Keutamaan dan Amalan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang penuh berkah dan keagungan. Di dalamnya terdapat hari-hari penting yang diagungkan oleh umat Islam di seluruh dunia. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan waktu yang sangat istimewa, di mana Allah SWT melipatgandakan pahala bagi hamba-Nya yang beramal shalih. Mari kita simak bersama keutamaan dan amalan yang dapat kita lakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini.
Bulan Dzulhijjah, dari awal hingga akhir, merupakan momen istimewa bagi umat Islam. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Dua bulan ‘Id tidak pernah berkurang, yaitu bulan Ramadan dan bulan Dzulhijjah.”
Dalam syarahnya, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "tidak pernah berkurang" adalah bahwa pahala kedua bulan tersebut tidak akan berkurang, meskipun secara lahir jumlah harinya mungkin tidak genap 30 hari.
※ Makna Setan Dibelenggu Saat Ramadan
Dengan ragam keutamaannya, bulan Dzulhijjah menjadi sangat penting dalam hati setiap muslim. Selain menjadi waktu pelaksanaan ibadah haji, rukun Islam yang kelima, bulan ini juga menjadi waktu penyembelihan hewan kurban. Selain haji dan kurban yang hanya dapat dijalankan oleh umat Islam yang mampu secara finansial, bulan ini juga menawarkan amalan-amalan yang tidak kalah istimewa dan bisa dilakukan oleh seluruh umat Islam. Berikut adalah sejumlah keutamaan dan amalan yang seyogianya diketahui dan diamalkan oleh setiap muslim:
Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
Hari-hari untuk Berdzikir
Dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah, Allah SWT berfirman:
Artinya: "Berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan jumlahnya."
Dalam Tafsir Al-Qurthubi, mengutip dari Imam Al-Bukhari, disebutkan bahwa menurut sahabat Ibnu ‘Abbas, yang dimaksud dengan "hari-hari yang telah ditentukan jumlahnya" adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, hari-hari tersebut sangat dianjurkan untuk memperbanyak dzikir kepada Allah SWT.
Hari-hari yang Disumpahkan oleh Allah
Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman:
Artinya: "Demi fajar (1), dan demi malam yang sepuluh (2)." (Surah Al-Fajr: 1-2)
Dalam Tafsir al-Qurthubi, terdapat berbagai pendapat ulama mengenai makna "malam yang sepuluh." Sebagian besar dari kalangan sahabat, tabi’in, dan generasi setelahnya berpendapat bahwa yang dimaksud adalah sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah. Sahabat Ibnu ‘Abbas berpendapat demikian, dan pandangan ini juga diikuti oleh Adh-Dhahhak—seorang ulama tafsir dari generasi tabi’in sekaligus murid langsung Ibnu ‘Abbas.
Penafsiran ini juga dipilih oleh Imam Ath-Thabari, Al-Qurthubi, dan Ibnu Katsir dalam kitab tafsir mereka. Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: "(Malam yang sepuluh adalah) sepuluh hari Al-Adha (Dzulhijjah)."
Hari-hari dengan Pahala yang Berlipat Ganda
Dalam riwayat Imam Ad-Darimi, Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: "Tidak ada amalan yang lebih suci di sisi Allah dan lebih besar pahalanya daripada kebaikan yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah."
Hadits ini menegaskan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sebagai waktu yang istimewa dan penuh berkah dalam kalender Islam. Amalan yang dilakukan pada hari-hari ini memiliki nilai pahala yang luar biasa di sisi Allah SWT.
Hari-hari Penuh Keagungan
Imam Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman meriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: "Penghulu bulan adalah bulan Ramadan, dan bulan yang paling agung kesuciannya adalah bulan Dzulhijjah."
Hadits ini menekankan keutamaan dan kesucian dua bulan agung dalam Islam: Ramadan dan Dzulhijjah. Ramadan dikenal sebagai bulan penuh berkah dengan ibadah puasa dan peningkatan amal, sementara Dzulhijjah dimuliakan karena memuat hari-hari penting seperti Tarwiyah, Arafah, Idul Adha, serta pelaksanaan ibadah haji. Keduanya memiliki kedudukan istimewa dalam kalender Islam.
