Cara Uzlah, Menyendiri dari Keramaian
Syekh Ali Jumu’ah menjelaskan bahwa uzlah tidak selalu berarti menjauh secara fisik dari manusia. Dalam Islam, uzlah memiliki dua bentuk, yakni uzlah dengan jasad dan uzlah dengan hati. Keduanya memiliki tujuan yang sama: menjaga keterhubungan seorang hamba dengan Allah SWT.
Uzlah dengan hati sering disebut sebagai menyendiri di tengah keramaian. Seseorang tetap berada di hadapan manusia, duduk dan berinteraksi bersama mereka, namun hatinya senantiasa bersama Allah. Secara lahiriah ia berada di tengah orang banyak, tetapi secara batin ia sedang berkhalwat. Inilah bentuk uzlah yang paling halus dan mendalam.
Di sisi lain, ada pula uzlah dengan jasad. Bentuknya adalah menyendiri secara fisik untuk waktu tertentu, menjauh dari hiruk-pikuk manusia demi mengisi kembali kekuatan batin. Uzlah jenis ini bukanlah pengasingan permanen, melainkan pengasingan yang terukur.
Syekh Ali Jumu’ah mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW sendiri mencontohkan uzlah dengan jasad ketika beliau menyendiri di Gua Hira pada beberapa malam tertentu. Namun, uzlah itu tidak dilakukan secara terus-menerus. Setelahnya, Nabi kembali kepada keluarganya, berdagang, bekerja, dan menjalani aktivitas sosial seperti biasa. Uzlah tidak pernah dimaksudkan untuk memutus kehidupan dunia, melainkan menata kembali hati.
Selain uzlah seperti di Gua Hira, terdapat pula uzlah dalam keramaian. Syekh Ali Jumu’ah mengutip sabda Nabi SAW: “Amal yang paling dicintai Allah adalah bertasbih di tengah pembicaraan.” Ketika ditanya maknanya, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah seseorang yang bertasbih saat orang-orang sedang berbicara. Pada tingkatan ini, hati seorang hamba terpaut penuh kepada Allah, meskipun secara lahir ia berada di tengah manusia. Inilah hakikat khalwat yang sejati.
“Seseorang bisa berada di tengah manusia, namun hatinya sedang berkhalwat bersama Allah.” — Syekh Ali Jumu’ah
Penjelasan Syekh Ali Jumu’ah ini menegaskan bahwa uzlah bukanlah pelarian dari kehidupan, melainkan cara menjaga kejernihan hati.
Seorang muslim diajarkan untuk mampu menyendiri saat perlu, dan tetap hadir di tengah masyarakat tanpa kehilangan keterhubungan dengan Allah. Dalam keseimbangan inilah, uzlah menjadi jalan penyucian, bukan pengasingan.
VIDEO Syekh Ali Jumu'ah