Bahaya Belajar Agama Islam Tanpa Guru
Banyak dari kalangan artis yang sudah berhijrah dan mendadak menjadi ustaz, seolah memahami banyak permasalahan agama sehingga berani mengeluarkan fatwa mengenai hukum syariat. Sementara sebagian pendakwah yang latar pendidikannya bukan santri yang belajar agama, tak mengenal bahasa Arab, dan berani menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dengan mengandalkan terjemahan saja. Sehingga pada akhirnya penjelasan mengenai teks keagamaan itu dipahami dan ditafsirkan oleh kehendak hawa nafsunya.
Padahal Al-Quran menurut Sayidina Ali bin Abi Thalib itu bersifat hamil al-awjuh, yakni bisa ditafsirkan ke arah mana saja; bagaimana, dan siapa yang membawanya.
Kendati demikian, seseorang yang tidak tahu ilmu-ilmu keislaman sudah tentu menafsiri ayat-ayat Al-Quran jauh dari kata benar. Toh mereka tidak menggunakan pendekatan penafsiran seperti yang dilakukan oleh para ulama dalam menafsirkannya. Dengan latar belakang seperti ini, penulis beranggapan bahwa hendaknya keinginan pemerintah mengenai sertifikasi ulama itu disepakati untuk menyortir individu yang bukan ulama.
Saya mengimani bahwa ilmu-ilmu keislaman tidak bisa dipelajari secara autodidak dengan mengandalkan pembacaan pada buku atau internet dan tanpa melewati sistematika pembelajaran secara intens kepada para alim ulama yang mumpuni dalam ilmu-ilmu keislaman serta bersanad hingga Rasulullah SAW. Kesalehan pribadi sang guru dan kesalehan sosialnya juga menjadi salah satu penyebab sang murid mendapatkan pembelajaran akhlak yang baik yang didapatkan dari sang guru.
Bukankah Rasul SAW mengajarkan agama ini kepada para Sahabatnya dengan intens, sedikit demi sedikit?
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di siniSahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq misalnya, orang yang pertama masuk Islam dan dekat dengan Baginda Rasul SAW saja tidak mungkin mengerti tata cara salat, yang kaifiyah atau tata caranya tidak dijelaskan dalam Al-Quran jika tanpa belajar kepada Rasulullah SAW. Rasul bersaba:
صلوا كما رأيتموني أصلي
"Salatlah kalian seperti mana kalian melihat saya salat"
Di dalam hadis ini saja, kita bisa menyimpulkan bahwa para sahabat pada saat bersama Rasul, mereka belajar secara langsung mengenai ilmu tentang ajaran agama Islam. Anehnya hari ini, karena sudah segala gampang, bisa diakses sebegitu mudah, banyak yang belajar agama secara autodidak dan instan yang justru lebih memberikan kemudaratan untuk pribadinya, bahkan menyesatkan bagi yangmendengarkannnya.
Karena lumrahnya umat Islam hari ini di Indonesia seperti demikian, sehingga sudah dipastikan ilmu-ilmu agama yang dipelajarinya pun tidak kokoh dan bisa saja terbawa arus. Maka, tidak sedikit dari mereka yang terjerumus saling mengkafirkan satu sama lain. Karena belajar agama hanya kepada buku dan mengandalkan internet tanpa belajar kepada para alim ulama yang keilmuannya kredibel dan sanad keilmuan agamanya sampai kepada Rasulullah SAW membuat pola berpikir dan cara beragama mereka cenderung tertutup; tidak open minded. Padahal seharusnya perbedaan adalah awal cara untuk saling mengenal.
Tentu berbeda, dengan orang yang belajar secara sistematis kepada para pewaris nabi, juga bersanad kepada Rasulullah SAW. Mereka justru mendapatkan spirit agama yang baik dan mengerti tentang agamanya. Tanpa memandang yang lain dengan pandangan yang salah.
