama setelahnya yang men-syarah bagian akhir dari maulid ini. Bahkan, Sayid Muhammad Abu Bakar Badzib sampai menghitung jumlah ulama yang men-syarah mukhtashar ini sebanyak 20 ulama. Salah satunya Syekh Al-Bajuri.
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di sini2. Hāsyiyah ‘alā Maulid Al-Basyīr An-Nadzīr
Pada tahun 1227 H (1812 M), di usia 29 tahun, dua tahun setelah menulis syarah atas Maulid Ibnu Hajar, Imam Al-Bajuri kembali diminta untuk menuliskan syarah atas Maulid Syekh Ahmad Ad-Dardir berjudul Maulid Al-Basyīr An-Nadzīr. Hasyiah ini sendiri tidak mempunyai judul. Karena itu, antar cetakan terkadang menamainya dengan nama yang berbeda-beda. Namun yang jelas, kitab ini adalah hasyiah atas matan, tanpa ada syarah sebelumnya sebagaimana juga ditemukan di beberapa kitab Imam Al-Bajuri yang lain.
3. Hāsyiyah ‘alā Al-Burdah
Ketika sebelum-sebelumnya Imam Al-Bajuri menulis syarah dan hasyiah tulisan naratif (natsar), maka pada tahun 1229 H (1814 M), di usia 31 tahun, ia selesai menuliskan hasyiah atas nazam Al-Burdah karya Imam Al-Bushiri. Dalam mukadimahnya ia menyebutkan sebab ditulisnya hasyiah ini, yaitu karena permintaan dari para sahabat. Dari mukadimah ini pula, kita dapat menyimpulkan bahwa ia menulis hasyiah, bukan syarah, mengingat sebagian percetakan lama maupun baru ada yang menuliskan sampul kitab ini dengan sebutan syarah, bukan hasyiah. Bahkan, ada pula yang meringkas hasyiah ini, tapi tanpa adanya isyarat dalam mukadimah penerbit. Karena itu, perlu adanya peringatan ini.
4. Hāsyiyah ‘alā Bānat Su’ād
Kitab maulid selanjutnya yang ditulis oleh Imam Al-Bajuri adalah sebuah hasyiah atas Qashīdah Bānat Su’ād yang ditulis oleh Sahabat Nabi Muhammad SAW bernama Ka’b bin Zuhair. Hasyiah ini selesai ia tulis pada tahun 1234 H (1818 M), kala berusia 35 tahun. Hasyiah ini telah beberapa kali dicetak. Ada yang menamainya Hāsyiyah Al-Is’ād ‘alā Bānat Su’ād, ada Al-Is’ād bi Syarẖ Qashīdah Bānat Su’ād, dan masih banyak lagi.
Terlepas dari itu semua, Imam Al-Bajuri tidak menamainya dengan Al-Is’ad. Kemudian, ini adalah hasyiah atas qashidah Sahabat Ka’b bin Zuhair (hasyiah atas nazam), karena sejumlah percetakan lawas mencetak hasyiah ini berbarengan dengan syarah Ibnu Hisyam Al-Anshari dalam satu kitab. Imbasnya, jika tidak teliti, seolah-oleh Imam Al-Bajuri sedang menulis hasyiah atas syarah Ibnu Hisyam yang men-syarah Qashīdah Bānat Su’ād.
※ Di Balik Nama Qashidah Burdah dan Bur'ah
5. Al-Māwahib Al-Ladunniyyah ‘alā Asy-Syamā'il Al-Muẖammadiyyah
Ini adalah karya terakhir Imam Al-Bajuri seputar maulid Nabi SAW. Sebuah syarah atas kitab Asy-Syamā'il karya Imam At-Tirmidzi. Kitab ini selesai ia tulis pada tahun 1251 H (1835 M) kala berusia 53 tahun. Di umur yang terbilang sepuh ini, karya maulidnya berbeda dengan karya-karya sebelumnya, kepakarannya ia tampakkan dalam berbagai bidang, baik nahwu, sharaf, balaghah, ilmu logika, tauhid, tafsir, hingga hadits. Hal ini bisa dilihat saat kita membacanya dari awal hingga akhir.
Namun perlu diketahui, selain Al-Māwahib Al-Ladunniyyah karya Syekh Al-Bajuri, di sana juga terdapat kitab maulid dengan nama yang sama, yaitu Al-Māwahib Al-Ladunniyyah karya Syihabuddin Al-Qasthallani. Bedanya, yang pertama adalah sebuah syarah, yang kedua adalah matan.
Inilah lima sumbangsih Imam Al-Bajuri dalam menghidupkan Baginda Nabi Muhammad SAW di tengah-tengah lingkungan Al-Azhar, yang hingga hari ini, semua karya tulis ini terus dibaca dan dipelajari dari masa ke masa, khususnya pada bulan Maulid Nabi. Mengingat tahun ini tepat 15 abad pasca kelahiran Baginda Nabi, mari kita peringati salah satunya dengan membaca karya sosok Imam Akbar yang dikenal dekat dengan para santri Nusantara di Al-Azhar ini.