Al-Azhar: Perayaan Terbesar Maulid adalah Menjadikan Teladan Nabi sebagai Perilaku
TAWAZUN.ID — Al-Azhar menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al-Azhar, Kairo, Kamis (13/8/2026), dengan dihadiri para ulama, tokoh masyarakat, pelajar, dan masyarakat umum. Kegiatan tersebut diselenggarakan di bawah naungan Imam Akbar Al-Azhar Syekh Ahmad Ath-Thayyib.
Peringatan Maulid yang digelar bekerja sama dengan Radio Al-Quran Al-Karim itu mengusung tema Shiratuka Al-‘Athirah... Manhaj Hayah atau “Sirahmu yang Mulia, Pedoman Kehidupan”.
Sekretaris Jenderal Akademi Riset Islam Al-Azhar, Prof. Muhammad Al-Jundi, dalam sambutannya mengatakan bahwa memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW pada hakikatnya merupakan perayaan atas lahirnya rahmat yang diutus Allah bagi seluruh alam.
Ia merujuk pada firman Allah dalam Surah Al-Anbiya ayat 107, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”
Menurut Al-Jundi, Nabi Muhammad SAW mewujudkan rahmat tersebut melalui perkataan, perbuatan, dan interaksinya dengan sesama. Rasulullah menjadi rahmat bagi manusia, memberikan perhatian kepada kaum lemah, anak yatim, dan mereka yang membutuhkan, serta menjadi teladan dalam memaafkan, bersikap lembut, dan berbuat baik.
Ia menambahkan, kecintaan dan kerinduan kepada Rasulullah terus diperbarui dalam hati orang-orang beriman setiap kali mereka mengingat perjalanan hidup dan tuntunan beliau.
Rahmat Nabi Mencakup Seluruh Makhluk
Al-Jundi menegaskan bahwa rahmat yang diajarkan Nabi Muhammad SAW tidak terbatas kepada manusia, tetapi juga mencakup hewan dan seluruh makhluk.
Ia mencontohkan riwayat tentang seekor unta yang mengadukan perlakuan pemiliknya kepada Rasulullah. Nabi kemudian meminta sang pemilik memperlakukan hewan tersebut dengan baik seraya mengingatkannya untuk bertakwa kepada Allah dalam memperlakukan unta itu.
Menurut Al-Jundi, peristiwa tersebut menunjukkan keluasan rahmat Nabi sekaligus menegaskan bahwa kelembutan dan kebaikan bukan sekadar perilaku individual, melainkan bagian dari pedoman kehidupan yang diajarkan Islam.
Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, tidak berhenti sebagai ajaran, tetapi telah dicontohkan secara nyata oleh Rasulullah dalam memperlakukan seluruh makhluk.
Kecintaan kepada Nabi Harus Menjadi Perilaku
Al-Jundi juga menjelaskan bahwa hubungan seorang mukmin dengan Rasulullah tidak pernah terputus. Hubungan itu terus diperbarui melalui selawat dan salam kepada Nabi, mengingat tuntunan beliau, serta meneladan akhlak dan perjalanan hidupnya.
Ia mencontohkan bacaan seorang muslim dalam salat, “Assalamu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh,” sebagai salah satu bentuk kehadiran kecintaan kepada Nabi dalam kesadaran umat Islam.
Menurutnya, peringatan Maulid Nabi yang paling utama adalah ketika kecintaan kepada Rasulullah diwujudkan dalam perbuatan dan tuntunannya diterapkan dalam perilaku sehari-hari.
Pesan Nabi tentang rahmat, kelembutan, dan kebaikan, kata Al-Jundi, harus menjadi pedoman kehidupan sehingga sirah Rasulullah terus menjadi cahaya yang menuntun manusia kepada kebaikan serta menyatukan hati dalam nilai-nilai kasih sayang dan perdamaian.
Peringatan Maulid di Masjid Al-Azhar tersebut turut diisi dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran serta sejumlah lantunan doa dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Rangkaian tersebut menghadirkan suasana spiritual sekaligus mengekspresikan kecintaan dan kerinduan kepada Rasulullah.