Al-Azhar Klarifikasi Seputar Pemberitaan Azh-Zhawahiri
TAWAZUN.ID — Hari ini (4/8/2022), Marshad Al-Azhar, Pusat Observasi Al-Azhar yang berfokus untuk memerangi gerakan ekstremisme meluncurkan berita klarifikasi mengenai Aiman Azh-Zhawahiri, pimpinan teroris Al-Qaeda yang terbunuh pada Selasa, 2 Agustus 2022 kemarin. Hal ini dilakukan karena setelah terbunuhnya Aiman Azh-Zhawahiri, banyak media yang membuat berita dan opini keliru bahwa Syekhul-Azhar Muhammad Al-Ahmadi Azh-Zhawahiri adalah paman dari Aiman. Ada juga yang menulisnya dengan kakek dari Aiman. Apalagi, hal ini juga dibumbui bahwa Al-Azhar dan keluarga guru besar Al-Azhar melahirkan para ekstremis dan teroris.
Dalam situs resminya, Marshad Al-Azhar mengklarifikasi hal tersebut dengan merujuk langsung kepada nasab dua orang tersebut. Nasab lengkap Aiman Azh-Zhawahiri adalah Aiman bin Muhammad bin Mushthafa bin Abdulkarim Azh-Zhawahiri. Sedangkan nasab Syekhul-Azhar Muhammad Al-Ahmadi Azh-Zhawahiri adalah Muhammad Al-Ahmadi bin Ibrahim bin Ibrahim Azh-Zhawahiri. Dari dua nasab ini saja sudah dapat dipastikan bahwa Syekhul-Azhar Muhammad Al-Ahmadi Azh-Zhawahiri bukanlah kakek, paman, maupun kerabat dekat Aiman Azh-Zhawahiri.
Dari rentang waktu lahir dan wafat mereka pun sudah jauh berbeda. Syekh Muhammad Al-Ahmadi Azh-Zhawahiri wafat pada tahun 1944 M dan Aiman Azh-Zhawahiri baru lahir pada tahun 1951 M. Alhasil, mereka berdua tidak ada kecocokan nasab dan tidak pernah bertemu, hanya dari marga yang sama saja. Jika tidak pernah bertemu, bagaimana mungkin Aiman Azh-Zhawahiri mewarisi aliran keras ini dari orang yang tak pernah ia temui?
Marshad Al-Azhar juga memberi gambaran mengenai marga Azh-Zhawahiri dengan perumpamaan marga Bani Hasyim. Meski Abu Lahab terlahir dan besar di dalam lingkungan yang sama dengan Abu Thalib, Hamzah, dan Al-‘Abbas, namun Abu Lahab tetap bersikeras dan berseteru dengan marganya. Namun, dengan adanya sosok Abu Lahab, bukan berarti marga Bani Hasyim juga memiliki sifat yang sama dengannya. Begitupun halnya dengan Aiman Azh-Zhawahiri.
Selain itu, Marshad Al-Azhar juga menampilkan sekilas biografi hidup Syekhul-Azhar Muhammad Al-Ahmadi Azh-Zhawahiri yang berakidah Al-Asy’ari, bermazhab Asy-Syafi’i, dan bertarekat Asy-Syadzuli. Begitu juga menampilkan sikap moderat beliau dalam perpolitikan dan pendidikan. Berbeda dengan Aiman Azh-Zhawahiri yang memang sudah lama bergabung dengan organisasi teroris dan berkecimpung dalam gerakan ekstremis. Ditambah lagi, kenyataan bahwa Aiman Azh-Zhawahiri tidak belajar agama, kemudian ia justru berbicara keras dan menulis banyak buku seputar hukum Islam.
Terakhir, Marshad Al-Azhar mengingatkan kepada para pemuda seputar hal-hal yang berbahaya, salah satunya adalah pertemanan. Seperti Aiman Azh-Zhawahiri yang berubah total setelah bertemu dengan Usamah bin Laden. Hal ini juga sesuai dengan apa yang disabdakan Baginda Nabi SAW 15 abad yang lalu, bahwa seseorang akan dilihat sesuai dengan perilaku sahabat karibnya.
Marshad Al-Azhar juga berwasiat agar dapat membedakan antara Syekh Muhammad Al-Ahmadi Azh-Zhawahiri, sosok yang mesti diikuti dan dijadikan pembelajaran baik untuk kehidupan, dengan Aiman Azh-Zhawahiri, seorang teroris yang membahayakan kehidupan dan mesti dijauhi, agar terhindar dari pengaruh buruk yang dilakukannya. (rul)