Diam Karena Allah

Syekh Ali Jumu’ah menjelaskan bahwa diam tidak selalu bermakna kebodohan, kelemahan, atau ketidakmampuan berbicara.

Jika engkau melihat seseorang dianugerahi sifat diam dan rajin beribadah, maka ketahuilah bahwa dari hatinya memancar mata air hikmah. Ia memilih diam bukan karena tidak tahu, tetapi karena kesadaran dan ketakwaan kepada Allah.

Diam yang lahir dari iman adalah penjagaan diri. Ia memahami betapa besar dampak lisan terhadap keselamatan seorang hamba.

Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Mu’adz, “Bukankah yang menyebabkan manusia tersungkur ke dalam neraka itu tidak lain adalah hasil dari ucapan lisan mereka?” Mu’adz pun bertanya dengan penuh keheranan, “Apakah kita akan dihukum karena ucapan kita, wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab dengan peringatan yang sangat dalam, “Betapa banyak kata yang membuat Allah murka, engkau tidak memerhatikannya, tetapi ternyata dapat menjatuhkanmu ke dalam neraka selama tujuh puluh tahun.”

“Jika kamu melihat seseorang diberi sifat diam dan rajin beribadah maka ketahuilah bahwa dari hatinya memancar mata air hikmah.” - Syekh Ali Jumu’ah

Karena itu, diam yang disertai ibadah adalah tanda kebijaksanaan dan kejernihan hati. Ia adalah bentuk muraqabah kepada Allah, kesadaran bahwa setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban. Diam seperti inilah yang menjaga seseorang dari kebinasaan dan mendekatkannya kepada keselamatan.

VIDEO Syekh Ali Jumu'ah

💡
Simak terjemahan lain di kanal YouTube Tawazun ID dan Subscribe untuk mengikuti update terkini.