Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi hati kita dengan iman dan keyakinan, sehingga kita bisa berkumpul di tempat ini untuk melaksanakan salat Jumat yang penuh keberkahan.
Bulan Ramadan adalah madrasah ketakwaan. Jika dalam bulan penuh keberkahan ini hati seorang mukmin belum terhubung dengan makna takwa, belum merasakan kenikmatan kedekatan dengan Allah, maka kapankah lagi ia akan tergolong dalam barisan orang-orang yang taat, memahami rahasia ubudiyah, dan meraih kemuliaan hubungan dengan Tuhan?
Maka, marilah kita renungi keadaan hati kita di bulan kebahagiaan ini. Apa yang telah kita rasakan dari pengaruh puasa terhadap jiwa dan keimanan kita? Apabila kita belum merasakan kenikmatan berpuasa, artinya puasa kita belum lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga. Kini saatnya kita mengoptimalkan sisa hari-hari di bulan suci ini.
Sesungguhnya sepuluh hari terakhir bulan Ramadan adalah waktu yang penuh anugerah, limpahan rahmat, dan ampunan dari Allah SWT. Pada saat-saat ini, Rasulullah ﷺ menghidupkan malam-malamnya, membangunkan keluarga dan sahabat-sahabatnya, serta bersungguh-sungguh dalam ibadah lebih dari hari-hari sebelumnya. Sebagaimana sabda beliau:
كانَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إذا دَخَل العَشْرُ أحْيَا اللَّيْلَ، وأيْقظَ أهلَه، وجَدَّ، وشَدَّ المئزَرَ (متفق عليه)
Artinya: "Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), Rasulullah ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh, dan mengencangkan sarungnya." (HR. Muttafaq 'alaih)
Artinya: "Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah ﷺ lebih bersungguh-sungguh dalam ibadah dibanding malam-malam lainnya." (HR. Muslim)
Hadirin rahimakumullah...
Apabila ketakwaan telah menyentuh hati, kita akan menyadari pentingnya menjalin hubungan yang erat dengan Allah SWT. Hubungan ini adalah ikatan antara hamba dengan Tuhannya, makhluk dengan Sang Pencipta. Lalu bagaimana caranya?
Tidak ada cara lain kecuali dengan melaksanakan perintah-Nya, mengikuti jalan Rasul-Nya, meneladan orang-orang saleh, serta menjaga diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Sebab, siapa yang terus menerus berada dalam kubangan dosa, ia telah tertipu oleh dunia, lalai terhadap akhirat, dan lupa bahwa setiap amal akan dihisab di akhirat kelak.
Jika hati seorang hamba telah tersambung dengan Rabb-nya, maka hidupnya akan dipenuhi kebaikan, dan Allah pun akan membalasnya dengan kebaikan pula. Sebagaimana firman Allah:
Kebaikan itu bisa datang dalam bentuk apa saja, melalui jalan apa saja, bahkan dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah akan memberinya nikmat, lahir maupun batin. Dan puncak dari semua balasan itu adalah surga, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
قالَ: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ، ما لا عَيْنٌ رَأَتْ، ولا أُذُنٌ سَمِعَتْ، ولا خَطَرَ علَى قَلْبِ بَشَرٍ (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: "Aku telah menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh (di surga), sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)