Ketika Allah Memberi dengan Cara Menahan: Refleksi atas Hikam Ibnu Athaillah (2)
Saat keadaan dan kenyataan hidup tidak sesuai dengan keinginan, saat doa tak kunjung menemui jawaban, saat kepahitan, kegetiran hidup terus menerus datang membuatnya berada diambang keputusasaan; saat itulah, banyak manusia gagal paham kepada Tuhan. Padahal Tuhan tidak sedang bermain dadu dengan alam semesta. “God does not play dice with the universe”. Tuhan itu sebaik-baiknya pembuat skenario, “Tabarakallahu Ahsanul Khaliqin”.
Dalam tulisan sebelumnya, kita telah merefleksikan dua kondisi dasar manusia: bahagia dan sedih, sebagai salah satu cara Allah menyingkapkan Diri-Nya (tajalli) dalam kehidupan. Ibnu Athaillah As-Sakandari mengingatkan agar hati tidak terjebak dan condong pada salah satunya. Bahagia dan sedih sejatinya setara; keduanya hanyalah medium pengenalan, bukan tujuan.
Dalam tulisan ini, saya ingin mengajak pembaca menyelami dua kondisi lain yang sangat erat kaitannya dengan bahagia dan sedih, yakni Al-Man’u wa Al-‘Atha'—pencegahan dan pemberian Allah. Bagaimana kita bisa memahami dua kondisi tersebut dalam kehidupan kita.
Secara naluriah, hati manusia akan merasa bahagia ketika Allah memberinya sesuatu: rezeki yang lapang, urusan yang mudah, kedudukan, kesehatan, atau ketenteraman hidup. Sebaliknya, ketika Allah mencegah—dengan kesempitan, kegagalan, atau cobaan—hati merasa sedih, kecewa, bahkan memberontak.
Hal ini terjadi karena pemberian-Nya biasanya identik dengan kelapangan urusan dunia, amat disukai oleh nafsu. Saat itu, manusia merasa bahagia. Sebaliknya, ketika Allah mencegah dengan kesulitan, lalu nafsu merasa terhalangi. Manusia merasakan kesedihan dan penolakan batin.
Namun, justru di sinilah letak kedalaman hikmah ilahi. Ibnu Athaillah menyingkap tabir ini dengan ungkapan yang menggugah:
“Bisa jadi Allah memberimu sesuatu, namun pada saat yang sama Dia mencegahmu dari yang lain. Dan bisa jadi Allah mencegahmu dari sesuatu, padahal di situlah Dia sedang memberimu.” (Hikam Ibnu Athaillah, bait ke-93)
Ungkapan ini menggoyahkan cara pandang kita yang selama ini memisahkan secara kaku antara pemberian dan pencegahan.
Hakikat yang Terbalik
Dalam hikmah ke-93 dan ke-94, Ibnu Athaillah menyampaikan sebuah kaidah tasawuf yang sangat mendalam:
“Al-Man’u ‘Ain Al-‘Atha' wa Al-‘Atha' ‘Ain Al-Man’”,
Artinya, “Hakikat pencegahan Allah itu adalah pemberian, dan hakikat pemberian-Nya itu adalah pencegahan.”
Ini adalah pemahaman yang saling bertaut dan terbalik secara lahiriah. Di balik apa yang tampak sebagai pemberian, bisa jadi tersembunyi pencegahan. Dan di balik apa yang tampak sebagai pencegahan, bisa jadi terdapat pemberian yang lebih hakiki.
Misalnya seseorang diberi oleh Allah gemerlap dunia: harta melimpah, jabatan, pengaruh, dan kenyamanan hidup. Namun pada saat yang sama, ia dicegah dari kenikmatan batin: kenikmatan zikir, kekhusyukan salat, dan kedekatan dengan Allah. Itulah keadaan di mana Allah memberinya makanan jasad (qūt al-asybāh), tetapi mencegahnya dari makanan ruh (qūt al-arwāh).
Inilah yang oleh Syekh Asy-Syarqawi disebut sebagai al-man’u al-haqīqī—pencegahan yang sejati. Pemberian yang tampak secara lahir justru menjadi hijab secara batin. Karena itu, para arif mengingatkan agar kita tidak menilai pemberian Allah hanya dari sisi lahiriah semata.
Cobaan Justru dapat Menghidupkan Hati
Sebaliknya, Allah bisa saja tidak melapangkan rezeki dunia seseorang, membatasi kenyamanan hidupnya, atau menahannya dari berbagai kesenangan. Namun di balik itu, Allah justru sedang memberinya sesuatu yang jauh lebih bernilai: mengangkat keadaan, kesadaran dan kedudukan hatinya di hadapan Allah. Inilah kondisi dimana Allah hendak memberi dengan cara menahan.
Dalam kondisi ini, Allah sejatinya sedang mencegah hawa nafsu untuk terus menguasai batin seseorang agar ruh bisa hidup. Kesempitan yang ia rasakan hakikatnya adalah penjagaan dan kesusahan menjadi gerbang kedekatan dia kepada Allah. Apa yang tampak sebagai kehilangan, sesungguhnya adalah penjagaan.
Karena itulah, dalam hikmah ke-104, Ibnu Athaillah menyindir manusia yang terlalu cepat menilai perlakuan Allah berdasarkan rasa:
“Ketika Allah memberimu, sesungguhnya Dia sedang memperlihatkan kasih sayang-Nya kepadamu. Dan ketika Dia menolak memberimu, sesungguhnya Dia sedang memperlihatkan kekuasaan-Nya. Namun dalam keduanya, Dia hendak memperlihatkan Diri-Nya kepadamu dan ingin menjumpaimu dengan kelembutan-Nya.” (Hikam Ibnu Athaillah, bait ke-103).
Pemberian dan penolakan itu bukanlah tujuan, melainkan wasilah—cara halus yang digunakan Allah untuk menarik hamba-Nya agar lebih dekat. Kadang dengan kelapangan, kadang dengan kesempitan. Semuanya dilakukan dengan kelembutan yang sering luput dari pandangan nafsu.
Pada akhirnya, bahagia dan sedih, lapang dan sempit, memberi dan mencegah—semuanya adalah bahasa cinta Allah kepada hamba-Nya. Yang membedakan hanyalah mata hati: apakah kita berhenti pada bentuk lahirnya, atau menembus hingga makna batinnya.
Jika hati kita telah jernih, maka ia akan melihat bahwa setiap keadaan adalah undangan untuk mengenal Allah lebih dekat. Tidak lagi sibuk bertanya, “Mengapa permintaanku tidak dikabulkan?”, melainkan sampai pada kesadaran yang lebih dalam: “Apa yang Allah ingin perlihatkan tentang Diri-Nya kepadaku melalui keadaan ini?”
Di situlah puncak ketenangan seorang hamba—ketika ia tidak lagi terpaut pada pemberian atau pencegahan, melainkan pada Sang Pemberi itu sendiri.