Khedive Ismail dan Shahih Al-Bukhari, Memoar Al-Azhar Kala Perang Mesir-Etiopia

Syahdan, tersebutlah sebuah kisah menarik di masa kepemimpinan Syekh Mushthafa Al-‘Arusi (wafat 1287 H/1871 M) kala menjabat Syekhul-Azhar, yang kisahnya termaktub dalam buku Min Akhlaq Al-‘Ulama karya Syekh Muhammad Sulaiman ‘Annarah (wafat 1355 H/1936 M).

Kala itu, sedang terjadi peperangan antara Mesir dan Habasyah (Etiopia), tepatnya dari tahun 1868 M hingga 1876 M. Perang yang terjadi antara Mesir yang dipimpin Khedive Ismail Basya dengan Etiopia yang dikepalai Kaisar Yohannes John IV. Artinya, kisah ini terjadi di antara tahun 1868 M hingga 1870 M. Mengingat Syekh Mushthafa Al-‘Arusi menjabat Syekhul-Azhar dari tahun 1864 M hingga tahun 1870 M.

Kebetulan, pada tahun-tahun tersebut tentara Mesir mengalami kekalahan beruntun. Salah satunya disebabkan banyaknya percekcokan dan ketidak-kompakan antar panglima perang. Khedive Ismail Basya, selaku wali Mesir kala itu menjadi gusar segusar-gusarnya.

Pada suatu hari, ia yang gundah gulana mengajak Syarif Basya untuk jalan-jalan bersamanya guna mengembalikan kegembiraan hatinya. Sembari berkendara, ia bertanya kepada Syarif Basya, “Apa yang biasanya engkau perbuat jika ingin menghilangkan musibah dan bencana yang tengah menimpamu?”

“Wahai Effendi (tuan) kami, jika aku ditimpa hal yang demikian, aku akan memohon pertolongan kepada Allah dengan wasilah (kitab) Shahih Al-Bukhari. Aku akan meminta para ulama yang berhati bersih untuk membacakannya kepadaku, hingga Allah kemudian menghilangkan hal tersebut dan menggembirakanku.” jawab Syarif Basya menceritakan pengalamannya.

Mendengar itu, beberapa waktu kemudian Khedive Ismail menemui Syekh Mushtahafa Al-‘Arusi agar mengumpulkan para ulama untuk membaca Shahih Al-Bukhari bersama-sama. Syekh Al-‘Arusi lalu mengumpulkan mereka semua di depan kiblat lama Masjid Al-Azhar, di Zhullah Al-Fathimiyyah.

Waktu pun berlalu, namun tetap saja kekalahan Mesir terus menerus terjadi tanpa henti. Khedive Ismail murka. Ia lalu pergi ditemani Syarif Basya menuju Masjid Al-Azhar bertemu para ulama dengan muka berang. “Apa-apaan ini! Entah yang kalian baca ini sebenarnya bukan Shahih Al-Bukhari, atau jangan-jangan kalian bukanlah para ulama yang kami anggap sebagai penerus salaf saleh! Coba lihat, Allah tidak menghilangkan apa-apa dari bacaan kalian.

Para ulama menjadi muram akan perkataan khedive. Secara spontan, salah satu syekh di akhir saf menyahut, “Justru itu semua gara-gara Anda, ya Ismail. Sungguh, telah diriwayatkan dari Baginda Nabi SAW, beliau bersabda, “Buatlah amar makruf dan nahi mungkar, atau Allah akan memberimu pemimpin yang bejat, yang jika itu terjadi, meski orang pilihan kalian berdoa, doanya tidak dikabulkan.” Atau seumpamanya.

Para ulama yang lain semakin muram atas kejadian itu. Khedive Ismail sendiri segera meninggalkan tempat tanpa mengucapkan sepatah kata pun, diikuti dengan Syarif Basya. Beberapa ulama lain menyalahkan syekh tersebut dan memperingatkannya.

