Al-Azhar Mengutuk Keras Ucapan Politikus India Penghina Nabi
TAWAZUN.ID — Berbagai upaya memperburuk citra Islam demi kepentingan politik tengah santer terjadi. Belakangan viral di media sosial politikus India dari partai Bharatiya Janatad bernama Nupur Sharma dan Delhi Naveen Kumar Jindal yang menghina Nabi dan Sayyidah Aisyah—terkait pernikahan dini. Sontak tindakan itu membuat geram dunia Islam serta memunculkan beragam reaksi dan kecaman dari banyak institusi keislaman dunia, di antaranya adalah Al-Azhar. Menurut Al-Azhar, upaya menjelek-jelekkan Nabi dan istrinya merupakan tanda kekejian dan ketidaktahuan dirinya akan ilmu perbandingan agama, khususnya sejarah para Nabi dan Rasul.
Melalui utas di akun Twitter resmi, Al-Azhar memberikan sikap resminya bahwa politikus tersebut telah sembrono dan menyalahi nilai-nilai humanisme. Dari ucapan politikus yang tidak wajar tersebut, terlihat bahwa ia adalah seorang yang dengki terhadap Islam dan umat Islam. Bahkan, sejatinya tindakan tersebut menurut Al-Azhar tidak lain adalah bentuk dari ekstremisme yang nyata. Tindakan yang akan menyebabkan dunia dalam krisis toleransi sehingga akan menjadi peperangan yang mematikan.
Oleh sebab itu, Al-Azhar mengimbau kepada seluruh masyarakat internasional— dengan segenap kekuatan dan keberanian— untuk turut menghadapi dan menghentikan tindakan-tindakan mereka, para pengacau kerukunan umat beragama. Pun juga kepada negara-negara dunia, Al-Azhar mengimbau untuk terus memantau mereka, para pedagang agama dan penghancur nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi di bursa pemilihan politik.
Terakhir, menurut Al-Azhar tindakan-tindakan para politikus belakangan yang menghina Islam dan kepada nabinya— yang suci nan terhormat, sebenarnya hanya rangkaian manuver politik identitas mereka untuk kepentingan pemenangan suara partai-partai menjelang pemilu. Untuk itu, mereka menghasut para pengikut secara emosional untuk benci terhadap umat Islam. Kenyataan tersebut, tidak lain, adalah ajakan ekstremis dan upaya penyebaran kebencian di tengah para pengikut agama yang plural. Sebuah ungkapan yang tidak akan muncul kecuali dari para provokator ekstremis, penyebar kebencian, dan fitnah yang sangat berbalikan dengan upaya dialog antar umat beragama, lintas peradaban, dan budaya yang berbeda-beda. (lhr)