Al-Azhar Siapkan 710 Utusan untuk 60 Negara
TAWAZUN.ID — Secara berkala tiap tahunnya, Al-Azhar melalui lembaga di bawah naungannya Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah (Akademi Riset Keislaman) mengirimkan para syekh yang diutus ke berbagai negara di dunia. Pengiriman para syekh yang terbagi menjadi beberapa kategori spesialisasi seperti da’wi (dakwah), syar’i (syariat), dan lughawi (kebahasaan) ini sudah berlangsung dari tahun ke tahun. Sebagaimana disebut dalam buku memoar Al-Azhar wa As-Siyasah, pengutusan para syekh ke luar negeri oleh Al-Azhar dengan misi dakwah dimulai di masa kepemimpinan Syekhul-Azhar Muhammad Al-Ahmadi Adz-Dzawahiri di tahun 1929-1935 M. Atas inisiatif pimpinan Al-Azhar dengan didukung oleh pemerintahan Mesir di masa Raja Fuad, Al-Azhar berhasil mengirim empat orang utusan yang dibagi untuk dua negara, ke Negeri Cina dan Ethiopia.
Sekretaris Jenderal Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah, Syekh Nadzir ‘Ayyad sebagaimana dikutip dalam berita Youm7 menyatakan bahwa untuk periode 2021/2022 ini proses seleksi melalui beberapa tahap. Sebanyak 8 ribu pendaftar yang terdiri dari para dai, guru, dan alumni di tahap pertama telah mengikuti ujian tertulis. Dari tahap pertama, 5 ribu berhasil lolos ke tahap selanjutnya, yakni ujian lisan yang mencakup sejumlah poin untuk memastikan kecakapan seorang syekh yang diutus seperti kebahasaan, dakwah, wawasan umum, dan fikih (syariat). Sebanyak 1700 peserta lolos di ujian lisan. Kemudian, mereka mengikuti tahap akhir seleksi, yakni interviu personal. Dari tahap inilah terdapat sebanyak 710 syekh pilihan Al-Azhar yang akan diutus di periode ini.
Sejumlah tahapan seleksi pun bukanlah akhir dari rangkaian pengiriman para utusan ini, 710 syekh yang namanya telah diumumkan oleh Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah (Akademi Riset Keislaman) dijadwalkan mengikuti rangkaian seminar persiapan selama sepekan dimulai pada 4 Oktober yang lalu. Mereka, selanjutnya, akan diutus sesuai permintaan resmi yang datang dari 60 negara yang mengirimkan surat ke Al-Azhar. Dari 60 negara, Al-Azhar mengalokasikan 30 negara di Afrika, 20 negara di Asia, 10 negara di Eropa dan Amerika. Waktu khidmah mereka pun beragam, dari yang paling singkat selama 1 tahun hingga yang paling lama 3 tahun. Kesemua gaji mereka ditanggung oleh Al-Azhar.
Koran resmi Al-Azhar yang terbit mingguan Shaut Al-Azhar (6/10) mewartakan salah satu sesi seminar yang diisi oleh para guru besar dan pimpinan Al-Azhar. Wakilul-Azhar Syekh Muhammad Adh-Dhuwaini, sebagaimana dilansir Shaut Al-Azhar, berpesan kepada segenap utusan terpilih agar mereka berperan aktif melawan disinformasi yang beredar serta mengampanyekan ajaran moderasi Islam yang menjadi risalah Al-Azhar. “Kalian adalah salah satu soft-power (al-quwa an-na’imah) yang dimiliki Mesir. Kalian mempunyai peran besar untuk tercapainya risalah Al-Azhar dengan konsepnya yang mengusung moderasi Islam.”, tegas Wakilul-Azhar Syekh Muhammad Adh-Dhuwaini, orang nomor dua di Al-Azhar. (hid)
Baca juga warta lain di rubrik AKHBAR atau pilih ragam tulisan di Tawazun