Hasil Pengamatan Al-Azhar tentang ISIS dan Al-Qaeda
TAWAZUN.ID — Isu ISIS kembali mengemuka di publik —sebagaimana yang intens diamati oleh Marshad Al-Azhar (Lembaga Observasi Al-Azhar)— dengan bergabungnya 11 orang mantan pasukan Al-Qaeda menjadi bagiannya. Lembaga observasi itu mengungkapkan, sejak kejadian itu secara perlahan ISIS berlomba menguasai media sosial dengan menyebar berita-berita provokatif berikut komentar-komentar hasutan akan informasi tadi. Kemunculan ISIS ini tidaklah serta merta tanpa kepentingan. Hal itu jelas terlihat pada bahasa komunikasi yang mereka gunakan dalam memberitakan sesuatu. Dari balik bahasa itu, tersirat makna-makna implisit yang mengungkap sejauh mana hubungan antara ISIS dan Al-Qaeda sebagai sesama organisasi ektremis.
Dalam salah satu medianya, ISIS dengan bangga menulis, “Dengan karunia Allah dan pertolongannya, 11 milisi Al-Qaeda dari salah satu wilayah pesisir bertaubat dan mendapatkan hidayah”. Dari teks ini, kalau kita telisik dari bentuk komunikasi mereka, terlihat secara implisit bahwa ISIS menganggap dirinya lebih unggul dari Al-Qaeda. Selain sebagai reaksi, melalui teks tersebut ISIS menyifati seluruh anggota afiliasi Al-Qaeda sebagai pendosa, ahli maksiat, yang kemudian wajib untuk bertaubat dan hijrah dari organisasi tersebut.
Tak terhenti di situ, bagi ISIS, Al-Qaeda hanyalah sekelompok pasukan militer liar alias milisi. Al-Qaeda tak ubahnya organisasi berbasis milisi yang separatis, tak memiliki tujuan yang mulia. Sebuah istilah (milisi) yang jauh-jauh mereka hindari sebagai penyebutan organisasi mereka sendiri. Ketika media internasional dunia sering menyebut organisasi ISIS dengan, bahkan menganggapnya milisi, mereka cepat-cepat merevisi istilah tersebut dan menggantinya dengan istilah “Daulah Islamiyah” (Negara Islami). Dari sudut pandang ini menjadi jelas sekali sejauh mana perbedaan gaya dan cara organisasi dua organisasi ekstrimis ini, ISIS dan Al-Qaeda.
Secara mendasar, Lembaga Observasi Al-Azhar menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara dua organisasi ektremis ini yang terbagi dalam dua hal: pertama, pada perselisihan keagamaan. Kedua, pada perselisihan politik, atau bisa jadi politik dan keagamaan secara bersamaan. Pada dua aspek tersebut, mereka memiliki bahasa komunikasi yang khusus. Terutama saat mereka ingin menyampaikan informasi ke publik dan mengarahkannya kepada umat Islam. Hal itu terlihat saat terjadi perbedaan kepentingan politis antara ISIS dan Al-Qaeda. Mereka biasanya tidak serta merta memunculkan penentangan secara transparan, baik yang terjadi antar pemimpin organisasi maupun wilayah-wilayah regulasi sensitif antar kedua belah pihak. Berbeda halnya ketika berbicara keagamaan. Ketika mereka berbeda cara pandang, media mereka akan secara langsung menampilkan sikap penentangan serta konfrontasi secara terang terangan di hadapan publik.
Sikap dalam perselisihan politik begitu berbeda dengan perselisihan yang menyoal keagamaan. Bahkan, ketika tengah terjadi perselisihan politis yang cukup sengit antara ISIS dan Al-Qaeda yang sudah nampak dan tidak bisa dihindari, ISIS akan berusaha menutupinya dengan membungkus perselisihan tersebut seolah-olah konflik agama. Akhirnya, mereka akan selalu berusaha menampilkan diri di hadapan publik—bahkan kepada para pengikut masing-masing organisasi— bahwa perselisihan mereka sama sekali bukan urusan politik melainkan urusan agama.
Dari pengamatan ini bisa ditarik kesimpulan bahwa baik itu ISIS maupun Al-Qaeda sedari awal sama sekali tidak memiliki empati dan rasa hormat pada ajaran agama. Bagi mereka, agama tidak lain hanya berfungsi menjadi alat untuk menarik massa dan memperdaya akal mereka. Sementara itu ISIS dalam bayangan Al-Qaeda adalah organisasi yang menyalahi syariat dengan kejahatan-kejahatan mereka. Bahkan mereka telah memperburuk imaji Islam dengan perbuatan membunuh banyak orang-orang tak bersalah. Mungkin timbul banyak pertanyaan, mengapa Al-Qaeda tidak menyerang ISIS dan merevolusinya secara langsung. Apa alasan di belakangnya. Menurut Lembaga Observasi Al-Azhar, alasan utama dari hal itu adalah karena perasaan benci dan dendam akibat terpisahnya ISIS dari rahim Al-Qaeda. Bukan sama sekali karena motif agama, alih-alih syariat Islam. Bergabung dengan Al-Qaeda, dalam keyakinan mereka adalah nilai tinggi yang bisa menghalalkan segala bentuk kejahatan kemanusiaan.
Perbedaan mendasar antara ISIS dan al-Qaeda inilah yang menurut Al-Azhar penting untuk diketahui pemuda-pemudi umat Islam hari ini. Dengan tujuan agar mereka bisa mengenal sejauh mana pragmatisme organisasi-organisasi ektremis ini, pun paham akan perbuatan tak bermoral (penghinaan) mereka kepada agama dan ajaran-ajarannya yang suci. (lhr)