Hari-hari yang Diagungkan oleh Para Sahabat
Dalam Mukhtashar Qiyam Al-Lail, Abu Nashr Al-Marwazi menyebutkan bahwa tabi’in mukhadhram Abu ‘Utsman An-Nahdi menyaksikan para sahabat mengagungkan tiga kelompok sepuluh hari, yaitu sepuluh hari pertama bulan Muharram, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dan sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.
Dalam Tadzkirah Ad-Du’at wa Al-‘Awam, Syekh Abdullah Izzuddin mengutip pernyataan Syekh Ibrahim Al-Hifnawi bahwa keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah disebabkan karena di dalamnya terdapat tiga hari istimewa: Hari Tarwiyah, Hari Arafah, dan Idul Adha. Sebagaimana sepuluh terakhir Ramadan menjadi istimewa karena terdapat Lailatul Qadar.
Amalan yang Dianjurkan dalam 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
1. Puasa
Banyak hadits yang menjelaskan keutamaan puasa di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Anjuran ini tidak hanya datang dari hadits, tetapi juga diamalkan dan dijelaskan oleh para sahabat, tabi’in, serta ulama generasi setelahnya. Kesunnahan puasa ini turut ditegaskan dalam empat mazhab fikih.
Anjuran untuk berpuasa di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ditegaskan dalam banyak hadits. Salah satunya adalah hadits riwayat Imam At-Tirmidzi dari Abu Hurairah RA:
Artinya: "Tidak ada hari-hari yang lebih dicintai oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya daripada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Puasa setiap harinya setara dengan puasa setahun, dan qiyamul lail setiap malamnya setara dengan malam Lailatul Qadar."
Meskipun Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari menyatakan bahwa hadits ini berstatus dha’if, namun dalam konteks keutamaan amal (fadhail al-a’mal), hadits semacam ini tetap dapat diamalkan.
2. Menghidupkan Malam dengan Ibadah
Anjuran untuk menghidupkan malam-malam sepuluh pertama Dzulhijjah dengan salat dan amalan baik telah disebutkan dalam hadits sebelumnya. Dalam Hilyah Al-Auliya', Syekh Abu Nu’aim Al-Ashfihani meriwayatkan bahwa Sa’id bin Jubair, ketika memasuki sepuluh malam awal Dzulhijjah, biasa memerintahkan agar pelita tidak dipadamkan—sebagai isyarat untuk memperbanyak ibadah sepanjang malam.
Ibnu Rajab juga menyampaikan bahwa ketika sepuluh malam pertama Dzulhijjah tiba, Sa’id bin Jubair mengerahkan seluruh kemampuannya untuk beribadah. Perlu diketahui, beliau adalah seorang tabi’in yang meriwayatkan hadits-hadits keutamaan Dzulhijjah dari sahabat Ibnu ‘Abbas. Anjuran untuk menghidupkan malam-malam ini juga disebutkan dalam kitab-kitab fikih, seperti Durar Al-Hukkam Syarh Ghurar Al-Ahkam karya Syekh Munla Khusru, seorang ulama mazhab Hanafi.
3. Memperbanyak Zikir: Tahlil, Tahmid, Tasbih, dan Takbir
Sepuluh hari pertama Dzulhijjah merupakan ladang subur untuk menanam amal kebaikan, termasuk amalan lisan seperti zikir. Anjuran untuk memperbanyak zikir pada hari-hari ini telah disebutkan dalam Surah Al-Baqarah. Selain itu, sejumlah hadits juga menjelaskan secara spesifik jenis-jenis zikir yang dianjurkan untuk dibaca.
Imam Al-Baihaqi dalam kitab Ad-Da’awat Al-Kabir meriwayatkan dari sahabat Ibnu ‘Abbas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: "Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan lebih dicintai-Nya untuk beramal saleh daripada hari-hari sepuluh ini (Dzulhijjah). Maka pada hari-hari itu perbanyaklah mengucapkan tahlil (La ilaha illallah), tahmid (Alhamdulillah), dan takbir (Allahu Akbar)."
Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar, disebutkan pula tambahan anjuran mengucapkan tasbih (Subhanallah).
Demikianlah keutamaan dan amalan yang dianjurkan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Semoga dengan mengamalkannya, kita dapat memperkuat keimanan, meraih limpahan pahala, dan semakin dekat kepada Allah SWT. Mari manfaatkan momentum istimewa ini untuk memperbanyak amal saleh dan menata hati dalam penghambaan yang tulus. Amin.