Geliat Nasionalisme dari GBK

Nasionalisme bisa pula dipupuk lewat sepak bola. Ungkapan tersebut barangkali terkesan naif dan utopis. Tapi ungkapan itu akan terlihat lebih relevan bila kita mau melihat langsung ke stadion saat timnas Indonesia bertanding. Termasuk pada pertandingan barusan, saat timnas Indonesia ditahan imbang 1-1 oleh timnas Thailand di event piala AFF 2022.

Betapa tidak, meski masih bermain kurang begitu bagus sejak pertandingan pertama saat melawan Kamboja, animo masyarakat tetap terlihat sangat tinggi. Tercatat penonton yang hadir ke stadion Gelora Bung Karno (GBK) pada pertandingan melawan Thailand ada di kisaran 50.000 orang, termasuk Pak Presiden Jokowi yang ikut nyetadion di GBK. Mereka para pendukung timnas Indonesia tiada henti berteriak, bersorak, dan berjingkrak-jingkrak guna mendukung timnas kesayangan mereka saat bermain. Tidak jarang pula mereka menepuk jidat dan gregetan, terutama ketika para pemain timnas Indonesia masih acap salah umpan dan masih sangat suka menyia-nyiakan peluang emas untuk memasukkan bola ke gawang lawan. Yaitu saat Hansamu dan Witan Sulaiman menyia-nyiakan peluang emas 99,9 persen goal. Tak ayal, keduanya menjadi sasaran tembak para pendukung timnas dan netizen Indonesia yang memang super kritis dan berbakat semua untuk menjadi para pelatih online.

Memaknai Ulang Barakah dalam Pesantren
Makna barakah belakangan diiringi dengan ketiadaan usaha lahiriah. Esai ini mengajak khalayak muslim untuk memaknai ulang barakah dalam kehidupan.

Meski sepakbola Indonesia habis mengalami tragedi memilukan di Kanjuruhan Malang, agaknya animo dan antusiasme masyarakat Indonesia untuk mendukung timnasnya tidak terkikis sedikit pun. Bahkan mereka (secara khusus) justru meminta timnas Indonesia bisa menjadi juara di gelaran AFF kali ini. Tujuannya agar menjadi penawar, pelipur lara, dan sebagai obat dahaga masyarakat Indonesia atas trofi juara bagi timnas kesayangannya. Sudah menjadi rahasia umum, bila masyarakat Indonesia memang sangat cinta terhadap sepak bola. Secara hukum Islam, bermain sepak bola adalah boleh (jawaz), selagi tidak ada unsur-unsur keharaman yang mengiringi praktik sepak bola tersebut. Keterangan tentang ini bisa dirujuk langsung dari Kitab Bughyatul Musytaq, halaman 102. Terdapat pula keterangan dalam kitab Minhajul Muslim halaman 315, bahwasanya boleh bermain sepak bola dengan syarat niatnya demi menjaga kesehatan (watajuzu lu’bu kurratil qadam bisyarti an-yanwia biha al-huffadz ‘ala quwwatil badan).

Melihat antusiasme masyarakat Indonesia yang begitu tinggi, selalu ada perasaan takjub dan haru. Bahkan meski saya menyaksikannya hanya dari layar kaca. Dari dalam stadion sendiri, terlihat jelas bahwa animo masyarakat Indonesia begitu tinggi terhadap perjuangan timnas Indonesia dalam piala AFF 2022. Bahkan terkadang kerap kita jumpai para pemain dan para suporter Indonesia menangis saat menyanyikan lagu Indonesia Raya sewaktu pembukaan. Secara tidak langsung, itulah manifestasi nyata dari adagium transendental, “Hubbul wathan minal iman; Cinta tanah air adalah sebagian dari iman.”

Az-Zankaluni, Ulama Besar Al-Azhar yang Nasionalis
Guru Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani bernama Az-Zankaluni. Alim nan saleh, ahli hadis, ulama Al-Azhar yang pidatonya menggelora di Revolusi 1919.

Mereka datang dari berbagai penjuru kota di Indonesia. Para pendukung timnas itu datang ke Jakarta tanpa dibayar oleh siapa pun. Mereka bahkan keluar uang sendiri untuk beli tiket pesawat, tiket kereta, dan tiket masuk stadion demi bisa mendukung timnas kesayangannya memetik kemenangan di setiap laga yang dihadapi. Begitulah, kemenangan demi kemenangan itu menjadi magnet serta pemuas dahaga masyarakat Indonesia yang berbondong-bondong memadati stadion GBK, Senayan. Mereka yang datang ke GBK tidak hanya dari sekitaran Jakarta, tapi dari berbagai kota seantero Indonesia. Semuanya berbaur mendukung perjuangan timnas Indonesia, tanpa membawa embel-embel klub asal.

Bila mau menelusuri, banyak pula cerita “heroik” yang berseliweran di beberapa media tentang usaha pendukung timnas dari daerah yang ingin menyaksikan langsung perjuangan timnas menggapai tangga juara di gelaran AFF kali ini. Bahkan dari Presiden Jokowi pun sangat antusias datang ke stadion GBK demi mendukung timnas Garuda berjaya.

