Khutbah Jumat Konsep Tawakal yang Diajarkan Islam
Khutbah Pertama
Hadirin sidang Jumat Hafizhakumullah,
Alhamdulillah, kita masih diberi umur untuk melaksanakan rangkaian salat Jumat dan dalam keadaan sehat jasmani rohani. Banyak di luar sana yang sedang terbaring lemah, berjuang melawan penyakitnya. Maka, sangat perlu kita syukuri, nikmat sehat, serta dalam keadaan taat kepada Allah.
Hadirin, jangan sampai kita terjebak oleh pemahaman orang yang keliru mengenai pemahaman konsep tawakal. Benar sekali Islam menyuruh kita untuk bertawakal. Namun apa dan bagaimana sebenarnya tawakal yang diajarkan Islam?
Kekeliruan sebagian orang menganggap bahwa sikap tawakal adalah memasrahkan segala urusan, rencana, dan harapan kita kepada Allah, tanpa adanya usaha atau mempertimbangkan hukum kausalitas (sebab akibat) sebelumnya. Pemahaman tersebut, adalah berawal dari ketidaktahuan, sikap malas dan ingin berleha-leha untuk pembenaran atas alasan kemalasan tersebut. Akhirnya Islam dipandang oleh sebagian musuh Islam sebagai agama yang menjadi faktor penyebab kemunduran, kelemahan, dan keterpurukan ekonomi, serta kemiskinan yang menjangkiti masyarakat muslim.
Tentu, tuduhan semacam ini adalah kebohongan. Coba lihatlah sejarah Islam yang justru mengatakan sebaliknya. Imam Akbar Syekhul-Azhar Syekh Ahmad Ath-Thayyib mengatakan bahwa peradaban Islam yang membentang dari Spanyol sampai ke Cina dalam waktu singkat, itu terjadi ketika umat Islam bertawakal kepada Allah di satu sisi, dan melakukan berbagai upaya yang diperintahkan untuk menggapai kesuksesan materi serta rohani di sisi lain. Menurut sang imam, keadaan lemah umat Islam hari ini disebabkan satu faktor, yaitu umat Islam menjauh dari ajaran-ajaran Islam yang luhur nan mulia.
Hadirin Rahimakumullah,
Tawakal adalah ibadah yang berhubungan dengan hati dan anggota badan. Menurut Syekhul-Azhar Ahmad Ath-Thayyib, tawakal kepada Allah setidaknya harus memenuhi dua hal.
Pertama, melakukan sesuatu sesuai hukum sebab akibat seperti yang diajarkan oleh agama. Saya contohkan orang sakit yang ingin mendapatkan kesembuhan, ia lantas meminum obat sesuai resep dokter.
Kedua, meyakini bahwa sesuatu yang kita lakukan yang sudah sesuai dengan hukum sebab akibat, tetap tidak akan berfungsi atau bekerja jika Allah tidak menghendaki dan tidak memerintahkan hal itu untuk terjadi. Dalam contoh yang tadi, orang tersebut sehat karena meyakini bahwa yang menyehatkan adalah Allah SWT dan Allah menghendaki orang tersebut sehat.
Hadirin.. Sederhananya dapat kita pahami bahwa berserah diri (tawakal) kepada Allah harus menggabungkan dua hal. Berusaha terlebih dahulu, dan hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT yang Maha Mengatur segalanya. Inilah pemahaman yang benar mengenai tawakal.
Allah berfirman:
Artinya: "Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan (yang kamu miliki) dan pasukan berkuda. Dengannya (persiapan itu) kamu membuat gentar musuh Allah, musuhmu.." (Surah Al-Anfal: 60)
Mempersiapkan segala kemampuan untuk menghadapi musuh dan yakin bahwa yang memenangkan dan menolong adalah Allah adalah laku tawakal sesungguhnya.
Al-Quran
Kumpulan tulisan dengan kata kunci Al-Quran dan cabang ilmunya bisa teman-teman temukan
di siniHadirin Rahimakumullah,
Apakah Islam menyuruh kita untuk bersikap tawakal?
Ya, benar. Allah SWT menyuruh umat muslim bersikap tawakal sebagaimana Dia perintahkan hal itu kepada Nabi Muhammad SAW dan para rasul serta nabi-nabi sebelumnya.
Allah berfirman di dalam Al-Quran:
Artinya: "Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal." (Surah At-Taubah: 51).
Begitupun dalam hadits, Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar kita bersikap tawakal:
Artinya: "Seandainya kalian tawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, tentu dia akan memberi kalian rezeki seperti rezeki kepada burung: pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam kenyang"
Maksudnya, seekor burung yang digambarkan dalam hadis ini adalah adanya usaha terlebih dahulu dan bertawakal. Ya, burung tersebut keluar dari sangkarnya pagi-pagi hinggap di batang pepohonan di mana mencari sesuatu yang bisa di makan dan sore hari burung datang kembali ke sangkarnya dalam keadaan kenyang.
Artinya, kita dianjurkan untuk melakukan aktivitas dan berusaha sekuat kemampuan kita terlebih dahulu, dan hasilnya kita pasrahkan kepada Allah SWT.