5 Tips Al-Quran dan Sunnah untuk Mendidik Anak Gen-Z agar Tangguh dan Berakhlak

Di tengah tantangan era digital yang serba cepat dan kompleks, mendidik anak—terutama generasi Z—menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dan pendidik. Generasi yang tumbuh dengan teknologi ini sering kali dihadapkan pada krisis identitas, lemahnya ketahanan mental, dan minimnya figur teladan yang bisa dijadikan panutan. Dalam kondisi seperti ini, Al-Quran hadir bukan hanya sebagai kitab suci, tetapi juga sebagai panduan mendalam dalam membentuk karakter dan nilai hidup anak. Artikel ini merangkum lima prinsip Qurani yang relevan dan praktis untuk membantu orang tua mendidik anak Gen-Z agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, berakhlak, dan berdaya saing.

Dalam tulisannya yang dimuat Majalah Al-Azhar (edisi April 2025) dengan judul “Bina' Al-Insan Al-Mu’ashir fi Dhau' Al-Qur'an wa As-Sunnah Al-Qudwah Namudzajan”, Dr. Mahrus Ramadhan menjelaskan bagaimana Al-Quran dan sunnah memandang pendidikan anak. Menurutnya, Al-Quran amat memperhatikan tema manusia (Bina' Al-Insan) lebih dari perhatiannya pada tema-tema yang lain. Bahkan lebih dari separuh kandungan Al-Quran membahas terkait manusia, berupa ahwal syakhsiyah, muamalah, jinayah, dsb. Hal yang  menunjukkan perhatian besar syariat Islam terhadap manusia terlepas dari agama, kebangsaan, suku, dan rasnya.

Menurut Dr. Mahrus, pendidikan generasi muda harus didasarkan pada “Al-Qudwah Al-Hasanah” atau “teladan yang baik”. Terutama di tengah tantangan perubahan zaman, teladan yang baik adalah inti dari bagaimana mengubah dan mengajak generasi muda untuk berkarakter dan berperilaku baik. Terdapat lima tips yang beliau sampaikan dalam menerapkan metode “teladan yang baik” dalam mendidik anak:

I. Menjadikan sabar sebagai bentuk “ketahanan mental”

Menurutnya, kita perlu mengajarkan bahwa sabar merupakan salah satu karakter dan sifat mulia para nabi—khususnya para nabi Ulul Azmi— yang amat ditekankan Al-Quran. Sabar merupakan pendidikan ilahi (Tarbiyah Rabbaniyah) yang melaluinya, Allah mengangkat derajat para nabi. Sebagaimana saat Nabi Muhammad SAW tengah menghadapi cobaan dan gangguan dari kaumnya yang amat berat, Allah seketika memerintahkannya bersabar,

﴿ فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَّهُمْۗ ﴾ [سورة الأحقاف: ٣٥]

Artinya: "Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) sebagaimana ululazmi (orang-orang yang memiliki keteguhan hati) dari kalangan para rasul telah bersabar dan janganlah meminta agar azab disegerakan untuk mereka." (Surah Al-Ahqaf ayat 35).

Sabar juga merupakan ciri dari seseorang yang sudah dewasa dan matang pemikirannya.

Dengan pemahaman bahwa kehidupan ini pasti dipenuhi dengan problematika dan cobaan, Gen-Z akan memiliki ketahanan mental melalui kenyataan dan permasalahan hidup. Sebaliknya, ia akan bisa menjauhi pola pikir overthinking, toxic, dan mudah stres ketika menghadapi kegagalan dan situasi tidak mengenakkan.

II. Pendidikan teladan yang baik

Ketika berinteraksi dengan anak di dalam rumah sehari-hari, kita menghadirkan pada mereka nilai-nilai luhur berupa: kebaikan, kejujuran, kesopanan yang mudah ditiru dan diterima oleh akal mereka sebagai pembelajaran orang tuanya.

Anak-anak kecil tidak mengerti secara teori, akan tetapi mudah memahami dalam praktik-praktik konkret. Hal ini sebagaimana pesan ‘Amr bin ‘Utbah, “Hendaklah cara mendidik mereka itu sama dengan cara mendidik dirimu sendiri. Sebab penglihatan mereka itu terikat pada penglihatanmu. Kebaikan menurut mereka adalah apa yang engkau lakukan. Keburukan menurut mereka itu adalah apa yang engkau tinggalkan.” Oleh sebab itu, tidak ada pendidikan terbaik kecuali dengan memberikan teladan yang baik pada anak-anak. Mereka akan dengan mudah meniru dan menerimanya sebagai pegangan hidupnya.

