Empat Tradisi Para Mujawir di Al-Azhar

Sejak dahulu, Al-Azhar menjadi kiblat para pencari ilmu dari berbagai negeri Islam. Mereka yang di masanya disebut sebagai mujawirin (tunggal: mujawir) itu tinggal di masjid dan di sekitaran Al-Azhar. Oleh karena itu, Masjid Al-Azhar mengenal sistem hunian yang disebut riwaq yang dinamai sesuai asal daerah, mazhab, atau sesuai nama pewakaf.

Masjid Al-Azhar yang menjadi pusat pertemuan banyak etnis manusia tentulah juga menjadi tempat bertemunya beragam budaya. Masuknya biji kopi ke Mesir, misalnya, terjadi di Riwaq Al-Yaman. Para santri yang pulang kampung lantas membawa oleh-oleh berupa biji kopi untuk diseduh dan disuguhkan usai halakah zikir mingguan.

Hukum Suami Meminta Seks Anal kepada Istrinya
Seorang istri melaporkan suaminya tersebab penyimpangan seksual, yakni seks anal. Bagaimana duduk persoalan hubungan intim ini dalam hukum Islam?

Banyak tradisi Al-Azhar terekam dengan baik di sejumlah buku sejarah. Di antaranya Kanz Al-Jauhar fi Tarikh Al-Azhar karya Syekh Sulaiman Rashad (w. 1928 M), Tarikh Madrasah Al-Azhar karangan Mushthafa Bairam At-Tunisi (w. 1919 M), dan Al-Khithath Al-Taufiqiyyah yang ditulis Ali Mubarak (w. 1893 M).

1. Perayaan Pamitan

Tradisi pamitan di Al-Azhar misalnya terekam jelas di buku sepanjang 20 jilid karangan Ali Mubarak berjudul Al-Khithath Al-Taufiqiyyah. Sebuah buku raksasa yang merekam wilayah-wilayah (topografi) di seantero Mesir. Enam jilid pertama dikhususkan untuk seisi Kairo saja. Buku ini disusun di kurun 1872-1888 Masehi.

Pada bab ‘Awaid Ahli Al-Azhar (Tradisi-tradisi Penghuni Al-Azhar) di jilid 4, halaman 29, cetakan Al-Amiriyyah, terbitan tahun 1305 H (1888 M). Ali Basya Mubarak menyebutkan tradisi para santri di Al-Azhar yang spesifik tentang wada’an (perayaan pamitan):

وعادَةُ الشَّامِيّين إذا تَمَّمَ الواحِدُ مِنهم غرضَه وأرادَ السَّفَرَ إلى بلدِه أنْ يدعوَ أصدقاءَه ومُحِبّيه مِن الطَلَبَةِ والمَشَايِخِ، وقد أَوْقَدَ لَهُمْ الرِواقَ بالشُّمُوعِ وفَرَشَه بِقَدْر حالِه، فيَجْتمِعون عنده إلى ما شاء اللهُ من الليل، ويُطاف عليهم بالقَهْوَةِ والشَرَبات، ويُنْشِدُونَ بالمَجْلِسِ قَصِيْدَةً أو أكثرَ تَشْتمِلُ على مَدْحِهِ، والتَّنْوِيْهِ بغَزارَةِ عِلْمِه، وكثرةِ فَضْلِه، ثم يَنصرِفُونَ. —الخطط التوفيقية لـ علي باشا مبارك، جـ ٤، ص. ٢٩، ط. الأميرية

"Tradisi para talib dari Negeri Syam. Apabila salah seorang dari mereka telah menamatkan tujuan (mencari ilmu) dan hendak pulang ke negerinya, ia mengundang kawan-kawannya, sahabat sejawatnya, serta para syekh.

Ia menerangi riwaq (asrama) dengan lilin-lilin, menggelar tikar secukupnya untuk berkumpul bersama hingga waktu yang leluasa di malam itu. Kopi dan sirup-sirup manisan dihidangkan ke mereka. Di majelis (ramah tamah) itu pula mereka mendendangkan barang satu kasidah atau lebih yang berisi pujian, ekspresi tentang melimpahnya ilmu yang telah diraih, dan banyaknya keutamaan lain yang dimiliki.

Kemudian para tamu beranjak pergi."

2. Iuran Beli Kitab

Hal lain yang tak kalah menarik seputar penghuni Masjid Al-Azhar adalah tentang kebiasaan membeli kitab dengan iuran. Para santri di Al-Azhar membeli kitab-kitab yang terbilang mahal saat itu bersama-sama. Bukan hanya soal membeli, mereka pun membaca dan mempelajari kitab itu bersama-sama.