Saat perkumpulan sedang ribut, Syarif Basya kembali ke tempat perkumpulan sembari bertanya mengenai syekh yang tadi mengatai khedive.

“Ini saya.” jawab syekh tersebut.

Biografi

Sepilihan riwayat hidup para tokoh dapat teman-teman temukan

di sini

Syarif Basya kemudian mengajaknya berdiri dan ikut dengannya ke istana khedive. Para ulama yang tadinya mencibir berubah menjadi iba dan berharap ia kembali. Sesampainya di istana, Khedive Ismail sedang duduk di kursi lobi. Syekh tersebut didudukkan di hadapannya.

“Syekh, coba diulang kembali apa yang engkau katakan tadi?” ujar khedive.

Syekh lalu mengulangi apa yang ia ucapkan, tanpa rasa khawatir, bahkan menjelaskan panjang lebar mengenai isi hadits tersebut.

Khedive balik bertanya, “Emang apa yang telah kami perbuat, hingga kita diberikan bencana dan musibah ini?”

Syekh kemudian menjawab, “Wahai Effendi kami, tidakkah engkau melihat, bahwa banyak hukum yang telah tercampur aduk di sekeliling kita? Lihatlah undang-undang yang menghalalkan riba, zina, khamar ... bla, bla, bla.” Ia menyebutkan banyak kemungkaran yang terjadi tanpa adanya perbaikan dari pihak penguasa. “Lalu bagaimana bisa dengan semua kemungkaran ini engkau menanti-nanti pertolongan dari langit!” lanjutnya.

Mendengar itu, khedive kembali menjawab, “Lalu, apa yang bisa kami perbuat? Lihatlah, peradaban dan kehidupan di sekeliling kita dipenuhi oleh orang asing. Ini perkotaan mereka juga.”

“Kalau begitu, apa salah Shahih Al-Bukhari dan para ulama hingga engkau menyalahkan mereka?!” pungkas syekh menjawab dalih sang khedive.

Khedive terdiam lama. Dalam diamnya, ia berpikir keras, lalu berkata, “Engkau benar, engkau benar.” Khedive lalu memerintahkan para abdinya untuk mengambilkan uang senilai 30 pound Mesir dari ruang perbendaharaannya. Zaman itu, uang 30 pound adalah jumlah yang bernilai besar. Khedive memberikan hadiah tersebut dan mengantar syekh tersebut kembali ke Masjid Al-Azhar, layaknya orang yang dilahirkan kembali.

Dalam buku Jamharah A’lam Al-Azhar Asy-Syarif, Syekh Usamah Al-Azhari mendengar langsung dari banyak guru di Al-Azhar bahwa syekh yang dimaksud dalam cerita di atas adalah Syekh Mahmud ‘Ilyan Asy-Syadzuli (wafat 1326 H/1908 M), yang mereka semua mendengar langsung dari cucunya, Syekh Muhammad Zakiyuddin Ibrahim (wafat 1419 H/1998 M). Tidak ada yang berbeda pendapat mengenai sosok syekh tersebut kecuali Abbas Al-‘Aqqad dalam tulisannya di Majalah Al-Hilal (edisi Oktober 1952 M), yang menyebut bahwa syekh yang dimaksud adalah Syekh Hasan Al-'Idwi Al-Hamzawi (wafat 1303 H/1886 M).

Terlepas dari perbedaan itu semua, cerita nyata ini sangat masyhur di kalangan masyarakat Mesir, terutama di kalangan ulama Al-Azhar. Di dalamnya terdapat banyak pelajaran hidup. Bagaimana peran para ulama dalam menanggapi sesuatu, begitupun dengan tradisi membaca kitab Shahih Al-Bukhari di Masjid Al-Azhar sejak dahulu kala terjadi bencana dan musibah.

💡
Baca juga artikel lain di rubrik BUDAYA atau tulisan menarik Amirul Mukminin