Imam Akbar Al-Azhar Terima Delegasi Uskup Katolik Filipina, Bahas Dialog Antaragama

TAWAZUN.ID — Imam Akbar Al-Azhar Syekh Ahmad Ath-Thayyib menerima delegasi Konferensi Waligereja Katolik Filipina di Masyakhah Al-Azhar, Kairo, Kamis (3/9/2026). Pertemuan tersebut membahas dialog antaragama, hidup berdampingan, dan upaya membangun perdamaian di tengah masyarakat yang beragam.

Delegasi dipimpin oleh Uskup Agung Gilbert Garcera, Ketua Konferensi Waligereja Katolik Filipina sekaligus Uskup Agung Lipa. Turut hadir Menteri Wakaf Mesir Usamah Al-Azhari dan Duta Besar Filipina untuk Mesir Charmaine Aviquivil.

Kunjungan tersebut berlangsung di sela program Mesir–Filipina bagi para pemimpin agama untuk dialog, hidup berdampingan, dan pembangunan perdamaian. Program itu mengangkat tema “Pengalaman Mesir dalam Hidup Berdampingan secara Damai dan Membangun Masyarakat yang Merangkul Semua”.

Dalam pertemuan tersebut, Syekh Ahmad Ath-Thayyib menegaskan bahwa dialog yang tulus antara umat Islam dan Kristen menjadi salah satu fondasi penting dalam memperkuat persaudaraan manusia.

Ia juga mengenang hubungannya dengan mendiang Paus Fransiskus. Keduanya bekerja bersama selama lebih dari satu tahun dalam merumuskan Dokumen Persaudaraan Manusia yang kemudian ditandatangani di Abu Dhabi pada 2019.

Menurut Imam Akbar, dokumen tersebut dirancang sebagai panduan untuk menyebarkan perdamaian, persaudaraan, dan kehidupan bersama di tengah perbedaan warna kulit, bangsa, maupun keyakinan.

Islam dan Tradisi Hidup Berdampingan

Syekh Ahmad Ath-Thayyib menegaskan bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan hidup berdampingan, toleransi, dan penerimaan terhadap pihak lain.

Ia mencontohkan peristiwa hijrah sebagian sahabat Nabi Muhammad SAW ke Habasyah ketika umat Islam mengalami tekanan di Makkah. Habasyah ketika itu dipimpin oleh seorang raja beragama Kristen yang memberikan perlindungan kepada kaum muslimin.

Imam Akbar juga menyinggung ketentuan Islam yang membolehkan seorang muslim menikahi perempuan dari kalangan Ahli Kitab. Menurutnya, hubungan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak menghalangi hadirnya kasih sayang, kehidupan keluarga, dan penghormatan terhadap keyakinan pasangan.

Dalam kesempatan yang sama, Syekh Ahmad Ath-Thayyib memperkenalkan pengalaman Bait Al-Ailah Al-Mishriyyah atau Rumah Keluarga Mesir, sebuah lembaga yang dibentuk melalui kerja sama Al-Azhar dan gereja-gereja di Mesir.

Lembaga tersebut dipimpin secara bergantian setiap enam bulan oleh Syekhul-Azhar dan Paus Gereja Ortodoks Koptik. Kehadirannya ditujukan untuk memperkuat persaudaraan kebangsaan sekaligus mencegah konflik sektarian dan berbagai upaya yang dapat memecah masyarakat Mesir.

Jembatan Dialog Mesir dan Filipina

Menteri Wakaf Mesir Usamah Al-Azhari menjelaskan bahwa program Mesir–Filipina bagi para pemimpin agama merupakan hasil koordinasi dan kunjungan timbal balik antara kedua negara.

Program tersebut, menurutnya, diarahkan untuk membuka jembatan dialog, bertukar pengalaman, serta mencari pendekatan bersama dalam membangun masyarakat yang aman dan stabil.

Sementara itu, Uskup Agung Gilbert Garcera menyebut kunjungan ke Al-Azhar sebagai sebuah “dialog kenangan” antara umat Islam dan Kristen.

Ia menilai pengalaman Syekh Ahmad Ath-Thayyib bersama Paus Fransiskus, termasuk lahirnya Dokumen Persaudaraan Manusia, telah memberikan contoh nyata mengenai dialog dan persaudaraan yang dapat menjadi rujukan dalam menghadapi berbagai tantangan dunia saat ini.

Delegasi Filipina yang berkunjung ke Al-Azhar terdiri atas sejumlah uskup dan pejabat Konferensi Waligereja Katolik Filipina yang menangani bidang dialog antaragama, kebudayaan, urusan publik, dan administrasi lembaga.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pertukaran pengalaman antara pemimpin agama di Mesir dan Filipina dalam bidang dialog antaragama dan pembangunan perdamaian.


💡
Baca juga BERITA terbaru atau pilih ragam tulisan lain di Situs Tawazun ID