Keberadaan Majas dalam Al-Quran
Hari ini bagi yang menginginkan kembali ke Al-Quran dan sunnah, seharusnya lebih dulu mempelajari ilmu bahasa Arab. Perangkat ilmu bahasa Arab itu sangatlah luas. Nah, bagi yang pernah mempelajari bahasa Arab dengan mendalam tentu tak akan langsung tergoda dengan jargon mari kita kembali ke Al-Quran dan sunnah tanpa melewati pemahaman para ulama. Kenapa demikian? Karena bahasa Arab dipelajari hingga hari ini, sebab itu adalah bahasa Al-Quran. Para ulama salaf nan saleh mempelajari bahasa Al-Quran yang luhur itu dari masa ke masa sehingga kita hari ini tinggal memahami bahasa itu secara matang. Mereka adalah orang yang telah bersungguh-sungguh menyusun kaidah-kaidah, menghimpun kosakatanya, mencari rahasia-rahasia bahasa dalam Al-Quran agar kita juga mengetahui kedalaman samuderanya.
Kalau melihat masa lampau, yakni di masa Al-Quran turun, para penyair tak mampu menandingi Al-Quran. Sekelas Sayidina Umar bin Al-Khaththab, seorang sahabat yang hafal ribuan syair saja masih menanyakan makna kata Fathir (فاطر) dalam salah satu ayat Al-Quran. Namun, di masa kini ada sebagian orang yang tak pernah belajar bahasa Arab sama sekali tapi berbicara secara enteng, "Mari kembali ke Al-Quran dan sunnah."
Bagi penulis, inilah wabah atau virus yang terparah hari ini. Yaitu menggampangkan dan menganggap ilmu serta pemahaman ulama itu keliru. Meyakini dirinya mampu dan sama seperti ulama masa lampau yang dulu berkutat setiap hari mentadaburi Al-Quran dan hadis setiap waktunya sesuai yang dipahami Rasulullah SAW.
Sebagian orang itu seolah-seolah berkata bahwa kami mampu dan bisa memahami Al-Quran secara langsung tanpa melewati tafsiran ulama dan memahami hadis tanpa penjelasan ulama. Sebagiannya lagi malah dengan serampangan menggunakan jargon "mereka rijal (para ulama) kami pun rijal (ulama)". Padahal mereka tak sadar jika dalam banyak permasalahan mereka telah menghancurkan pemahaman yang dibangun oleh ulama-ulama Rabbani.
Di sini saya ingin menulis kekeliruan yang mereka tak sadari itu mengenai bahasa Al-Quran yang secara tekstualis dipahami.
Kata Yad, Wajh, dan sifat-sifat yang tak layak ketika dinisbatkan kepada Allah SWT, Tuhan alam semesta ini mereka pahami secara tektualis. Dalam hal ini saya contohkan makna Yad (يد) yang dipahami oleh mereka dengan makna tangan sesungguhnya. Dalam Surah Al-Fath ayat 10:
يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ
Ayat itu mereka pahami "tangan Allah diatas tangan-tangan mereka" dan meyakini bahwa Allah mempunyai tangan yang berbeda dengan tangan manusia. Dengan makna senyatanya. Padahal, jikalau mereka belajar bahasa Arab dengan matang dan mempelajari agama dengan serius kepada para ulama Rabbani, mereka tidak akan memahami hal itu secara tektualis.
Para ulama di Al-Azhar dan para kiai di pesantren saya sering mengatakan bahwa semua bahasa, bahasa apapun yang dipakai oleh manusia tidak semuanya dibawa ke dalam makna yang senyatanya, hakikat. Dalam bahasa apapun yang digunakan oleh umat manusia pasti ada hakikat dan ada majas. Dengan demikian, tak mungkin Al-Quran turun menggunakan bahasa yang tidak dipahami oleh bangsa Arab pada waktu itu.