III. Memilih guru yang otoritatif

Memilih guru yang tepat untuk mengajarkan anak, termasuk memilih lembaga pendidikan yang tepat, adalah hal yang amat fundamental dan menentukan dalam pembentukan anak. Mengingat anak di masa perkembangan dan pertumbuhan amat rentan menerima pendidikan dan pembelajaran yang salah.

Rasulullah SAW juga memilih secara hati-hati siapa sahabat yang pantas dan tepat dalam mendidik kaum muslim. Beliau—sebagaimana dalam sebuah riwayat—memilih Mush’ab bin ‘Umair yang diutus ke Madinah agar mengajarkan Al-Quran dan agama terhadap penduduk Madinah. Terlihat kemudian Mush’ab sukses menyebarkan Islam di sana. Begitu juga Rasulullah memilih Mu’adz bin Jabal untuk diutus menyebarkan Islam di Yaman. Mu’adz juga sukses menjadi suri teladan yang dirujuk bagi para penduduk Yaman. Oleh sebab itu, di sini kita memahami betapa pentingnya guru dan pendidik yang bisa menjadi suri teladan yang ditiru oleh para muridnya.

Biografi

Sepilihan riwayat hidup para tokoh dapat teman-teman temukan

di sini

IV. Mencarikan figur yang baik untuk ditiru dalam berbagai bidang dalam kehidupan

Dr. Mahrus mengutip apa yang disabdakan Nabi Muhammad SAW; “Tajidunan nasa ka ibilin miatin, layajiduna ar-rajulu fiha rahilatan” artinya, “Suatu saat engkau akan melihat manusia seperti unta sejumlah seratus, di mana seseorang tidak menemukan pada unta-unta tersebut (yang layak) ditunggangi” (HR Muslim). Maksud dari hadits ini adalah akan ada suatu zaman di mana terjadi krisis figur yang baik. Semua manusia cenderung sama mengikuti arus zaman. Demikianlah gambaran arus media sosial hari ini yang bebas dan rentan menjerumuskan anak ke arah kerusakan dan pergaulan negatif seperti: penyakit overthinking, mental lemah, kecanduan judi online, dan penyakit-penyakit kejiwaan lainnya.

Oleh sebab itu, kita perlu menunjukkan pada mereka siapakah figur yang bisa dijadikan contoh bagi anak dalam beragama, dalam hidup, dalam bergaul, dan sebagainya.

V. Mulailah dari diri sendiri (Dakwah bil Hal)

Dr. Mahrus kemudian menyebut di akhir dan mengajak kita semua untuk menjadikan metode uswah hasanah sebagai pedoman hidup. Sebagaimana Islam adalah agama yang paripurna dalam menjadi asas pedoman hidup, begitu juga Islam mengajarkan metode uswah hasanah sebagai metode yang efektif dalam mendidik dan berdakwah. Sebagaimana Nabi Muhammad di masa hidupnya tidak hanya berdakwah saja, melainkan juga memberikan teladan. Bahkan saat perang beliau berada di garis paling depan.

Menurut Dr. Mahrus, pendidikan harus dimulai dari diri sendiri dengan menghadirkan keteladanan nyata dalam berbagai aspek kehidupan. Konsistensi antara ucapan dan perbuatan menjadi kunci utama dalam berdakwah dan mendidik. Jangan sampai ajakan kita tidak sejalan dengan tindakan, karena ketidaksesuaian semacam itu justru dapat meruntuhkan nilai-nilai Islam yang kita bangun—sebagaimana peringatan Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 44.

Kelima prinsip yang digali dari Al-Quran ini menunjukkan bahwa pendidikan anak, khususnya generasi Z, menuntut pendekatan yang tidak hanya rasional tetapi juga spiritual dan moral. Keteladanan, kesabaran, pemilihan guru yang tepat, serta keberanian untuk memulai dari diri sendiri adalah fondasi yang kuat dalam membentuk karakter anak di tengah arus zaman yang penuh tantangan. Dengan kembali merujuk pada nilai-nilai Al-Quran, kita dapat membimbing generasi muda menjadi pribadi yang tangguh, berakhlak, dan siap menghadapi dinamika kehidupan modern tanpa kehilangan arah dan makna.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik MOZAIK atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim