Keutamaan Menyambut Maulid dengan Gembira
Dalam menyambut datangnya maulid nabi yang bertepatan dengan bulan Rabiulawal, kita umat Islam dianjurkan bersenang hati dalam menyongsongnya. Karena hal paling esensial dari perayaan maulid nabi adalah perasaan senang dan bergembira menyambut hari lahirnya Baginda Nabi Muhammad SAW. Hal ini senada pula dengan firman Allah dalam Al-Quran; Surat Yunus Ayat 58: “Qul bifadlillah wa birahmatihi fabidzaalika falyafrahu; katakanlah (Muhammad) ‘Dengan karunia Allah SWT dan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira.”
Di dalam kitab tafsir Ruuh Al-Ma’ani juz 8 hal. 41, karya Syekh Al-Alusi dijelaskan secara spesifik bahwa diksi rahmat itu larinya ke Nabi Muhammad. Disebutkan bahwa: “Wa akhraja Abussyaikh ‘an Ibni ‘Abbas radliyallahu ta’ala ‘anhuma, annal fadlla al-‘ilmu warrahmata Muhammadun shallallahu ‘alaihi wasallam; Imam Abusysyaikh mengeluarkan (riwayat) dari Sahabat Ibnu Abbas RA: ‘Sesungguhnya AL-FADL (karunia Allah) itu adalah ilmu dan sesungguhnya AR-RAHMAH (rahmat Allah) adalah Nabi Muhammad SAW’”.
Selain karena Muhammad adalah rahmat, kenapa pula kita diharuskan gembira dengan lahirnya seorang bernama Muhammad di setiap bulan Rabiulawal ini? Salah satu jawaban atau sisi urgensinya adalah tersebab berkat kelahiran Rasulullah SAW, umat manusia kelak akan mendapat keselamatan dan kebahagiaan di dunia-akhirat, serta segala pintu kebaikan dan kebenaran akan terbuka bagi umat manusia.
Nah, sebagaimana kita tahu, besok kita sudah akan memasuki bulan Rabiulawal. Bulan di mana hari kelahiran nabi dikenang, ditadaburi dan dirayakan dengan senang gembira oleh mayoritas umat muslim dunia. Di Indonesia, perayaan maulid nabi merupakan manifestasi sebuah ungkapan kecintaan dan kegembiraan terhadap lahirnya Nabi Muhammad. Masyarakat muslim Indonesia begitu antusias dan khidmat dalam menyambut dan mengisi bulan Rabiulawal ini dengan aneka amaliah-amaliah positif. Kalau saja tidak karena sedang ada pandemi, hampir bisa dipastikan dari setiap pelosok negeri Indonesia ada gempita perayaan maulid nabi.
Padahal kita sama-sama tahu keutamaan dan manfaat dari kegembiraan merayakan maulid nabi itu sangat banyak. Keterangan seputar hal itu sangat mudah ditemukan dalam berbagai literasi Islam. Salah satunya adalah keterangan dari Imam Jalaluddin As-Suyuthi (849-910 H/1445-1505 M) dalam kitab Al-Hawi li Al-Fatawi yang menjelaskan, bahwa orang-orang yang berkumpul, membaca Al-Quran dan menceritakan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya, menghidangkan makanan yang dinikmati bersama, manampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bahwa itu semua termasuk bid’ah hasanah, orang-orang yang melakukannya akan mendapat pahala, karena mereka telah mengagungkan derajat Nabi Muhammad SAW.
Jangankan untuk kita yang beragama Islam, seorang kafir bernama Abu Lahab yang notabene musuh utama Islam saja mendapat manfaat begitu besar gara-gara kegembiraannya menyambut kelahiran Nabi Muhammad. Syahdan, Abu Lahab kala itu begitu ia menerima kabar tentang kelahiran anaknya Abdullah bin Abdul Muthalib (Kakak Abu Lahab) ia sangat bahagia dan riang gembira. Lantas, sebagai ekspresi dari kegembiraannya itu ia langsung memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah (yang memberi kabar kelahiran Muhammad). Bahkan Abu Lahab juga menyembelih 100 ekor unta untuk tasyakuran dan jamuan makan orang-orang di sekitaran Masjidil Haram, sekaligus sebagai ekspresi perwujudan rasa bahagia dan gembiranya atas kelahiran Muhammad, sang keponakan baru. Dan berkat rasa bahagia dan ekspresi kegembiraannya itulah Abu Lahab mendapatkan keringanan azab dari Allah setiap hari Senin.
Itu ‘ganjaran’ dan bonus dari Allah untuk seorang kafir yang turut berbahagia atas kelahiran Muhammad, lantas bagaimana dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya ketika mereka bergembira atas kelahiran Muhammad SAW? Tentunya, bonus-bonus dari Allah untuk kita umat muslim yang bergembira merayakan maulid nabi teramat banyak dan bukanlah pepesan kosong serta janji-janji palsu belaka.
Baca juga artikel lain di rubrik ISLAMUNA atau tulisan menarik lain Ahmad Muhakam Zein