Jejak Santri Nusantara Abad 11 H di Perpustakaan Al-Azhar

Mengadakan perjalanan dalam menuntut ilmu merupakan kebiasaan para pendahulu kita. Terlebih bagi umat yang mempunyai slogan Iqra' (Bacalah!). Kanjeng Nabi Muhammad SAW sendiri memerintahkan untuk menuntut ilmu. Bahkan di sebagian redaksi: meski sampai ke negeri Cina. Perintah Al-Quran dan hadits di atas merupakan salah satu landasan para ulama untuk menjelaskan urgensi menuntut ilmu.

Para sahabat benar-benar melaksanakan tuntunan di atas. Sehingga beberapa di antara mereka rela melakukan perjalanan yang cukup jauh untuk mendengar sebuah hadits yang didengar langsung dari Rasulullah SAW. Semangat melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu yang dilakukan oleh para pendahulu terekam jelas dalam kitab Ar-Rihlah fi Thalab Al-Hadits karya Syekh Al-Khatib Al-Baghdadi (w. 463 H).

Spirit melakukan perjalanan ini terus diwariskan turun temurun hingga sampai kepada pemeluk agama Islam yang tinggal di kawasan yang jauh dari pusat peradaban Islam. Di antara kawasan yang dimaksud adalah kawasan Nusantara. Para pelajar Islam Nusantara yang saat ini lazim disebut sebagai santri telah melakukan perjalanan ke Timur Tengah sejak berabad-abad yang lampau. Pada umumnya mereka mendatangi kawasan Hijaz. Sebab kawasan ini, di samping sebagai pusat pendidikan, juga sebagai pusat kegiatan spiritual.

Pada abad ke-11 H (16/17 M) telah banyak santri Nusantara yang bepergian ke Timur Tengah. Di antara nama-nama yang disebutkan oleh Prof. Azyumardi Azra dalam bukunya adalah Syekh Abdurrauf As-Singkili dari Singkel, Aceh, dan Syekh Yusuf Al-Maqassari dari Makassar. Tentu kedua nama ini hanya sebagian kecil dari para santri Nusantara abad 11 H yang berkesempatan menimba ilmu di Timur Tengah.

Dr. Ginanjar Sya'ban dalam tulisan-tulisannya yang tersebar di beberapa website mendata beberapa nama lain selain dua nama di atas. Nama-nama yang dimaksud adalah Syekh Abdusysyakur bin Abdulkarim Al-Bantani dari Banten, Syekh Muhammad bin Abdullathif Al-Bantani dari Banten, Syekh Abdulmahmud bin Shalih Al-Matarami dari Mataram, Jawa, dan Syekh Jamaluddin bin Syarafuddin Al-Minangkabawi dari Minangkabau. Santri-santri yang disebut di atas merupakan murid-murid Syekh Ibrahim Al-Kurani (w. 1101 H/ 1690 M) yang meninggalkan jejak berupa manuskrip yang tersimpan di beberapa perpustakaan.

Data nama yang disampaikan Prof. Azyumardi dan Dr. Ginanjar di atas sangatlah menarik. Sebab di masa yang masih sangat awal ternyata santri Nusantara telah menjelajahi dunia. Hal ini menunjukkan bahwa santri Nusantara bukanlah santri yang "kurang pergaulan". Mereka terhubung dengan para ulama dunia Islam.

Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyebutkan satu nama lagi yang belum masuk dalam data nama santri di atas. Santri Nusantara yang dimaksud adalah Syekh Muhammad Husain Al-Jawi. Nama ini muncul dalam daftar penyalin manuskrip koleksi Perpustakaan Umum Al-Azhar.

Terkait biografi dan data lebih lanjut dari nama terakhir ini belum banyak tersingkap. Hanya saja, nisbah Al-Jawi yang disematkan di belakang nama beliau menunjukkan dari mana beliau berasal. Tentu kata Al-Jawi menunjukkan bahwa santri ini berasal dari Nusantara. Memang tidak ada keterangan yang lebih detail mengenai dari Nusantara mana beliau berasal. Yang jelas beliau merupakan salah satu santri Nusantara.

Biografi

Sepilihan riwayat hidup para tokoh dapat teman-teman temukan

di sini

Hal menarik yang perlu disampaikan di sini adalah bahwa Syekh Muhammad Husain Al-Jawi telah selesai menuliskan kitab Al-Fathu Al-Mubin karya Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H) pada tahun 1052 H (1642 M). Kitab ini merupakan syarah atas kitab Al-Arba'in An-Nawawiyyah. Manuskrip kitab ini berada di Perpustakaan Umum Al-Azhar dengan kode nomor umum 5975 dan nomor khusus 683 (hadits). Kitab ini terdiri dari 209 lembar (rekto dan verso) dengan rata-rata 21 baris setiap halamannya.

Pada mulanya, manuskrip ini diwakafkan kepada Riwaq Ar-Riyafah. Riwaq Ar-Riyafah merupakan hunian untuk para talib Al-Azhar yang berasal dari pedesaan di Mesir. Riwaq ini merupakan riwaq yang keberadaannya sudah sangat lama. Dalam manuskrip juga terdapat data nama orang yang mewakafkan, yakni Mahmud Jurbaji Al-Kharbuthi.

Data lebih lanjut dari manuskrip ini masih menjadi misteri. Di dalamnya tidak dicantumkan di mana beliau menuliskan kitab tersebut. Sehingga hal ini membuka banyak celah untuk beramsumsi. Seandainya Syekh Muhammad Husain Al-Jawi menuliskannya di Al-Azhar, mungkin bisa dikatakan beliau adalah santri asal Nusantara pertama di Al-Azhar. Tentu saja untuk menyimpulkan ini butuh data lebih lanjut.

Ada hal lain yang menurut penulis cukup menarik dari manuskrip ini. Ada banyak naskah manuskrip kitab Al-Fath Al-Mubin yang dikoleksi oleh Perpustakaan Umum Al-Azhar. Jika melihat daftar manuskrip dengan judul yang sama itu, manuskrip yang disalin oleh Syekh Muhammad Husain Al-Jawi ini cukup tua jika dibandingkan dengan yang lain. Naskah yang paling tua selesai ditulis pada tahun 985 H, sementara yang lebih muda selesai pada tahun 998 H. Naskah Syekh Muhammad Husain Al-Jawi selesai ditulis pada 1052 H sehingga naskah ini menempati ranking ketiga tertua. Hal ini tentu mempunyai nilai dan urgensi tersendiri, terlebih dalam dunia filologi atau kritik teks (tahqiq an-nushush).

Terlepas siapa detail sosok Syekh Muhammad Husein Al-Jawi dan di mana beliau menyalin kitab di atas, yang pasti adalah jejak tulisan beliau menjadi koleksi perpustakaan institusi Islam kesohor Al-Azhar. Dan kuat kemungkinan beliau merupakan santri Nusantara abad ke-11 yang telah menjelajah ke pusat keislamandan meninggalkan jejak di sana. Sehingga di momen Hari Santri Nasional yang baru saja diperingati, sangat patut jika kita mengikuti jejak Syekh Muhammad Husain Al-Jawi dalam menorehkan sejarah.

Wallahu A'lam bi ash-shawab.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BUDAYA atau tulisan menarik Munawar Ahmad Sodikin