Khutbah Jumat Ihwal Kemuliaan dan Amaliah Bulan Muharam
Khutbah I
Jamaah Salat Jumat Rahimakumullah…
Pada kesempatan yang mulia di hari yang mulia dan di dalam bulan yang juga mulia ini, marilah kita sekalian senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, yakni dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab dengan bertakwa kepada Allah nanti juga akan menjadikan kemudahan bagi urusan-urusan kita, sebagaimana tercantum dan diterangkan di dalam Al-Quran Surah At-Thalaq ayat 4:
Artinya: Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya. (Surah Ath-Thalaq: 4)
Selain itu kita pada hari-hari ini kita telah memasuki tahun baru Islam, yakni memasuki bulan Muharam di momen tahun baru hijriah 1446 H yang patut senantiasa kita syukuri. Terlebih bulan Muharam termasuk bulan yang mulia. Menurut Ibnu Al-Jauzi dalam kitab At-Tabshîrah juz 2 halaman 6, bahwa bulan Muharam adalah bulan yang mulia derajatnya. Dinamakan dengan Muharam, karena Allah SWT mengharamkan peperangan dan konflik di bulan mulia ini.
※ Tahun Baru, Tahun Lalu, dan Resolusi
Bulan Muharam termasuk bagian dari bulan yang mulia (Asyhurul Hurum) bersama Dzulhijjah, Dzulqa’dah, dan Rajab, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah Surah At-Taubah 36:
Artinya: Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu (lauhul mahfudz). Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. (Surah At-Taubah: 36)
Adapun untuk urutan mana yang terbaik dari bulan-bulan mulia tersebut, Ibnu Rajab, dalam kitab Latha'if Al-Ma’arif, halaman 70 menjelaskan bahwa terdapat khilafiah mengenai mana yang terbaik. Al-Hasan dan beberapa ulama lainnya menyatakan bahwa bulan terbaik adalah bulan Muharram. Pendapat ini juga didukung oleh sekelompok ulama kontemporer. Dasarnya yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dan lainnya dari Abu Dzarra, di mana ia bertanya kepada Nabi SAW terkait keutamaan bulan Haram, Nabi Muhamad lantas berkata:
Artinya: "Saya bertanya kepada Nabi SAW: "Waktu malam yang manakah yang terbaik, dan bulan yang manakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Waktu malam yang terbaik adalah pertengahannya, dan bulan yang paling utama adalah bulan Allah yang kalian sebut sebagai Muharram." (HR. An-Nasa'i, Ahmad, dan Ath-Thabrani)
Salah satu alasan kenapa bulan Muharam istimewa ialah karena terdapat hari dimana Allah SWT menerima taubat hamba-Nya. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibn Syaibah dalam kitabnya Al-Kitāb Al-Mushannaf fī Al-Ahādīts wa Al-Atsār, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: "Jika kamu berpuasa satu bulan setelah Ramadhan, maka berpuasalah di bulan Muharram karena itu adalah bulan Allah. Di dalamnya terdapat satu hari di mana suatu kaum bertaubat, dan akan ada kaum lainnya yang bertaubat pada hari itu." (HR. Ibnu Syaibah)
Adapun terkait makna frasa bulan Haram, Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam kitab Tafsir Al-Fakhrir Ar-Razi juz 16 halaman 53 menjelaskan bahwa setiap perbuatan maksiat di bulan haram yang mulia akan mendapat siksa yang lebih dahsyat, dan begitu pula sebaliknya, amaliah ibadah kepada Allah SWT akan dilipatgandakan pahalanya. Beliau menyatakan:
Artinya: Maksud dari haram adalah bahwa sesungguhnya kemaksiatan di bulan-bulan (yang mulia) itu memperoleh siksa yang lebih berat, sedangkan ketaatan di bulan-bulan tersebut akan mendapat pahala yang lebih banyak.
