TAWAZUN.ID — Al-Azhar menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al-Azhar, Kairo, Senin (24/8/2026) malam. Kegiatan yang berlangsung seusai salat Magrib itu digelar di bawah naungan Imam Akbar Al-Azhar Syekh Ahmad Ath-Thayyib dan dihadiri para ulama, pimpinan lembaga keagamaan, pejabat, serta para pelajar Al-Azhar.
Dalam kesempatan tersebut, mantan Rektor Universitas Al-Azhar Prof. Ibrahim Al-Hudhud menegaskan bahwa memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu bentuk rasa syukur atas nikmat besar berupa diutusnya Rasulullah kepada umat manusia.
Menurutnya, Allah telah memberikan anugerah kepada orang-orang beriman melalui pengutusan Nabi Muhammad SAW sekaligus menjadikan umat Islam sebagai umat yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Ia menjelaskan bahwa Al-Quran menggambarkan berbagai bentuk keistimewaan dan rahmat yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW, mulai dari kelembutan beliau terhadap orang-orang di sekitarnya, besarnya perhatian terhadap umat, hingga keinginan kuat agar manusia memperoleh petunjuk.
Semua itu, menurutnya, berpuncak pada firman Allah, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”
Syariat Nabi Membawa Rahmat bagi Seluruh Makhluk
Prof. Ibrahim Al-Hudhud mengatakan bahwa syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW merupakan rahmat yang mencakup seluruh aspek kehidupan.
Islam, menurutnya, tidak hanya mengatur hubungan antarmanusia, tetapi juga mengajarkan adab di jalan, menjaga pepohonan dan melarang perusakannya, serta memperhatikan kesejahteraan burung dan hewan.
Ia juga menyinggung ajaran Islam yang menjadikan tanaman yang dimakan burung sebagai sedekah bagi pemiliknya. Hal tersebut menunjukkan luasnya cakupan rahmat dalam syariat Nabi Muhammad SAW.
Mantan Rektor Universitas Al-Azhar itu kemudian menanggapi pandangan yang mempertanyakan kebolehan memperingati Maulid Nabi.
“Bagaimana mungkin kita tidak bergembira dengan kelahiran seseorang yang Allah berikan kepadanya anugerah terbesar dan menjadikannya sebagai rahmat bagi segala sesuatu?” ujarnya.
Menurut Al-Hudhud, kecintaan kepada Allah tidak dapat dilepaskan dari mengikuti dan mencintai Rasulullah SAW. Bahkan, kesempurnaan iman menuntut seorang muslim untuk mencintai Rasulullah melebihi dirinya, keluarganya, dan hartanya.
Perayaan Maulid sebagai Bentuk Syukur
Al-Hudhud menegaskan bahwa bergembira atas nikmat Allah merupakan sesuatu yang sesuai dengan fitrah manusia sekaligus bentuk syukur.
Ia memberikan perumpamaan bahwa manusia biasa bergembira atas kelahiran anak-anak mereka maupun memperingati hari-hari penting dalam sejarah bangsanya. Karena itu, menurutnya, kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad saw. memiliki alasan yang lebih kuat.
Ia juga menyinggung perdebatan mengenai dalil perayaan Maulid Nabi. Menurutnya, hukum asal dalam berbagai perkara adalah boleh.
Karena itu, ia berpandangan bahwa pihak yang melarang perayaan Maulid Nabi justru perlu menunjukkan dalil yang sahih dan tegas mengenai larangan tersebut.
Al-Hudhud kemudian mengajak umat Islam untuk memaknai kecintaan kepada Rasulullah SAW dengan memperbanyak rasa syukur dan mengingat kedudukan Nabi dalam kehidupan umat.
Pada akhir sambutannya, ia mengingatkan kedudukan Nabi Muhammad SAW pada hari kiamat sebagai pemilik syafaat bagi umatnya. Ia merujuk pada hadits dalam Shahih Muslim mengenai doa mustajab Rasulullah yang disimpan untuk memberikan syafaat kepada umatnya pada hari kiamat.
Ia kemudian berdoa agar Allah menjaga Mesir dan seluruh negeri kaum muslimin serta menganugerahkan keamanan dan kesejahteraan.
Peringatan Maulid Nabi tersebut turut dihadiri Wakilul-Azhar Syekh Aiman Abdulghani, Menteri Wakaf Mesir Prof. Usamah Al-Azhari, Rektor Universitas Al-Azhar Prof. Mahmud Shiddiq, mantan Mufti Mesir Prof. Syauqi Allam, serta sejumlah ulama dan pejabat Al-Azhar lainnya.