Imam Kebijaksanaan di Zaman Kegelisahan: Potret Kepemimpinan Syekhul-Azhar Ahmad Ath-Thayyib

Pada peringatan hari kelahiran Yang Mulia Imam Akbar Prof. Dr. Ahmad Ath-Thayyib, Syekhul-Azhar, kita sejatinya sedang menapak tilas perjalanan seorang ulama rabbani yang berdiri di puncak kepemimpinan Al-Azhar—mercusuar dunia Islam dalam menebarkan nilai moderasi dan keseimbangan. Ia adalah sosok yang setia memikul amanah, teguh dalam misi, dan jernih dalam menasihati umat agar tetap berjalan di atas jalan kebenaran. Di tengah pusaran polarisasi, ia menjelma sebagai hati nurani umat yang hidup, kompas kebijaksanaan di zaman kegaduhan, serta penjaga bahtera Al-Azhar di tengah gelombang zaman yang bergejolak.

Imam Akbar tumbuh dalam lingkungan keluarga Azhari yang terhormat. Sejak belia, ia telah menghirup udara keilmuan dan menyerap makna risalah Islam. Perjalanan intelektualnya ditandai oleh perpaduan yang kokoh antara ilmu akidah, filsafat, dan khazanah turats Islam dengan persoalan-persoalan kontemporer yang terus berkembang. Ketika Allah menakdirkannya memimpin Al-Azhar, ia menerima amanah itu dengan kesadaran seorang zahid, ketundukan seorang hamba, dan rasa tanggung jawab seorang pemimpin sejati. Ia memimpin bukan dengan kebesaran jabatan, melainkan dengan keluasan ilmu dan keluhuran akhlak. Ia adalah syekh yang mengajar sebelum memerintah, menimbang sebelum menilai, dan membimbing sebelum menegur.

Imam Akbar memahami bahwa ancaman terbesar bagi agama bukanlah serangan dari luar, melainkan kesalahpahaman dari dalam. Karena itu, proyek pembaruan pemikiran keagamaannya ditempuh secara tenang, mendalam, dan penuh kehati-hatian. Ia menolak pembaruan semu yang mengosongkan teks dari ruhnya, sebagaimana ia juga menolak sikap jumud yang membelenggu agama dalam kerangka masa silam. Baginya, pembaruan sejati terletak pada upaya menyambung kembali teks dengan realitas, menghidupkan maqashid syariah tanpa mengorbankan prinsip-prinsipnya. Ia menegakkan dialog dengan bahasa akal, menghadapi gagasan dengan gagasan, bukan dengan caci maki atau teriakan emosi. Di bawah kepemimpinannya, lahir berbagai inisiatif ilmiah dan kelembagaan yang menanggulangi ekstremisme hingga ke akarnya, serta membongkar kepalsuan kelompok-kelompok yang menyalahgunakan agama untuk membenarkan kekerasan.

Masa-masa kepemimpinan Imam Akbar bertepatan dengan periode penuh gejolak politik dan ketegangan sosial. Namun, ia memilih jalan yang paling sulit sekaligus paling mulia: menjaga Al-Azhar tetap kokoh tanpa menyeretnya ke pusaran konflik sesaat. Ia tidak berpihak pada kepentingan sempit, tetapi berdiri bersama bangsa, bersama persatuan masyarakat, menentang anarki, takfiri, dan polarisasi. Ia memelihara independensi Al-Azhar bukan dalam arti menjauh dari realitas, melainkan dalam arti menjaga kebijaksanaan. Al-Azhar tetap menjadi rumah bersama, bukan arena pertarungan. Melalui inisiatif seperti Bait Al-‘Ailah Al-Mishriyyah, ia menghadirkan model nyata koeksistensi, menegaskan bahwa agama—bila dipahami secara benar—adalah jembatan, bukan jurang; tempat berlindung, bukan senjata.

Dalam bidang dialog antaragama, Imam Akbar melangkah dengan penuh martabat dan kesetaraan. Puncak dari upaya ini adalah penandatanganan Dokumen Persaudaraan Manusia, sebuah tonggak sejarah yang melampaui sekadar simbol diplomatik. Dokumen itu merupakan deklarasi moral bahwa agama tidak pernah dilahirkan untuk menumbuhkan kebencian, melainkan untuk menyembuhkan luka-luka kemanusiaan.

