Ibnu Arabi dan Dunia Kewalian
Tidak banyak orang Barat yang ‘fasih’ dan paham berbicara kewalian, kecuali ia benar-benar serius mendalami dari para sufi yang pakar di bidangnya. Dalam dunia tasawuf, Ibnu Arabi adalah sufi terbesar dan paling sukar dipahami—sebagaimana diakui oleh Carra de Vaux— yang pemikirannya melintas di Timur dan Barat. Adalah Ali Chodkiewicz (w. 2020), sosok filsuf muslim asal Prancis yang berhasil mengupas khazanah tentang wali dalam karya-karya Ibnu Arabi.
Dalam tulisan ini, saya akan mengulas salah satu bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Syekhul-Azhar Ahmad Ath-Thayyib dengan judul “Al-Wilayah wa An-Nubuwwah ‘inda Asy-Syaikh Al-Akbar Muhyiddin ibni ‘Arabi”. Ali Chodkiewicz menjadi tertarik pada Ibnu Arabi berkat seorang gurunya, Mustafa Abdul‘aziz, salah satu ulama asal Eropa. Dalam pengakuannya, ia sudah mendalami Ibnu Arabi kurang lebih setengah abad, “Aku membaca karya Ibnu Arabi dengan konsisten, tidak pernah terputus tiap harinya selama kurang lebih setengah abad. Kemudian aku berupaya untuk menyampaikan pada orang lain, apa yang aku dapatkan dari warisan pemikiran Asy-Syaikh Al-Akbar.”
Ada dua alasan buku terbitan Majlis Al-Hukama’ Al-Muslimin tersebut menurut saya patut kita jadikan referensi primer Ibnu Arabi. Pertama, sebagaimana menurut penerjemahnya, Syekhul-Azhar bahwa buku ini penting dibaca oleh kita—orang-orang muslim di Timur— karna kedalaman pengetahuan penulis yang lebih dari lima puluh tahun mengkaji Ibnu Arabi.
Kedua, buku ini memuat banyak pembahasan yang telah luput dari para pengkaji Ibnu Arabi yang lainnya. Sebagaimana Syekh Ahmad Ath-Thayyib katakan “Buku ini membincang dua konteks sekaligus: ia membersihkan pemikiran dan keilmuan Ibnu Arabi dari debu-debu yang menutupinya, begitu juga membersihkannya dari pemahaman yang salah yang telah sesak sejak puluhan dekade. Di saat yang sama ia juga mengembalikan turats Ibnu Arabi dalam bentuk yang benar sebagaimana diinginkan oleh Ibnu Arabi.”
Mari kita lebih dekat pada konten buku tersebut.
Dunia Kewalian Adalah Akar dari Tasawuf
Buku ini sengaja ditulis oleh Ali Chodkiewicz untuk para pembaca Ibnu Arabi di Barat. Dalam pengantarnya, Ali berbicara terlebih dahulu bagaimana gambaran umum Ibnu Arabi di mata para pengkaji Barat. Ketertarikan sarjana Barat terhadap Ibnu Arabi dimulai pada tahun 1919 ketika Nyberg (1889-1974) menyebarkan enslikopedia tulisan-tulisan pendek (risalah) Ibnu Arabi dengan judul, “Kleinere Schriften des Ibn al-Arabi”. Di tahun yang sama pula, Asin Palacios (1871-1944) memberikan kuliah khusus di Spanyol tentang pondasi studinya pada Ibnu Arabi berjudul “Escatologia Musulmana en la Divina Comedia”. Dalam kuliah itu juga Asin memunculkan perbincangan pengaruh Ibnu Arabi pada Dante, penyair besar Italia. Sebuah perbincangan yang tak berhenti dibicarakan sampai sekarang.
Para sarjanawan Barat yang terkenal concern terhadap Ibnu Arabi, seperti Abu ‘Ala Afifi, Henry Corbin, Toshihiko Izutsu, William C. Chittick tak luput dari amatan dan kritik Ali Chodkiewicz. Ia mengulas kelebihan dan kekurangan dari masing-masing para sarjanawan tersebut: seperti kritiknya pada Afifi yang terlalu membawa Ibnu Arabi pada term-term filsafat yang rigid, kritiknya pada Corbin atas keterpengaruhannya pada tradisi Syiah. Namun ia mengakui, kehadiran mereka—sebagaimana disebut Louis Massignon— memberikan sumbangsih besar atas perkembangan studi Ibnu Arabi di Barat.
Kegelisahan utama dari buku tersebut dan termasuk alasan mengapa tema “kewalian” yang menjadi judul besarnya, adalah tradisi mencari berkah dari para wali (At-Tabarruk bi Al-Awliya’) di dalam sejarah yang memunculkan “model ganda” (Al-Unmudzaj Al-Muzdawij) dari sikap para intelektual muslim di masanya. Terutama setelah serangan Ibnu Taimiyah terhadap Ibnu Arabi dan fenomena ‘bid’ah’ dari keberkahan wali tersebut. Menurut Ali, hal ini karena Ibnu Arabi merupakan orang pertama yang menghadirkan teori tentang kewalian secara sempurna sehingga karya-karyanya adalah referensi utama tentang apa itu wali.
Hadirnya para wali dan dunia perwalian adalah kunci dalam khazanah tasawuf. Seolah sejarah dari tasawuf itu sama saja berbicara masa dunia perwalian di dalam Islam. Sejarah bagaimana hubungan para waliyullah dengan umat Islam yang dibimbingnya. Bagaimana mazhab-mazhab tasawuf dan tarekat muncul di baliknya. Itulah keresahan yang mendorong Ali dalam buku ini untuk mengupas peran para wali dalam penyebaran tarekat sufi di dunia Islam.
Secara garis besar kemudian buku ini menyajikan teks-teks penting dari karya Ibnu Arabi tentang dunia wali. Hal yang luput dari sebagian pengkaji Ibnu Arabi, adalah sebagaimana yang disebut Ali, “Sebab Ibnu Arabi—dengan tanpa ucapan berlebihan— sejak lembar pertama dari karya-karyanya hingga akhir lembar, hakikatnya hanya berbicara tentang dunia wali, metode-metodenya, tujuannya, ini adalah sebuah kajian akan “lautan tanpa batas” (jika kita meminjam ungkapan para sufi untuk menunjuk dunia wali)”.
Pembahasan-pembahasan yang diulas kemudian: asal muasal redaksi dan kesaksian Ibnu Arabi tentang wali dari teks-teks primer karyanya, sabda-sabda nabi seputar wali, hakikat Muhammad, para pewaris Nabi, wali Autad yang empat, macam-macam derajat wali, hingga tentang pembahasan tentang penutup para wali Muhammad (Khatm Al-Wilayah Al-Muhammadiyyah).
Walhasil, meski buku ini tidak untuk para pemula yang baru mengenal siapa Ibnu Arabi, namun untuk para peminat Ibnu Arabi, buku ini ‘wajib’ menjadi tambahan referensi dan perspektif. Sebagaimana Syekhul-Azhar rekomendasikan, “Karena buku ini—dengan tanpa fanatisme pada Asy-Syaikh Al-Akbar, atau fanatik pada yang sebaliknya— tanpa ragu akan menjadi pelita di tangan pembaca yang cahayanya akan membimbing untuk membuka banyak hal yang belum diketahui tentang warisan pemikiran Ibnu Arabi.”