Adab Guru Menurut Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari (3): Etika Mengajar di Majelis Ilmu
Setelah membahas adab guru terhadap dirinya sendiri dan adab dalam membangun hubungan dengan murid, kini kita sampai pada bagian ketiga yang tak kalah penting: adab guru saat mengajar di majelis ilmu. Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitab Adab Al-‘Alim wa Al-Muta’allim memberikan panduan yang mendalam tentang bagaimana seorang guru menjaga keberkahan ilmu yang diajarkannya.
Berikut tujuh adab utama yang harus diperhatikan seorang guru saat mengajar:
1. Memulai dengan Kesucian dan Niat Ikhlas
Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya memulai kegiatan mengajar dalam keadaan suci, baik secara lahir maupun batin. Guru dianjurkan untuk berwudu sebelum mengajar, sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu. Selain itu, niat harus diluruskan hanya demi Allah SWT, bukan untuk mencari popularitas atau keuntungan duniawi.
2. Membaca Doa Sebelum Memulai
Setiap langkah mengajar hendaknya diawali dengan doa. Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari menyarankan guru untuk membaca doa khusus ketika meninggalkan rumah menuju majelis ilmu. Doa ini bertujuan memohon perlindungan dan keberkahan bagi ilmu yang akan disampaikan.
3. Menjaga Adab di Majelis Ilmu
Di majelis ilmu, guru harus menunjukkan sikap penuh hormat. Ia hendaknya duduk dengan tenang, menghindari gerakan yang tidak perlu, serta menjaga pandangan mata agar tetap fokus pada murid. Sikap ini menunjukkan keteladanan dan membantu menciptakan suasana belajar yang kondusif.
4. Mengajarkan Ilmu dengan Cara yang Mudah Dipahami
Penyampaian materi harus dilakukan dengan jelas, menggunakan bahasa yang sesuai dengan kemampuan murid. Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya menyesuaikan tingkat kesulitan materi dengan kemampuan murid agar pembelajaran menjadi efektif. Guru juga dianjurkan menggunakan contoh dan analogi untuk mempermudah pemahaman.
5. Mengakui Ketidaktahuan Jika Tidak Tahu Jawabannya
Seorang guru tidak boleh malu mengakui ketidaktahuannya jika tidak dapat menjawab pertanyaan murid. Syekh Muhammad Hasyim Asy’ari mengingatkan bahwa mengakui ketidaktahuan adalah bagian dari kejujuran dan bentuk penghormatan terhadap ilmu. Hal ini juga mengajarkan kepada murid pentingnya sikap rendah hati dalam menuntut ilmu.
Pengakuan seorang guru bahwa ia tidak tahu sama sekali tidak mengurangi
kehormatannya. Justru menurut Hadratusy-Syaikh, hal itu akan mengangkat derajatnya sebab secara tidak langsung memanifestasikan sifat rendah hatinya, loyalitas agamanya, ketakwaan dan kebersihan hatinya.
6. Berinteraksi dengan Murid Secara Adil
Guru harus bersikap adil dalam berinteraksi dengan murid. Tidak boleh ada perlakuan istimewa terhadap murid tertentu yang dapat menimbulkan kecemburuan. Keadilan dalam majelis ilmu mencerminkan sikap profesional dan menjaga suasana harmoni di antara murid.
7. Menutup Majelis dengan Doa
Setiap majelis ilmu sebaiknya diakhiri dengan doa kaffaratul majlis, sebagai bentuk permohonan ampun atas segala kekhilafan selama proses belajar mengajar. Doa ini juga menjadi penutup yang penuh keberkahan, sekaligus mengajarkan kepada murid pentingnya selalu kembali kepada Allah SWT dalam setiap aktivitas.
※ Khutbah Jumat Kekuatan Doa Bagi Orang Mukmin
Mengajar bukan hanya sekadar menyampaikan ilmu, tetapi juga menjaga adab dalam setiap prosesnya. Dengan mempraktikkan tujuh adab ini, guru dapat menjaga keberkahan ilmu dan menjadi teladan bagi muridnya. Panduan ini tidak hanya relevan bagi para pendidik formal, tetapi juga siapa saja yang mengajarkan ilmu, baik di keluarga, komunitas, maupun masyarakat.
Semoga nilai-nilai ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memuliakan ilmu dan menjunjung tinggi adab dalam mencarinya. Wallahu a’lam.