Resensi

Kumpulan ulasan buku dan kitab menarik dapat teman-teman baca

di sini

Ia berkeliling dunia membawa suara Islam moderat. Di berbagai forum internasional, Al-Azhar di bawah kepemimpinannya diakui sebagai otoritas moral dalam isu perdamaian, koeksistensi, dan perlawanan terhadap Islamofobia. Suaranya bergema karena lahir dari ketulusan dan keteguhan prinsip. Ia membela Palestina bukan sebagai isu politik semata, tetapi sebagai persoalan keadilan kemanusiaan. Ia menolak tegas distorsi citra Islam atas nama terorisme, seraya menegaskan bahwa pembunuhan tidak pernah beragama, dan ekstremisme adalah pengkhianatan terhadap pesan Ilahi sebelum menjadi kejahatan di dunia nyata. Dalam setiap pidatonya, ia selalu mengingatkan bahwa tujuan akhir seluruh risalah samawi adalah memuliakan manusia dan menjaga martabatnya.

Maka ketika kita berbicara tentang Imam Akbar, sesungguhnya kita tidak hanya mengisahkan perjalanan seorang tokoh, tetapi menuturkan jejak sebuah madrasah pemikiran—madrasah yang berdiri di atas ilmu, keseimbangan, kedalaman, kasih sayang, penghormatan terhadap akal sehat, serta komitmen menjaga agama dari sikap ekstrem maupun kelalaian. Ia menapaki jenjang keilmuan hingga menjadi profesor filsafat Islam, menguasai tradisi teologis, memahami pemikiran Imam Al-Asy’ari, dan menghayati warisan Imam Al-Ghazali yang memadukan akal dengan wahyu, filsafat dengan teks. Jauh sebelum memegang jabatan Syekhul-Azhar, ia telah dikenal sebagai cendekiawan yang memahami bobot sebuah kata dan beratnya amanah fatwa.

Bagi Imam Akbar, pencerahan bukanlah tentang bersikap konfrontatif terhadap masyarakat atau merasa lebih unggul dari orang lain. Pencerahan sejati adalah memuliakan akal umat, menjaga identitasnya, dan menghubungkan agama dengan realitas kehidupan tanpa sikap meremehkan ataupun berlebihan.

Pada peringatan hari kelahirannya, kita diingatkan bahwa bangsa tidak dibangun oleh emosi, tetapi oleh kejernihan akal; tidak dijaga oleh hiruk pikuk slogan, melainkan oleh kebijaksanaan. Ia hadir di masa kebingungan sebagai simbol keseimbangan, di masa kekacauan sebagai mercusuar kesadaran, dan di masa kekerasan sebagai suara kasih sayang.

Kita tidak sedang merayakan bertambahnya usia seorang tokoh, melainkan menandai sebuah fase penting dalam perjalanan Al-Azhar dan umat Islam. Kita merayakan seorang ulama yang memahami bahwa kepemimpinan bukanlah soal gaduh, pembaruan bukanlah soal merobohkan segalanya, dan agama adalah amanah yang terlebih dahulu dihayati dalam hati sebelum diucapkan oleh lisan. Ia adalah Imam kebijaksanaan di tengah kecemasan zaman, penjaga moderasi di era ekstremisme, serta saksi hidup bahwa ketika ilmu berpadu dengan etika, sejarah agung pun tercipta.

Kata-kata tak akan pernah cukup untuk menggambarkan keluasan ilmu, kedalaman pemikiran, dan keluhuran akhlak Yang Mulia Imam Akbar. Siapa pun yang mengenalnya dari dekat akan mendapati sosok yang rendah hati, zuhud, peka terhadap penderitaan manusia, dan tulus membela kaum lemah. Suaranya selalu lantang dalam kebijaksanaan, bukan dalam hiruk-pikuk slogan. Karena ketulusan itulah, Allah menganugerahinya kedudukan mulia di hati manusia sebelum di mimbar-mimbar kehormatan. Ia adalah imam yang jujur dalam perkataan dan teguh dalam perbuatan—teladan kepemimpinan ulama di zaman yang sangat membutuhkan cahaya kebijaksanaan.


💡
*Tulisan ini diterjemahkan dari kolom Prof. Dr. Abbas Syuman, Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Pusat, Sekretaris Jenderal Hai'ah Kibar Al-Ulama, dan Ketua Lajnah Tinggi untuk Rekonsiliasi.

Penerjemah: Lukman Hakim R.
Penyunting: Mu'hid Rahman