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di siniJamaah salat Jumat Hafizhakumullah…
Ada beberapa momen dalam bulan Muharam yang kemudian menjadikan bulan ini utama dan istimewa, di antaranya karena terdapat Hari Asyura. Di hari mulia tersebut umat Islam disunnahkan untuk berpuasa. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, Juz 8 halaman 9 menjelaskan sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim:
Artinya: Dari Ibnu Abbas RA, beliau berkata: Rasulullah SAW hadir di kota Madinah, kemudian beliau menjumpai orang Yahudi berpuasa di bulan Asyura, kemudian mereka ditanya tentang puasanya tersebut, mereka menjawab: hari ini adalah hari dimana Allah SWT memberikan kemenangan kepada Nabi Musa AS dan Bani Israil atas Fir’aun, maka kami berpuasa untuk menghormati Nabi Musa.
Kemudian Nabi bersabda: Kami (umat Islam) lebih berhak atas Nabi Musa dibanding dengan kalian orang Bani Israel. Maka kemudian Nabi Muhammad memerintahkan untuk berpuasa di Hari Asyura. Dalam riwayat lain, para sahabat kemudian bertanya pada Nabi, bahwa Hari Asyura adalah hari yang dimuliakan oleh orang Yahudi dan Nasrani.
Nabi Muhamad lantas bersabda: Insya Allah tahun depan kita berpuasa di hari yang kesembilan Muharam. Maka berdasar dari hadits tersebut di atas, Imam Asy-Syafi’i berpendapat bahwa disunnahkan berpuasa di hari kesembilan, sepuluh dan sebelas bulan Muharam. Karena Nabi telah melaksanakan puasa di Hari Asyura dan berniat puasa di hari kesembilan di bulan Muharam (Dikutip Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juz 8 halaman 9).
Puasa di hari ke sembilan dan hari ke sebelas memiliki tujuan untuk membedakan antara puasanya orang Islam dengan puasanya orang Yahudi. Oleh karenanya, dihukumi makruh jika kita hanya puasa hari kesepuluh saja, karena ada keserupaan dengan orang Yahudi. Dari beberapa riwayat hadits di atas dapat kita simpulkan bahwa umat Islam disunnahkan untuk melakukan puasa di hari ke Sembilan, Hari Asyura dan hari ke sebelas bulan Muharam.
※ Menelaah Makna Hijrah
Jamaah Salat Jumat Rahimakumullah…
Puasa Hari Asyura sangat dianjurkan karena memiliki banyak keutamaan. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits hasan dalam kitab Sunan At-Tirmidzi juz 2 halaman 109, bahwa orang yang berpuasa di Hari ‘Asyura akan mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Sebagaimana sabda Nabi:
Artinya: Suatu ketika seorang laki-laki bertanya pada Nabi, apa yang akan engkau perintahkan kepadaku wahai Nabi setelah saya berpuasa di bulan Ramadhan? Nabi bersabda: Berpuasalah di bulan Muharram, Muharram adalah bulan milik Allah, di bulan itu Allah menerima taubat satu kaum dan menerima taubat kaum yang lainnya. (HR. At-Tirmidzi)
Selain itu, Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadits sahih dalam kitab Sunan Ibnu Majah, juz 1 halaman 553, bahwa barang siapa puasa di Hari Asyura akan dihapus kesalahan satu tahun yang telah lalu, sebagaimana sabda Nabi:
Artinya: Berpuasa di Hari ‘Asyura, sesungguhnya saya mengira bahwa Allah akan menghapus kesalahan di tahun yang telah lalu. (HR. Ibnu Majah)
Ibnu Al-Jauzi dalam kitab At-Tabshîrah juz 2 halaman 6 lantas menyimpulkan bahwa bulan Muharam adalah bulan yang mulia, Hari Asyura adalah hari yang mulia. Bulan Muharam adalah musim kebaikan, momen yang baik untuk melakukan perdamaian, momen yang baik untuk meningkatkan amaliah ibadah, sedekah, menyantuni anak yatim, dan menolong mereka yang membutuhkan. Bulan Muharam sebagai bulan awal tahun baru Hijriah juga menjadi momentum terbaik untuk melakukan hijrah, hijrah dari sifat yang tercela menuju sifat yang terpuji.
Oleh karenanya, mari kita memanfaatkan momentum Muharam kali ini agar kita sesuai dengan profesi dari masing-masing kita menjadi pribadi yang lebih baik serta lebih berguna bagi nusa, bangsa, agama dan manusia.