Begitulah, tiada lagi perbedaan suku, ras, agama, atau warna bendera dalam sepak bola atas nama negara, kesemuanya menyatu mendukung kiprah timnas Indonesia berjibaku dalam gelaran piala AFF 2022. Sebuah peristiwa indah yang “hanya” didapati dalam atmosfer sepak bola. Di mana masyarakat majemuk yang dalam kesehariannya berbeda prinsip, pekerjaan, atau bahkan berseberangan keyakinan, semuanya mendadak berbaur dalam satu tujuan tanpa ada bayaran maupun paksaan. Fenomena semacam itu terlihat kentara dari timnas sepak bola Maroko yang notabene cukup berjaya di Piala Dunia Qatar 2022 kemarin.

Pemikiran

Kumpulan tulisan bertopik pemikiran dan keislaman bisa teman-teman temukan

di sini

Para pemain dan pendukung fanatik Maroko yang berasal dari berbagai etnis ataupun negara-negara Islam di jazirah Arabia dan Afrika, (bahkan) yang sebelumnya pada bertikai karena perbedaan ideologi, tapi di gelaran Piala Dunia kemarin mereka bersatu. Mereka yang kesehariannya dilanda kecamuk konflik sektarian antara Suni, Wahabi, dan Syiah, tanpa perjanjian resmi mereka saling bahu membahu berusaha mendukung timnya memenangkan setiap laga yang dijalani. Para pendukung fanatik yang heterogen pun berbaur bersama, sejenak melupakan konflik horizontal yang sedang mereka hadapi. Hal itu berlaku pula di negara-negara majemuk lain, sepak bola benar-benar telah menyatukan segenap warga negara yang berbeda ras, suku, atau keyakinannya.

Membincangkan nasionalisme (memang) bukan sekadar trofi sepak bola, bendera kebangsaan, dan lagu kebangsaan yang dikumandangkan penuh khidmat. Namun, tidak menampik kemungkinan lahirnya nasionalisme bermula dari rasa “cinta mati” dan adanya sebuah trofi piala yang lantas membawa semangat kecintaan, perubahan sosial-budaya dalam masyarakat Bangsa. Tidak mustahil pula adanya (semisal) kemerdekaan Palestina atas “penjajahan” yang dialaminya bermula dari semangat persatuan dari ranah bola sepak. Begitu juga tidak menutup kemungkinan adanya sebuah rekonsiliasi damai bermula dari mendukung sebuah timnas sepak bola. Bermula dari mata, lalu turun ke hati, dan menggerakkan hati.

Begitu pula berlaku di Indonesia. Sebab, setidaknya dari kemenangan timnas Indonesia disinyalir akan membuncahkan semangat kecintaan warga menuju bergeloranya semangat nasionalisme. Sebab, hajatan sepak bola memiliki kapasitas memobilisasi dan mengarahkan massa menuju peningkatan semangat kebangsaan. Lihat saja bagaimana puluhan ribu manusia dari berbagai daerah tanpa dikomando berbondong-bondong menuju stadion GBK untuk membela timnas “Merah Putih”. Sebuah momen bagi mereka yang hadir langsung di stadion akan sangat menggetarkan dan membikin merinding bulu roma.

Kesalahpahaman tentang Ziarah Makam Wali
Cap kafir atau musyrik terhadap muslim yang berziarah itu tidak dikenal di kalangan Sunni. Bahkan Nabi Muhammad memberi contoh adab dalam ziarah.

Namun tentunya, sikap nasionalis itu akan berkembang jika pihak timnas, pengurus PSSI, dan semua yang berkompeten dalam dunia sepak bola memberikan timbal balik positif atas dukungan yang telah tercurahkan. Setidaknya dengan adanya trofi, profesionalisme, dan keseriusan dalam mempersiapkan timnas Indonesia untuk semua kompetisi yang diikuti. Hal itulah yang sekarang saya lihat telah dirasakan bangsa Maroko. Yaitu adanya peningkatan semangat nasionalisme dan etos kerja usai “Singa Atlas” menjadi semifinalis Piala Dunia Qatar. Maka sangat wajar bila setiap timnas Maroko main, masyarakat seolah menghentikan laju kehidupan di sana untuk sementara. Mengambil sebuah jeda, lalu akan melangkah dan melompat lebih tinggi setelah jeda.

Wabakdu, semangat nasionalisme ala kulit bundar terasa begitu menggeliat belakangan ini, terlebih setelah Messi dengan Argentinanya berhasil menjadi kampiun di Piala Dunia Qatar 2022. Di ranah lokal, langsung ludesnya tiket timnas Garuda saat menjelang menghadapi Thailand di babak penyisihan adalah sebuah indikator. Andai nanti timnas Indonesia berhasil menghilangkan dahaga masyarakat Indonesia untuk mengangkat trofi sejak tahun 1991 silam, niscaya nasionalime itu akan tumbuh subur dan berdampak positif sebagai modal dasar bangsa Indonesia untuk melompat lebih tinggi. Namun sebaliknya, jika saja timnas Garuda masih sekadar menjadi “kendaraan” kapitalis serta kendaraan “politik” tanpa adanya prestasi, alih-alih memicu nasionalisme, bisa jadi hajatan sepak bola justru akan menumbuhkembangkan semangat antipati hingga anarkisme.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik OPINI atau tulisan menarik Ahmad Muhakam Zein