Belajar dari Kebiasaan Nabi Tersenyum

“Ketika hati seseorang diliputi sifat belas-kasih, akan tampak pengaruhnya dalam penampilannya—wajah yang berseri-seri, paras yang sumringah, senyum yang menampaikkan gigi, sebagaimana tampak perangai tersebut dalam interaksinya dengan makhluk—sebagai belas-kasih dan simpati atas mereka”
Syekh Muhammad Abdulfadhil Al-Qushi

Di samping tegas, Nabi Muhammad SAW dikenal begitu belas-kasih (ar-rahmah) dalam pribadi dan perangainya. Belas-kasih tersebut tampak pada pribadi Nabi Muhammad yang sering tersenyum dalam keseharian dan interaksi sosialnya. Inilah mengapa Islam bisa hadir meneduhkan dan membawa rahmat bagi semesta, karena Nabi mengajarkan nilai-nilai luhur belas-kasih yang dimulai kebiasaan tersenyum.

Tersenyum sebagai salah satu adab kenabian dijelaskan oleh Syekh Muhammad Abdulfadhil Al-Qushi dalam tulisannya di Majalah Al-Azhar “Min Al-Adab An-Nabawi, Adab At-Tabassum”, “Termasuk dari adab kenabian, adalah kebiasaan tersenyum”. Melalui ayat “Wama arsalnaka Illa Rahmatan Lil ‘Alamin”, menurut Syekh Muhammad Abdulfadhil, Nabi Muhammad SAW merupakan representasi dari nilai paling tinggi sifat kasih-sayang (Rahmatun Fauqa Rahmah) yang dimiliki umat manusia. Sehingga dawuh Syekh Muhammad Abdulfadhil, tidak ada manusia di dunia ini memiliki sifat kasih-sayang, berhati lembut, melebihi Nabi Muhammad SAW.

Nabi—sebagaimana pengakuan para sahabat—tidak pernah menampilkan wajah masam, merengut, alih-alih marah-marah. Mereka menyebut, “Aku tidak pernah melihat orang yang sering tersenyum selain pada sosok Nabi Muhammad” (HR Imam Ahmad). Selain tersenyum, terkadang Nabi juga tertawa ringan hingga tampak gigi gerahamnya. Kebiasaan tersenyum dan tertawa ringan itu mengekspresikan nilah kasih-sayang Nabi terhadap manusia yang begitu tinggi. Dengan kata lain, tersenyum adalah bagian dari adab kenabian yang luhur.

Banyak hadits-hadits yang menampilkan sisi ‘humor’ dari kehidupan Nabi Muhammad SAW. Salah satunya yang masyhur dikutip adalah hadits dimana Nabi menceritakan seseorang yang menjadi penghuni surga terakhir setelah ia dikeluarkan dari neraka. Namun ia tak kunjung bisa masuk surga karena mendapati surga telah penuh. Syahdan, ia pun mengadu kepada Allah, “Ya Rabb, aku mendapati surga telah penuh” lalu diperintahkan kembali untuk mendekat ke surga. Namun masih sama, ia tak kunjung bisa masuk dan mengadukan hal yang sama. Lalu Alllah berfirman kepadanya, “Pergilah ke surga, engkau akan mendapatkan seperti dunia dan sepuluh kali lipatnya”. Seketika orang tersebut protes, “Engkau sebenarnya sedang mengejekku—menertawaiku— sebab engkau Tuhan pemilik segalanya?” Saat menceritakan hadits ini, Rasulullah SAW tertawa hingga tampak gigi gerahamnya.

Rasulullah

Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan

di sini

Hadits kedua, yaitu tentang seorang fakir miskin di Madinah yang melanggar dengan menggauli istinya di siang hari pada bulan Ramadan. Syahdan, ia mendatangi Nabi Muhammad SAW dalam keadaan ketakutan akibat perbuatannya. Setelah ia menyampaikan kegelisahannya, Nabi kemudian menjelaskan macam-macam kaffarah (denda) yang wajib ia tebus akibat dosa yang ia lakukan. Padahal sebagaimana kita tahu, kaffarah menggauli istri di siang hari Ramadan pertama adalah bersedekah pada enam puluh fakir miskin. Jika tidak bisa, maka berpuasa dua bulan berturut-turut. Melihat hal itu, orang tersebut hanya bisa meminta maaf kepada Nabi Muhammad SAW karena ia tidak bisa melaksanakan baik yang pertama maupun kedua dari kaffarah tersebut.

Apa kemudian sikap Nabi menghadapinya? Nabi meminta untuk didatangkan padanya satu wadah kurma. Satu wadah kurma itu kemudian Nabi berikan kepada orang tersebut agar digunakannya untuk bersedekah terhadap orang fakir sebagai bayaran untuk kaffarah-nya. Orang itu lalu bergeming, “Apakah aku akan bersedekah terhadap orang yang lebih fakir daripadaku? Demi Dzat yang mengutusmu untuk kebenaran, di seluruh penjuru Madinah ini, tidak ada orang yang lebih fakir daripada aku.” Mendengar itu, Rasulullah SAW tersenyum sembari tertawa ringan hingga terlihat gigi gerahamnya. Lalu beliau bersabda, “Berilah makanan itu kepada keluargamu”.

Dari dua contoh hadits masyhur ini, kita dapat melihat bagaimana sifat kasih-sayang tampak begitu jelas dari Nabi. Dalam hadits pertama, sembari tersenyum Nabi menggambarkan bagaimana kemurahan Allah dalam memasukkan hambanya ke surga. Dalam hadist kedua, Nabi tidak serta merta marah menghadapi pelaku pelanggaran berat yang di saat yang sama tidak mampu menebus kaffarah akibat dari perbuatannya. Justru Nabi seraya tersenyum memberikannya satu wadah kurma untuk ia sedekahkan pada dirinya sendiri. Inilah Akhlak para Nabi yang begitu luhur melebihi segala macam kebaikan dan kasih sayang umat manusia di muka bumi.

Namun dari penjelasan sebelumnya, Syekh Muhammad Abdulfadhil menggarisbawahi bahwa tertawa yang menjadi adab Nabi bukanlah tertawa yang dapat melalaikan seseorang terhadap Allah. Beliau merujuk kepada penjelasan Sayyidah Aisyah dalam haditsnya, “Aku tidak pernah melihat Nabi SAW tertawa lepas hingga tampak anak lidah mulutnya, melainkan Nabi sekadar tersenyum”. Berdasarkan hadits ini, jelas bahwa “tertawa” secara berlebihan, yaitu tertawa yang mengekspresikan kesenangan secara berlebihan yang disebut “Al-Qahqahatu” (terbahak-bahak) bukanlah ajaran Nabi. Sebab tertawa semacam itu dapat melalaikan dan mematikan hati seseorang.

Hari ini, bentuk dakwah Islam yang ramah dan penuh belas kasih inilah yang kita butuhkan. Dakwah yang meneduhkan, menarik simpati dan empati, bukan yang marah-marah apalagi mencaci-maki. Adab tersenyum dan dakwah meneduhkan ini bisa kita contoh dari para ulama yang menjadi penerus Nabi. Seperti keramahan dan keteduhan yang kita temui pada Habib Umar bin Al-Hafizh, Habib Ali Al-Jufri, di Indonesia terdapat Habib Jindan, Gus Baha’, Prof Muhammad Quraisy Syihab, dan sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang tidak hanya mewarisi keilmuan saja, melainkan juga karakter dan akhlak kenabian telah tampak dalam jiwa dan perangai mereka yang “Rahmah”. Tabik!


💡
Baca juga artikel lain di rubrik ISLAMUNA atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim