Bermedia Sosial dengan Akal Sehat: Seruan Empat Poin dari Al-Azhar
TAWAZUN.ID — Masjid Al-Azhar kembali menjadi pusat pembahasan isu-isu kontemporer. Pada Selasa (14/5), Forum Al-Azhar untuk Isu-Isu Kontemporer menyelenggarakan diskusi bertema “Jaringan Media Sosial antara Dampak Positif dan Negatif”. Acara ini menghadirkan Prof. Dr. Ridha Amin (Dekan Fakultas Media Universitas Al-Azhar) dan Dr. Saleh Abdulwahhab (Wakil Dekan Fakultas Ilmu Islam untuk Mahasiswa Asing), serta dimoderatori oleh jurnalis Muhammad Mushthafa Yahya.
Dalam paparannya, Prof. Dr. Ridha Amin menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap dampak buruk media sosial yang kian nyata. Ia menyebut bahwa konsumsi berlebihan terhadap media sosial tanpa kesadaran bisa menciptakan “kesadaran palsu” dan menyuburkan ide-ide destruktif dalam masyarakat.
“Bahaya ini akan terus meningkat jika seseorang membiarkan dirinya hanyut berjam-jam dalam dunia maya tanpa panduan nilai,” ujar Prof. Ridha.
Ia mengungkap data ilmiah yang menyebut rata-rata waktu harian seseorang di media sosial mencapai empat hingga lima jam. “Itu bukan hanya pengurasan waktu, tapi pemborosan usia dan energi umat,” tambahnya.
Empat Aturan Utama Bermedia Sosial
Prof. Ridha mengajukan empat prinsip utama untuk membentengi diri dan masyarakat dari kerusakan digital:
- Tanggung jawab dalam menyebarkan informasi
Hindari menyebar hoaks dan kabar tidak sahih yang dapat mengancam keamanan berpikir masyarakat dan mendistorsi kesadaran publik. - Menjaga nilai agama dan budaya
Tidak mempublikasikan konten yang bertentangan dengan ajaran Islam dan nilai-nilai luhur bangsa. Ia mewanti-wanti bahaya arus budaya asing yang menyebarkan keburukan dan merusak tatanan nilai sosial. - Mengelola waktu secara bijak
Jangan menghabiskan waktu untuk konten kosong yang tak membawa manfaat. Waktu, kata beliau, adalah harta paling mahal yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. - Menghormati privasi orang lain
Jangan membuka aib dan kehidupan pribadi orang lain di media sosial. Hal itu hanya akan memicu luka sosial, kebencian, dan retaknya ikatan kemasyarakatan.
Lebih dari sekadar menolak sisi negatif, Prof. Ridha juga mendorong pemanfaatan media sosial untuk hal-hal positif seperti menyebarkan nilai Islam, toleransi, kerja sama, dakwah yang membangun, serta perluasan wawasan dan ilmu yang bermanfaat.
Ketimpangan Keluarga dan Kesehatan Mental
Sementara itu, Dr. Saleh Abdulwahhab menyoroti dampak jangka panjang penggunaan media sosial yang tidak terkendali. Ia menyebut ketidakseimbangan dalam keluarga, melemahnya ikatan sosial, hingga kerusakan psikologis sebagai akibat dari adiksi terhadap media sosial.
“Kecanduan ini memicu perasaan terisolasi, kecemasan, depresi, bahkan membuat orang terjebak dalam perbandingan sosial yang merusak harga diri,” tegasnya.
Sebagai pengingat, Dr. Saleh membandingkan generasi muda kini dengan para ulama terdahulu. Imam An-Nawawi disebut mendikte karangannya kira-kira dua buku catatan per hari, sedangkan Imam Ibn Jarir At-Thabari menulis 40 halaman per hari selama 40 tahun.
“Ini bukan romantisasi masa lalu, tapi seruan agar kita menata kembali energi generasi muda untuk tujuan yang lebih bermakna,” jelasnya.
Kesadaran Ilahi di Ruang Digital
Menutup forum, Dr. Saleh menegaskan bahwa rambu-rambu etika dalam bermedia sosial bukan sekadar aturan, tapi bagian dari perintah agama. Ia mengutip firman Allah: “bertutur katalah yang baik kepada manusia,” (Surah Al-Baqarah: 83) dan “Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (Surah Qaf: 18).
“Setiap unggahan, komentar, dan interaksi digital akan menjadi saksi kita di hadapan Allah. Baik di dunia nyata maupun maya, tak satu pun luput dari pengawasan-Nya,” pungkasnya.