Hilangnya Empati pada Muslim Rohingya

Kedatangan pengungsi Rohingya di Aceh telah menimbulkan sikap sentimental yang cukup tinggi di kalangan masyarakat Indonesia. Sikap netizen bagi saya sudah terlampaui berlebihan dan tidak manusiawi hanya dengan mengatasnamakan sentimen “anti-asing”. Kita ingat pada 2023 lalu media sosial sesak dengan hinaan dan nyinyir terhadap para pengungsi yang kelaparan dan mencari tempat perlindungan. Hal ini mencerminkan kebencian yang berlebihan dari pada empati kemanusiaan. Saya yakin, netizen yang terus menghina itu tidak tahu apa-apa akan apa yang sebenarnya terjadi di Rohingya. Bahwa di balik wajah susah dan pilu para pengungsi itu, terdapat pengalaman tragis penindasan, genosida dan diskriminasi yang berkepanjangan.

Memang, pemerintah hingga hari ini memandang kedatangan pengungsi Rohingya tersebut ilegal akibat tidak ada dokumen resmi yang mendukung. Juga hingga hari ini penampungan warga muslim Rohingya masih berstatus “sementara” hingga nanti dikembalikan. Namun, alangkah memalukan jika sikap ini dibarengi dengan kebencian yang berlebihan. Saya rasa narasi “Bangsa asing begitu mudahnya memasuki wilayah Indonesia” tidak tepat ditujukan pada fenomena baru kedatagan imigran Rohingya. Bagaimana dengan para investor, pebisnis negara-negara kapitalis yang selama ini dengan mudahnya terlibat dan masuk dalam proyek strategis pemerintah itu tidak disebut “keterlibatan asing”?

Inilah yang terjadi jika hati nurani telah dipenuhi kebencian sentimental, sikap dan cara pandang obyektif akan hilang. Empati dikubur dan diganti dengan sentimen anti asing dan cemooh pada sekelompok manusia yang sejatinya adalah korban penindasan di luar sana. Di mana letak kemanusiaan kita? Oleh sebab itu, menurut saya, kita warga Indonesia sebagai manusia tetap harus berempati kepada siapapun itu yang butuh bantuan. Jika kita tidak dapat membantu, cukuplah kita menahan diri untuk tidak mencemooh dan membenci secara berlebihan. Terlebih, mereka (muslim Rohingya) juga saudara kita sesama muslim. Dalam tulisan ini saya akan meringkas apa yang terjadi sebenarnya pada konflik masyarakat muslim Rohingya.

Dalam salah satu riset yang berjudul “Krisis Rohingya di Myanmar: Antara Kelalaian Umat Islam dan Hilangnya Nurani Dunia”, Dr. Muhyiddin Afifi (Mantan Sekertaris Jenderal Akademi Riset Al-Azhar) menjelaskan secara komprehensif krisis dan penindasan umat Islam Rohingya.

Ia memaparkan di awal, “Umat Islam di Rohingya melewati krisis paling kejam dalam sejarah mereka yang dipenuhi dengan tragedi pembunuhan, pengusiran, dan genosida. Dunia sebenarnya telah menyaksikan tindakan pelanggaran-pelanggaran tersebut, namun tidak ada nurani yang tergerak untuk berempati. Di saat yang sama, banyak umat Islam yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kelompok tertindas yang tengah menghadapi otoritarianisme, pembersihan etnis, yang berlangsung sejak paruh pertama abad dua puluh, sejak Myanmar masih disebut negara Burma”.

Lingkungan

Kumpulan tulisan yang mengangkat isu lingkungan dapat teman-teman baca

di sini

Sudah jelas bagi saya dari pernyataan tersebut, bahwa krisis Rohingya—yang sudah hampir satu abad— tidak mendapatkan perhatian dunia hingga saat ini. Secara garis besar, konflik tersebut bermula dari konflik internal antar mayoritas dan minoritas etnis warga negara Myanmar. Mayoritas di sini adalah warga beragama Budha yang telah masuk dalam pemerintahan dan sikap negara dengan minoritas etnis Rohingya yang beragama Islam. Mereka menganggap etnis tersebut sebagai pendatang sehingga berakibat pada tidak diakuinya mereka sebagai warga negara sah Myanmar. Singkatnya, menurut Dr. Muhyiddin Afifi mereka adalah korban politik formal pemerintah yang tidak mengakui keberadaan etnis Rohingya dan terus menerus melakukan kekerasan bahkan genosida.

Tercatat tragedi genosida dan penindasan terhadap etnis Rohingya telah dimulai sejak tahun 1938. Usut demi usut, akar dari konflik tersebut berawal dari media yang sengaja memperburuk citra agama Islam kala itu. Dalam riset Dr. Afifi, dijelaskan asal muasalnya adalah konflik personal antar wartawan muslim dan Budha yang saling menyerang dalam tulisannya. Konflik tersebut kemudian berujung disebarnya sebuah tulisan-tulisan berisi kebencian terhadap agama Islam dan pemalsuan ajarannya dengan framing bahwa umat Islam akan menjadi ancaman bagi masa depan masyarakat Budha di Burma. Meski organisasi-organisasi muslim terbebas dari tuduhan tersebut di masa itu, namun para elite Budha melakukan perkumpulan rahasia di ibu kota dan dari situ mereka menyebar tulisan-tulisan penghasutan melalui media. Hal itu kemudian berakibat pada serangan terhadap umat Islam yang menewaskan sebanyak dua ratus korban nyawa dan tujuh ratus lima puluh luka-luka dari umat Islam. Termasuk serangan terhadap rumah-rumah umat Islam.

Apa yang dialami umat Islam dari dulu hingga kini bisa disingkat menjadi lima perlakuan tidak adil: pertama, dilarang untuk melakukan ibadah haji dan ritual salat lima waktu. Kedua, pelarangan terhadap pengajaran agama Islam di seluruh sekolah dan perguruan tinggi. Ketiga, penyitaan terhadap seluruh buku-buku, selebaran-selebaran, majalah-majalah yang memuat ajaran Islam. Keempat, melakukan ekspedisi kekerasan secara massal untuk mengeluarkan umat Islam dari agama mereka. Kelima, penyitaan terhadap rumah-rumah, dan tanah-tanah yang diwakafkan untuk masjid dan sekolah-sekolah keislaman. Bahkan parahnya, tindakan ketidakadilan tersebut sampai pada undang-undang resmi kewarganegaraan Burma. Sejak 1948 diberlakukan aturan kelas sosial di masyarakat Burma di mana pemerintah meletakkan umat Islam berada di dalam status warga negara kelas ketiga dengan anggapan bahwa mereka adalah orang asing yang datang ke Burma sejak masa imperialisme Inggris.

Setelah mengetahui fakta ini, masihkah kita terus mencemooh orang-orang tertindas yang tengah mencari perlindungan? Kedatangan mereka ke Aceh toh bukan keinginan mereka sendiri. Justru mereka menjadi korban penipuan para calo biadab yang mencari untung di tengah krisis negara mereka. Jika kita tidak bisa membantu apa-apa mbok ya jangan mencemooh dan kebencian yang berlebihan. Budaya yang sangat tidak mencerminkan kemanusiaan yang seharusnya “memanusiakan manusia”. Terakhir, saya mendukung dan berharap kepada pemerintah untuk terus bersikap bijak dan manusiawi terhadap pengungsi Rohingya hingga konflik di negara mereka usai. Tabik!


💡
Baca juga artikel lain di rubrik OPINI atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim