Khutbah Jumat Mengevaluasi Kualitas Puasa Ramadan Kita!

Khutbah I

اَلْحَمْدُ ِللهِ الذي جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا، وَفَرَضَ عَلَيْنَا الصِّيَامَ لِأَجْلِ التَّقْوٰى. أَشْهَدُ أَنْ لَاۧ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مَحَمَّدٍ الْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. يَاۤأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءٰمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah…

Marilah di hari Jumat yang mulia di tengah bulan suci Ramadan ini kita senantiasa panjatkan puja-puji syukur kita ke hadirat Allah SWT yang telah mencurahi aneka macam kenikmatan kepada kita semua sehingga kita masih bisa khusyuk melaksanakan ibadah puasa. Nikmat iman, nikmat tetapnya Islam, nikmat hidayah dan nikmat kesehatan adalah sebagian dari macam nikmat dari Tuhan yang terkadang lalai kita syukuri karena saking melekatnya dengan kedirian kita.

Shalawat dan salam juga mari senantiasa kita haturkan kepada Nabi Muhamad, sang manusia terbaik yang telah memberi suri tauladan kepada kita semua, termasuk ketentuan dan memberi tauladan bagaimana kita seharusnya mengisi bulan Ramadan. Sebagaimana kita tahu, Nabi Muhamad SAW dalam Hadits-haditsnya telah banyak memberi arahan dan anjuran bagaimana berpuasa yang baik serta ideal.

Hakikat Makna Jihad dalam Ajaran Islam
Belakangan jihad menjadi lekat dengan kekerasan. Risalah Imam Akbar Syekh Ahmad Ath-Thayyib ini mengenalkan hakikat makna jihad dalam agama Islam.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, puasa di bulan Ramadan adalah kewajiban bagi umat Islam yang telah ditetapkan dalam Al-Quran dan Al-Hadits. Ketentuan wajibnya kita umat muslim berpuasa di bulan Ramadan tertuang dalam Al-Quran penghujung Surah Al-Baqarah ayat 183:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Jika kita perhatikan petikan Surah Al-Baqarah di atas, salah satu tujuan dari pensyariatan ibadah puasa Ramadan adalah agar kita semua menjadi orang yang bertakwa. Takwa sendiri kerap diartikan sebagai “Imtitsalu awamirillah wajtinabu nawahihi; melaksanakan segala perintahnya Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.”

Artinya puasa Ramadan kita seyogianya (bahkan niscaya) bisa menjadi pemicu kita menjadi lebih baik dan lebih bertakwa lagi dibanding sebelum-sebelumnya. Puasa bisa menjadi pemicu dan menjadi keniscayaan seseorang lebih bertakwa lagi, sebab pada hakikatnya puasa memang akan menggiring seseorang untuk meninggalkan syahwat nafsu yang haram maupun syahwat yang hukum asalnya mubah di waktu-waktu selain waktu puasa. Sejatinya puasa adalah pengendalian syahwat nafsu tertentu, mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari, yang mana setelah itu akan dihalalkan kembali.

Oleh karenanya, puasa seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah dalam segala keadaan, maupun meninggalkan perkara halal yang diharamkan sesaat (misal berhubungan dengan istri) tatkala seseorang sedang berpuasa.

Ibadah puasa juga merupakan salah satu manifestasi ketundukan seorang hamba kepada Allah. Orang yang berpuasa akan taat dan rela menahan diri untuk tidak melanggar apa-apa yang dilarang selagi ia berpuasa. Ia juga akan rela mengekang syahwat-syahwat nafsunya di siang hari lalu mengoptimalkan waktunya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan melaksanakan segala yang diperintahkan. Inilah manifestasi ketaatan dan ketundukan seorang hamba kepada Tuhannya yang tentu saja akan bisa menjadi pemantik ia lebih bertakwa lagi dibanding sebelumnya.

Munakahat

Kumpulan tulisan dengan topik pernikahan dan keluarga islami dapat teman-teman temukan

di sini

Jamaah Shalat Jumat Hafidhakumullah…

Sungguh disayangkan seseorang yang berpuasa dari makan, minum, dan dari syahwat nafsunya yang diharamkan tatkala sedang berpuasa, namun ia tidak menjauhi perkara yang diharamkan Allah SWT. Sungguh merugi orang yang demikian, karena ia secara lahir sedang berpuasa makan-minum seharian dan menjauhi syahwat nafsunya yang diharamkan selagi berpuasa, namun ia berbuka dengan makanan atau minuman yang haram ataupun masih melakukan perkara haram lainnya setelah puasanya usai. Orang demikian adalah orang-orang yang kata Baginda Nabi Muhammad SAW termasuk orang yang tidak akan diterima ibadah puasanya:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ والعَمَلَ بهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طعَامَه وشَرَابَه، رواه البخاريّ

Artinya: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dosa dan perbuatan dosa, maka Allah tidak akan menerima puasanya.” (Riwayat Imam Al-Bukhari)

Ma’asyiral mu’minin Rahimakumullah, mumpung masih di minggu-minggu pertama bulan Ramadan, marilah ada baiknya kita evaluasi puasa dan kualitas ibadah-ibadah lain kita selama bulan Ramadan ini. Jangan sampai bukannya mendapat pahala, kita justru hanya akan mendapat lapar dan dahaga semata. Sebagaimana keterangan dawuh Rasulullah dalam sebuah Hadits:

رُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ، وَرُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ، رواه ابن ماجه والنسائي وابن حيان وغيرهم

Artinya: “Betapa banyak orang yang menghidupkan malam dengan ibadah tapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari ibadahnya kecuali begadang (tidak tidur di malam hari), dan betapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (Riwayat Ibnu Majah, An-Nasa’i, Ibnu Hibban dan lainnya)

Dalam redaksi Hadits lain, terdapat pesan senada dan identik dari Rasulullah SAW:

عَنْ أَبِي هريرة قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إَّلا الْجُوْعِ وَالْعَطْش

Artinya: “Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ‘Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan haus saja.” (Riwayat An-Nasai).

Jamaah Shalat Jumat Yang Dirahmati Allah…

Marilah, setelah kita mengevaluasi dan telah berupaya memaksimalkan diri dalam “berpuasa” dari segala hal yang dilarang, alangkah baiknya jika kita juga berupaya memenuhi hak-hak Ramadan. Semisal dengan berbuka serta bersantap sahur dari makanan-minuman yang halal serta mengoptimalkan waktu selama bulan Ramadan untuk memperbanyak ibadah vertikal maupun ibadah sosial. Jangan sampai bulan Ramadannya berlalu, kita termasuk orang-orang yang tidak mendapat “bonus” dari bulan penuh rahmat dan maghfirah itu. Lebih-lebih jika kita justru termasuk dalam kategori orang-orang yang disebut dalam sebuah Hadits Nabi Muhammad berikut:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ،  رواه الحاكم والبيهقي وابن خزيمة وابن حبّان

Artinya: “Puasa yang sempurna tidak hanya menahan diri dari makanan dan minuman, melainkan menahan diri dari perkataan-perkataan dan perbuatan yang diharamkan atau dimakruhkan.” (Riwayat Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban)

Dai Intoleran dan Krisis Dakwah Bil Akhlaq
Bukan sekali ini khalayak dibuat ramai oleh ucapan pendakwah. Fenomena ini menegaskan bahwa muslim Indonesia dilanda krisis dakwah bil akhlaq.

Wal-akhir, marilah kita senantiasa mengevaluasi diri dan mari kita tutup khutbah Ramadan ini dengan kita meresapi dawuh dari Sahabat Jabir bin Abdillah:

إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَبَصَرُكَ وَلِسَانُكَ عَنِ الكَذِبِ وَالمَحَارِمِ، وَدَعْ أَذَى الجَارِ وَلْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌ وَسَكِيْنَةٌ يَوْمَ صَوْمِكَ، وَلَا تَجْعَلْ يَوْمَ صَوْمِكَ وَيَوْمَ فِطْرِكَ سَوَاءً

“Jika engkau berpuasa, maka hendaklah telinga, mata dan lidahmu berpuasa dari berbohong dan perkara-perkara lain yang diharamkan. Jangan sampai engkau menyakiti tetangga. Hendaklah engkau dihiasi dengan kekhidmatan dan ketenangan di hari puasamu dan jangan engkau jadikan hari puasa dan tidak berpuasamu itu sama.”

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

💡
Baca juga beragam teks khutbah Jumat di KHUTBAH atau tulisan menarik Ahmad Muhakam Zein