Bangsa Barat adalah Bangsa yang Miskin

Di tengah arus globalisasi, banyak yang cenderung menjadikan Barat sebagai tolok ukur kebenaran, kemajuan, dan standar moral. Namun perspektif ini tidak selalu tepat. Peradaban Barat, seperti halnya peradaban lainnya, memiliki kelebihan dan keterbatasan, dan tidak pantas dijadikan ukuran mutlak bagi bangsa lain.

Syekh Ahmad Ath-Thayyib menegaskan bahwa bangsa Barat bukan standar untuk menentukan fakta atau kebenaran. Mereka bergerak di bawah slogan “bebas dari agama,” dan sering kali menilai sesuatu sebagai benar hanya berdasarkan konsensus sosial di tempat mereka. Ironisnya, hal yang sama jika datang dari tradisi atau agama lain, justru kerap dikritik hanya karena bersumber dari ajaran agama.

Dari sisi material, Barat memang mencapai kemajuan luar biasa. Teknologi, sains, dan eksperimen fisik telah mencapai puncak yang patut disyukuri. Penemuan-penemuan mereka telah memberikan manfaat besar bagi umat manusia.

Namun, dari aspek moral dan kebahagiaan manusia, peradaban ini justru tergolong miskin. Standar materi dan kemajuan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan, ketenangan hati, dan kualitas moral masyarakatnya. Hal ini menjadi pengingat bahwa kemajuan bukan hanya soal angka, alat, atau inovasi, tetapi juga kualitas jiwa dan nilai-nilai etika yang dijunjung.

Syekh Ahmad Ath-Thayyib menekankan, bangsa lain tidak perlu menjadikan Barat sebagai tolok ukur. Kearifan, moral, dan kebahagiaan sejati tidak bisa diukur hanya dengan pencapaian material; itu lahir dari nilai-nilai luhur, spiritualitas, dan etika yang membimbing kehidupan manusia.

VIDEO Syekh Ahmad Ath-Thayyib

💡
Simak terjemahan lain di kanal YouTube Tawazun ID dan Subscribe untuk mengikuti update terkini.