Mushthafa Bairam dalam kitab Tarikh Madrasah Al-Azhar juga menyebut bahwa tiap usai suatu pengajian, yakni di momen khataman, para santri biasanya membakar wewangian, membawa aneka buah-buahan kering untuk dibagikan, dan menyemprotkan air bebungaan. Mereka juga disebut biasa mencium tangan sang guru sebagai wujud rasa hormat.

3. Tiang-tiang Masjid Al-Azhar

Al-Azhar mempunyai universitas modern dimulai sejak diterbitkannya Qanun Nomor 49 tahun 1930 M. Meski tidak begitu saja langsung berubah menjadi modern, sistem pendidikan di Al-Azhar beralih dari sistem halakah di serambi masjid menuju lebih modern di bangku perkuliahan.

Saat pengajaran masih di masjid, pengajian dibagi dalam halakah-halakah yang mengambil tempat di sekeliling tiang. Seorang syekh duduk bersandar pada tiang yang sudah ditentukan sementara para murid duduk mengelilinginya. Sang pengampu pengajian yang tidak musti tunggal itulah yang kemudian dikenal dengan sebutan Syekhul-'Amud.

Dalam satu halakah pun biasanya didapati seorang murid yang cemerlang duduk di sisi kanan atau kiri seorang syekh. Murid yang kemudian dikenal dengan istilah Al-Mu'id ini bertugas membantu teman-teman satu majelisnya dalam memahami pengajian dan mutalaah. Jika sang guru berhalangan, ialah yang ditugasi mengisi kekosongan itu.

Dengan tradisi semacam ini, tak jarang seorang murid lantas juga menjadi syekh yang mengampu halakah sementara gurunya juga masih punya majelis di Masjid Al-Azhar. Namun, seorang murid yang bahkan sudah sama-sama menjadi syekh sebagaimana tercatat dalam Tarikh Madrasah Al-Azhar akan tetap mencium tangan sang guru. Menghormati secara penuh kepada gurunya.

4. Tahlilan

Jika salah seorang syekh wafat, para murid akan berkabung selama tiga hari. Bahkan jika ia seorang syekh kabir, seluruh halakah di Masjid Al-Azhar akan diliburkan sejak para muazin di seantero kota melantunkan ayat Al-Abrar (Surah Al-Insan ayat 5) dari atas menara.

Para penduduk kota yang terdiri dari para muhibbin, murid, syekh, dan pembesar negeri segera berkumpul di Masjid Al-Azhar untuk bertakziah. Para pelantun shalawat membawakan bait-bait Al-Burdah karangan Imam Al-Bushiri. Lalu, jenazah sang guru disalatkan di selasar Masjid Al-Azhar bersama berbagai elemen masyarakat. Setelah itu, dibacakanlah qashidah dan riwayat hidup sang guru sebelum kemudian jenazah sang guru diantar ke pemakaman untuk dikuburkan.

Meski bukan disebut dengan istilah tahlilan, zikir berjamaah dan mendoakan guru atau rekan sejawat yang wafat juga menjadi salah satu tradisi para santri Al-Azhar. Jika seorang guru (Syekhul-'Amud) wafat misalnya, halakah di tiang tersebut akan diliburkan selama tiga hari. Di hari-hari itu para murid akan mengisinya dengan pembacaan Al-I'taq, yakni serangkaian zikir yang terdiri dari kalimat tauhid (tahlil), sebagian ayat-ayat Al-Quran yang dihadiahkan untuk sang guru, dan doa khusus untuk sang guru agar amal baiknya diterima, dirinya diampuni dari segala silap, dan dibebaskan (Al-I'taq) dari siksa api neraka.

Memaknai Kembali Takdir dan Kematian
Pembahasan seputar takdir seringkali dibatasi pada garis kesuksesan dan kegagalan, surga dan neraka. Sementara Nabi menekankan agar kita beramal.

Empat tradisi ini tentulah hanya sepilihan dari yang banyak terekam dalam kitab-kitab sejarah. Sebagiannya bisa jadi telah tiada, sementara yang lain telah beralih menyesuaikan zaman.

*Foto: Masjid Al-Azhar (Mihrab Fathimi) dari koleksi digital Creswell di Perpustakaan American University in Cairo.


Baca juga artikel lain di rubrik BUDAYA atau tulisan menarik Mu'hid Rahman