Apalagi sebelum Al-Quran turun, bangsa Arab dikenal ulung menggunakan bahasa sastrawi. Maka, secara otomatis bahasa-bahasa sastra tak asing dipahami oleh bangsa Arab muamalahnya setiap harinya. Dengan demikian, tak mungkin Al-Quran turun menggunakan bahasa-bahasa yang tidak dipakai dan tidak dipahami oleh bangsa Arab pada waktu itu.
Akan tetapi, kaum tekstualis memahami secara begitu saja 'tangan Allah' dengan makna senyatanya sehingga mereka memvisualkan Allah SWT. Ini adalah sebuah kekeliruan dalam keyakinan Ahlussunnah wal jama'ah.
Sedangkan dalam ayat yang lain dalam Al-Quran Allah menegaskan tak ada yang menyerupai Allah, karena Allah berbeda dengan makhluk-Nya. Dalam arti Allah tidak sama dengan makhluknya. Dalam pemahaman Ahlussunnah jika Allah menyerupai makhluk-Nya maka Allah itu baru. Sedangkan kebaruan Allah itu mustahil menurut akal kita. Maka, jika menggunakan pemahaman kaum tekstualis, tentu akan ada pertentangan dengan ayat terkait dan jelas tidak mungkin demikian.
Lalu, bagaimanakah status majas dalam Al-Quran?
Kaum tekstualis mengatakan dengan mudah bahwa tidak ada majas dalam Al-Quran dan bahasa Arab. Pandangan ini justru menyalahi pendapat banyak ulama masa lampau. Kaum tekstualis merujuk ke pendapat salah satu nama, yaitu Ibnu Taimiyyah, ulama abad ke-7 Hijriah yang bersikukuh menganggap majas sebagai saudara kebohongan. Sedangkan Al-Quran jelas-jelas pasti menafikan kebohongan karena ia adalah kalam ilahi. Pada akhirnya, Ibnu Taimiyyah menyalahkan para ulama mufassir sebelumnya yang menafsiri Al-Quran dalam ayat-ayat mutasyabihat dengan pendekatan majas. Ia menulis buku yang secara serius membantah majas tersebut.
Dengan demikian, terkait majas ini ada ulama yang menafikan keberadaannya dalam Al-Quran saja sedangkan dalam bahasa Arab tidak, ada pula ulama yang menafikan majas dalam bahasa Arab dan Al-Quran secara keseluruhan, serta ada juga yang tidak menafikannya, dalam arti menetapkan keberadaan majas dalam Al-Quran dan bahasa Arab.
Dan jika kita tinjau dengan melihat pandangan jumhur ulama seperti yang dikuatkan oleh Syeikh Abdul'azhim Al-Math'ani dalam bukunya Al-Majaz fi Al-Lughah wa Al-Quran. Ulama yang lahir dari rahim Al-Azhar ini menulis buku tersebut setebal 1000 halaman lebih, mengumpulkan pendapat-pendapat para ulama dari masa primordial Islam hingga ulama yang hidup di masanya terkait problematika majas ini. Ia mengatakan dan menetapkan keberadaan majas dalam Al-Quran dan bahasa arab.
Kata Yad dalam kasus ayat di atas oleh jumhur ulama dipahami dengan makna yang layak bagi Allah SWT. Mereka menakwilkan dengan sangat layak bagi Allah. Yaitu Qudrat (kekuasaan). Ini yang dipahami oleh ulama khalaf Ahlussunnah wal Jama'ah. Sedangkan menurut ulama salaf, ulama yang hidup di masa primordial Islam hingga abad ke-3 Hijriah, dalam ayat-ayat mutasyabihat mereka memilih tafwidh. Tafwidh adalah memasrahkan maknanya kepada Allah SWT, memilih diam tak mengartikan kata tersebut.
Namun, di masa banyaknya orang yang menanyakan mengenai pemahaman makna dari ayat-ayat mutasyabihat tersebut, sebagian ulama memilih jalan takwil, yaitu melalui pendekatan kebahasaan, dengan pendekatan majas hingga sampai pada makna yang layak bagi Allah SWT. Wallahu A'lam.
Baca juga artikel lain di rubrik ISLAMUNA atau tulisan menarik Irfan Rifqi Fauzi