Bahayanya belajar agama bukan kepada ahlinya
Islam adalah agama yang paripurna. Namun, karena dipahami oleh sebagian orang yang tidak mengambil ilmu agama dari ahlinya, teks-teks keagamaan pun salah paham dalam menafsirkannya. Ada juga sebagian kelompok yang memahami agama Islam sebatas simbolis semata. Mereka mendahulukan sunat-sunat Nabi yang bagian paling bawah, dan sebagian dari mereka menyalah-nyalahkan amaliah saudara seimannya, bahkan menganggap ajaran amaliahnya tidak islami.
Yang jadi pertanyaan besar, dari manakah mereka mengambil ilmu agama ini?
Kalau mereka mengambil ilmu Islam dari ulama, tak mungkin berdampak senegatif ini. Orang non-muslim cenderung melihat Islam bukan dari ajarannya melainkan dari perjalanan umat Islam. Ulama kita terdahulu menyuruh para pelajar mencari guru yang ahli di bidang ilmu keislaman. Yang kumpul dalam diri ulama itu; ilmu, amal, dan akhlak yang luhur.
Imam Asy-Syathibi mengatakan bahwa dari sebagian yang paling bermanfaat untuk jalan (metode) ilmu yang bisa mengantarkan hingga sampai pada tujuan tercapainya adalah mengambil ilmu dari ahlinya yang sudah mencapai pada kesempurnaan.
Ciri-ciri ulama yang bisa diambil ilmunya salah satunya adalah ulama yang mengamalkan ilmu yang sudah diketahuinya. Sehingga ucapannya sesuai dengan amal perbuatannnya. Dan jika perkataannya tidak sesuai dengan amalnya, maka ia bukan ahli untuk diambil ilmunya, dan tidak boleh diikuti keilmuannya. Juga harus memilih guru yang telah belajar dan telah dididik oleh para guru yang alim nan saleh dalam pengambilan ilmunya dari mereka. Dan guru-gurunya mengambil ilmu dari para gurunya, demikian seterusnya hingga sampai kepada Baginda Rasul SAW. Dalam arti sanad atau transmisi keilmuannya jelas. Telah duduk mulazamah (kontinu) lama kepada para guru-guru yang keilmuannya kredibel.
Pentingnya Sanad Keilmuan
Satu-satunya agama yang tidak terkena tahrif atau pemalsuan dalam ajarannya adalah agama Islam. Islam benar-benar agama yang dijaga langsung oleh Allah SWT. Para ulama pun menyepakati mengenai pentingnya sanad atau transmisi dalam keilmuan Islam dalam Islam. Sanad juga merupakan salah satu karakteristik dalam agama Islam, dan bagian penting dari agama.
Sanad mempunyai banyak faedah. Salah satunya menjaga agama dan membersihkan dari pemahaman keliru dan pemalsuan ajaran Islam dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Para guru di dalam ilmu-ilmu keislaman adalah bapak dalam agama. Ibnu Al-Mubarak mengatakan:
الإسناد من الدين لولا الإسناد لقال من شاء على ما شاء
"Sanad itu dari agama. Kalau tidak ada sanad pasti siapapun bisa berkata dengan apa yang dia kehendaki."
Para ulama di Al-Azhar sangat memperhatikan sekali mengenai sanad keilmuan agama Islam ini. Para santri Al-Azhar rela bertahun-tahun mempelajari satu kitab atau membaca Al-Quran kepada para syekh demi menadapatkan ilmu agama dan keberkahan para ulama rabbani yang telah dididik oleh para guru yang alim nan saleh.
Hal ini dikuatkan oleh hadis Rasulullah SAW.
يَحْمِلُ هَذَا اْلعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ، يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغَالِّيْنَ وَتَأْوِيْلَ الجَاهِلِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ.
"Ilmu agama (Islam) ini akan dibawa oleh orang-orang terpercaya dari setiap generasi. Mereka akan meluruskan penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, penakwilan orang-orang bodoh, dan pemalsuan orang-orang batil."
Wallahu A'lam.