Hukum Niat Puasa Satu Bulan Penuh di Awal Ramadan

Setiap memasuki bulan Ramadan, di hari-hari pertama Ramadan biasanya berseliweran foto, pamflet atau cuplikan status di sebagian laman sosmed kita anjuran untuk melakukan niat puasa Ramadan sekaligus untuk satu bulan penuh. Adapun bentuk niat yang diucapkan biasanya seperti ini: "Nawaitu shauma jami’i syahri Ramadhani hadzihis sanati taqlidan lil imam Maliki fardhan lillahi ta’ala."

Bagaimanakah sejatinya hukum dari kita melafalkan niat puasa yang semacam di atas itu? Untuk lebih jelasnya, mari kita bahas dalam tulisan sederhana ini.

Dalam Islam, niat adalah perkara paling fundamental untuk setiap ibadah. Niat adalah amaliah hati teruntuk melakukan suatu ibadah tertentu yang dilakukan di awal perbuatan. Niat boleh diucapkan bersuara, maupun boleh hanya di dalam hati saja. Jumhur ulama sepakat bahwa niat merupakan syarat sah (rukun) semua ibadah, termasuk ibadah puasa. Menurut perspektif mazhab Syafi’i niat puasa Ramadan harus dilakukan pada setiap malamnya. Namun, karena adanya faktor kesibukan atau banyaknya aktivitas keseharian, acapkali masyarakat muslim lupa untuk melakukan niat puasa pada malam hari. Nah, guna mengantisipasi hal tersebut, para ulama lantas menganjurkan umat Islam untuk niat puasa satu bulan penuh di malam pertama Ramadan. Hal ini bertujuan apabila suatu hari ia lupa niat, maka puasanya tetap sah karena dicukupkan dengan niat satu bulan penuh yang pernah diucapkan di awal puasa dengan mengikuti (taqlid) pada mazhab Maliki.

Niat dalam ibadah puasa memang merupakan salah satu syarat penting (rukun) yang harus dipenuhi. Namun, terdapat perbedaan ketentuan niat antara puasa wajib dengan puasa sunah. Dalam puasa wajib seperti Ramadan, qada, dan nazar, seseorang diwajibkan untuk berniat pada malam hari (tabyitun niyat), yakni sejak matahari terbenam (Maghrib) hingga sebelum terbit fajar shadiq (Subuh). Hal ini berbeda dengan niat untuk puasa sunnah yang lebih fleksibel, di mana niat puasa sunah boleh dilakukan baik pada malam hari, maupun di siang harinya, asalkan belum melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa dan niat tersebut diucapkan sebelum matahari tergelincir (waktu Zuhur).

Sejatinya, melakukan niat puasa untuk sebulan penuh pada malam awal puasa Ramadan itu bahkan dihukumi sunah. Adapun untuk hukum niat untuk puasa hari-hari setelah hari pertama, barulah di situ para ulama berbeda pendapat (khilaf):

Menurut mazhab Syafi’i, niat puasa untuk sebulan penuh itu cukup untuk puasa satu hari yang pertama. Artinya, untuk setiap harinya, puasa Ramadannya wajib diniati, jika tidak diniati, maka tidak sah puasanya untuk sebulan tersebut, kecuali puasa Ramadan hari pertamanya.

Fatwa

Kumpulan fatwa pilihan yang disampaikan oleh Imam Akbar dan para ulama Al-Azhar dapa teman-teman baca

di sini

Bahkan, niat puasa sebulan penuh pada malam awal puasa Ramadan itu hukumnya sunnah, namun hanya mencukupi niat tersebut untuk malam pertama saja, berbeda dengan mazhab Maliki dapat mencukupi pada malam-malam Ramadan berikutnya selama sebulan, apabila kebetulan ia lupa menjalankan niat.

Menurut mazhab Maliki, seseorang cukup niat puasa untuk sebulan penuh pada malam pertama Ramadan, sehingga tidak perlu memperbarui niat di setiap harinya, dengan alasan puasa Ramadan itu merupakan satu kesatuan ibadah, hal ini juga pernah disinggung Syekh Imam Al-Qalyubi dalam kitabnya Hasyiyah Al-Qalyubi, jilid 2 halaman 66.

وَيُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ أَوْ صَوْمَ رَمَضَانَ كُلَّهُ لِيَنْفَعَهُ تَقْلِيدُ الْإِمَامِ مَالِكٍ فِي يَوْمٍ نَسِيَ النِّيَّةَ فِيهِ مَثَلًا لِأَنَّهَا عِنْدَهُ تَكْفِي لِجَمِيعِ الشَّهْرِ

Artinya: “Disunahkan pada malam pertama bulan Ramadan untuk niat berpuasa sebulan penuh untuk mengambil memanfaatkan pendapat Imam Malik pada suatu hari yang lupa untuk berniat di dalamnya. Karena beliau menganggap niat tersebut mencukupi bila lupa niat pada malam-malam berikutnya di semua malam Ramadan.”

Untuk keterangan lebih lengkapnya, baca di kitab Hasyiyah Al-Qalyubi wa 'Umairah 2/66-67 & V/365 dan kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab 6/303, Hasyiyah Al-Bajuri 1/288]. Lebih jauh, dalam keterangan lain di kitab Kasyifah As-Saja disebutkan:

فَلَوْ نَوَى لَيْلَةَ أَوَّلِ رَمَضَانَ صَوْمَ جَمِيعِهِ لَمْ يَكْفِ لِغَيْرِ الْيَوْمِ الْأَوَّلِ، لَكِنْ يَنْبَغِي لَهُ ذَلِكَ لِيَحْصُلَ لَهُ صَوْمُ الْيَوْمِ الَّذِي نَسِيَ النِّيَّةَ فِيهِ عِنْدَ مَالِكٍ، كَمَا يُسَنُّ لَهُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ الْيَوْمِ الَّذِي نَسِيَهَا فِيهِ لِيَحْصُلَ لَهُ صَوْمُهُ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ، وَوَاضِحٌ أَنَّ مَحَلَّهُ إِنْ قَلَّدَ، وَإِلَّا كَانَ مُتَلَبِّسًا بِعِبَادَةٍ فَاسِدَةٍ فِي اعْتِقَادِهِ، وَهُوَ حَرَامٌ. (كاشفة السجا ١١٧)

Artinya: Apabila seseorang berniat pada awal malam bulan Ramadan untuk melakukan puasa keseluruhannya (sebulan penuh), maka menurut mazhab Syafii itu dihukumi tidak cukup. Kewajiban niat harus dilakukan pada tiap malam harinya. Tetapi menurut pendapat mazhab Maliki, niat jamak puasa 1 bulan adalah sunah, hal ini untuk menjaga puasa yang lupa tidak diniati. Hal senada juga dikemukakan oleh mazhab Hanafi. Tapi yang perlu menjadi catatan adalah kita tidak boleh mencampuradukkan mazhab. Bila ini dilakukan maka yang terjadi adalah kerusakan ibadah.

Wabakdu, sebagai bentuk kehati-hatian dan antisipasi jika kita lupa atau ketiduran, maka kita lantas dianjurkan dan dihukumi boleh mengikuti pendapat (taqlid) Imam Malik untuk berniat sebulan penuh, kemudian sebagaimana pendapat mazhab Syafi’i, kita juga harus membiasakan diri untuk selalu berniat puasa di setiap malam bulan Ramadan yang biasanya ini dilakukan setiap selesai salat Tarawih atau ketika usai santap sahur. Allahu a’lamu.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik ISLAMUNA atau tulisan menarik Ahmad Muhakam Zein