Khutbah Jumat Cinta dan Iman, Kunci Keberkahan Hidup
Khutbah Pertama
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Kita awali khutbah ini dengan ungkapan puji dan syukur kita kepada Allah atas karunia dan nikmat yang tak terhingga. Selawat serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad yang begitu mencintai umatnya.
Saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada seluruh hadirin sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa. Allah berfirman dalam Al-Quran:
"Katakanlah (Muhammad), jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Surah Ali ‘Imran: 31)
※ Memahami Hakikat Cinta Muhammad
Islam yang dibawa oleh Baginda Nabi Muhammad ﷺ adalah agama yang berlandaskan cinta dan kasih sayang. Bahkan, Islam menjadikan cinta karena Allah sebagai syarat keimanan, dan keimanan sebagai syarat masuk surga. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian." (HR. Muslim, no. 93)
Hadirin sekalian,
Kunci keharmonisan dalam kehidupan adalah cinta. Cinta dapat membangun peradaban serta menjadi faktor pemersatu di tengah masyarakat. Salah satu cara termudah untuk menumbuhkan cinta adalah dengan menyebarkan salam, baik kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Sebaliknya, tanpa cinta, manusia akan dilanda perpecahan, sebagaimana peringatan Rasulullah ﷺ:
"Penyakit umat sebelum kalian telah menjalar kepada kalian, yaitu hasad dan kebencian. Kebencian itu adalah pencukur (penghancur), aku tidak mengatakan mencukur rambut, tetapi mencukur agama." (HR. Ahmad, no. 1430)
※ Bahaya Belajar Agama Islam Tanpa Guru
Rasulullah ﷺ menjadikan cinta dan benci karena Allah sebagai ikatan terkuat dalam Islam. Dalam sebuah hadits, Al-Bara' bin Azib radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ketika para sahabat sedang duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bertanya:
"Ikatan Islam manakah yang paling kuat?"
Para sahabat menjawab: "Salat."
Nabi bersabda: "Itu baik, tetapi bukan yang paling kuat.
Para sahabat kembali berkata: "Zakat."
Nabi bersabda: "Itu baik, tetapi bukan yang paling kuat."
Mereka berkata: "Puasa Ramadan."
Nabi bersabda: "Itu baik, tetapi bukan yang paling kuat."
Mereka (kembali) berkata: "Haji."
Nabi bersabda: "Itu baik, tetapi bukan yang paling kuat.
Mereka berkata: "Jihad."
Nabi bersabda: "Itu baik, tetapi bukan yang paling kuat."
"Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah." (HR. Ahmad, no. 18524)
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di siniSeorang muslim tidak boleh mengira bahwa ibadahnya saja sudah cukup untuk menjamin masuk surga. Hati memiliki kedudukan penting dalam diterimanya amal. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ketahuilah bahwa dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik. Jika ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati." (HR. Al-Bukhari, no. 52)
Oleh karena itu, sadarilah wahai saudara muslim, bahwa cinta tertinggi adalah ketika hatimu dipenuhi dengan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan, iman seseorang tidak akan sempurna tanpa mencintai Rasulullah ﷺ. Dalam sebuah riwayat, Zuhrah bin Ma’bad dari kakeknya berkata, "Kami pernah bersama Nabi ﷺ, sementara beliau memegang tangan Umar bin Al-Khattab. Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:
"Wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri." Lalu Umar berkata, "Sekarang, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Sekarang, wahai Umar." (HR. Ahmad, no. 18047)
Bahkan, seseorang tidak akan sampai dan merasakan manisnya iman kecuali dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
"Ada tiga hal yang jika seseorang memilikinya, ia akan merasakan manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, (2) mencintai seseorang hanya karena Allah, dan (3) membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka." (HR. Al-Bukhari, no. 16)
Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya akan membawa seseorang kepada kebersamaan dengan Rasulullah di surga serta memperoleh kesempatan melihat Allah ﷻ. Dalam sebuah hadits, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
"Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat terjadi?" Nabi ﷺ menjawab, "Apa yang telah engkau persiapkan untuknya?" Orang itu berkata, "Aku tidak memiliki banyak amal kecuali hanya mencintai Allah dan Rasul-Nya." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai." (HR. Muslim, no. 2639)
Anas bin Malik menambahkan:
"Kami tidak pernah merasa lebih bahagia setelah masuk Islam dibandingkan dengan sabda Nabi ﷺ, Engkau akan bersama orang yang engkau cintai. Aku mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar, dan Umar. Aku berharap bisa bersama mereka di surga meskipun aku tidak bisa menyamai amalan mereka."
Maka, jika seseorang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta menaati perintah-Nya, maka Allah pun akan mencintainya. Jika Allah telah mencintai seseorang, maka seluruh makhluk di langit dan bumi juga akan mencintainya. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allah, jika mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berkata, 'Wahai Jibril, Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia.' Maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril mengumumkan kepada penghuni langit, 'Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia.' Maka seluruh penghuni langit mencintainya. Kemudian, dia pun diterima oleh penduduk bumi." (HR. Muslim, no. 2637)
Oleh karena itu, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kunci utama kebahagiaan di dunia dan akhirat. Syekh Ibnu Athaillah berkata dalam munajatnya:
"Ya Tuhan, Engkau Maha Mengetahui bahwa meskipun ketaatanku tidak selalu berlangsung secara perbuatan yang pasti, namun kecintaan dan tekad untuk taat selalu tetap ada."
Semoga kita menjadi orang-orang yang beriman dan mencintai Allah serta Rasulullah ﷺ, sehingga kita mendapatkan ridha dan cinta-Nya. Aamiin.
※ Menggapai Iman yang Paripurna dengan Cinta