Imam Akbar Al-Azhar Terima Duta Besar Belanda, Bahas Krisis Kemanusiaan Global

TAWAZUN.ID — Imam Akbar Al-Azhar Dr. Ahmad Ath-Thayyib menegaskan bahwa tatanan politik global saat ini telah kehilangan kompas moral, sehingga kekuasaan semata menjadi filosofi yang mengatur hubungan internasional. Menurutnya, tragedi kemanusiaan dan genosida yang terjadi di Gaza secara terang-benderang menunjukkan absennya pencegah moral dan etika dalam sistem dunia kontemporer.

Pernyataan tersebut disampaikan Imam Akbar saat menerima Duta Besar Belanda untuk Hak Asasi Manusia Wim Geerts di Masyakhah Al-Azhar, Kairo, pada Selasa 13 Januari 2026. Pertemuan itu membahas sejumlah isu global yang menjadi perhatian bersama, khususnya krisis kemanusiaan dan tantangan moral dalam politik internasional.

Imam Akbar Al-Azhar menjelaskan bahwa politik global yang semestinya berperan menyelesaikan persoalan dan krisis dunia justru kini kerap melemparkan beban masalah kepada pihak lain. Ia menilai, akar dari berbagai tantangan besar yang dihadapi umat manusia saat ini adalah tersingkirnya peran agama, moral, dan nilai-nilai kemanusiaan dari lembaga-lembaga yang seharusnya membimbing masyarakat dunia.

“Ketika nilai moral disingkirkan, kekuasaan menjadi satu-satunya prinsip yang mengatur politik global. Inilah yang kita saksikan hari ini di berbagai belahan dunia,” ujar Imam Akbar Al-Azhar.

Ia juga menggambarkan kondisi global saat ini sebagai situasi yang menimbulkan kecemasan dan keputusasaan kolektif. Menurutnya, banyak pihak mulai mempertanyakan apakah masyarakat dunia masih memiliki harapan untuk memperoleh hak dan kebebasan mereka, atau justru sedang menuju era baru yang menyerupai zaman kegelapan, penuh kekacauan dan tirani.

Palestina

Kumpulan tulisan yang mengangkat isu dan perjuangan Palestina dapat kalian temukan

di sini

Terkait agresi di Gaza, Imam Akbar Al-Azhar menegaskan bahwa kekerasan terhadap warga sipil tak bersalah telah membuka mata dunia terhadap satu kenyataan pahit: tidak adanya kekuatan moral atau pencegah etis yang mampu menghentikan perang pemusnahan dan pelanggaran berat terhadap martabat manusia.

Dalam kesempatan itu, ia juga menolak keras upaya mengaitkan agama dengan ekstremisme dan terorisme. Menurutnya, semua agama sama sekali tidak bertanggung jawab atas tindakan kekerasan tersebut. Tuduhan semacam itu, kata dia, muncul akibat penyalahgunaan agama oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan politik, dengan cara memanipulasi teks keagamaan demi merebut hak, kekayaan, dan tanah orang lain.

“Tidak ada satu pun teks agama yang membenarkan pembunuhan, ekstremisme, atau genosida. Terorisme yang mengatasnamakan agama pada hakikatnya adalah produk dari ketidakadilan kebijakan global, kekacauan kekuasaan, maraknya perdagangan senjata, dan pengejaran keuntungan materi tanpa batas,”tegasnya.

Sementara itu, Duta Besar Belanda untuk Hak Asasi Manusia Wim Geerts menyampaikan apresiasinya atas peran Imam Akbar Al-Azhar dalam mempromosikan nilai-nilai hidup berdampingan, persaudaraan, dan perdamaian. Ia secara khusus memuji inisiatif “Bait Al-‘Ailah Al-Mishriyyah” sebagai contoh inspiratif koeksistensi positif antara umat Islam dan Kristen di Mesir.

Geerts juga menyatakan kesepakatannya dengan pandangan Imam Akbar Al-Azhar mengenai pentingnya melawan “virus kebencian” yang mengancam kemanusiaan secara global. Ia menekankan perlunya komitmen bersama untuk menegakkan hukum internasional serta menjaga independensi lembaga-lembaga internasional guna memastikan keadilan dalam tatanan dunia.


💡
Baca juga warta lain di rubrik BERITA atau pilih ragam tulisan lain di Situs Tawazun ID