Khutbah Jumat Menyikapi Corona yang Tak Jua Sirna

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ،  أَمَّا بَعْدُ، فيا عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا، لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ، رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ، سورة البقرة : 286

Jama’ah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah…
Dua tahun telah berlalu, pandemi Covid-19 belum jua ada tanda-tanda akan berakhir. Tidak sedikit dari masyarakat kita yang mulai abai, lelah, dan jenuh atas hal ihwal terkait virus Corona. Termasuk hal ihwal menjaga protokol kesehatan. Padahal, baru-baru ini justru ditemukan varian terbaru virus Corona B.1.1.529 atau yang lebih dikenal varian Omicron yang konon lebih berpotensi menular dan banyak pihak mengatakan lebih berbahaya dari varian-varian sebelumnya bagi pihak yang mempunyai komorbid atau penyakit bawaan.

Berbicara mengenai musibah, tidak ada seorang pun yang bisa luput dari musibah, jika memang Allah telah menghendakinya. Bahkan termasuk pula para Nabi dan Rasul-Nya, sebab apapun musibah itu nama dan jenisnya yang ada, semua telah melalui izin Allah, sebagaimana termaktub dalam Surah At-Taghabun ayat 11.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Masjid ‘Amr bin Al-’Ash, Masjid Pertama di Tanah Afrika
Sejarah masjid pertama di Afrika yang didirikan oleh Sayidina ‘Amr bin Al-’Ash. Masjid tua di Al-Fusthath, Mesir ini masih eksis hingga hari ini.

Ma’âsyiral Muslimîn Rahimakumullâh…
Sekarang ini semua orang terdampak dengan adanya musibah berupa pandemi virus Corona. Musibah global ini pun melanda semua lini kehidupan kita, baik itu di bidang kesehatan, ekonomi, sosial, politik, bahkan hingga bidang keagamaan. Musibah dan berita dampak krisis yang datang bertubi-tubi cukup lama menghantui sendi kehidupan kita. Berita kebahagiaan berubah menjadi kesedihan, kesuksesan menjelma menjadi kegagalan, bahkan berita inovasi-inovasi kesehatan berubah menjadi berita kematian handai tolan yang tidak berkesudahan. Jika semua itu tidak diimbangi dengan ketebalan iman, niscaya itu bisa menjadi celah datangnya stres, frustasi, putus asa, bahkan kegilaan. Na’udzubillah min dzalik.

Padahal bagi umat muslim, datangnya musibah yang beragam dan datang bertubi memang telah menjadi ketentuan umat manusia sebagai cobaan selagi hidup di dunia dan sebagai ujian sebelum mereka mendapat kabar gembira tatkala bersabar atasnya. Hal ini termaktub jelas dalam Surah Al-Baqarah ayat 155-156.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ، الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ،

Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan; dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji'ûn".

Jama’ah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah…
Menyikapi musibah wabah virus Corona yang belum jua sirna, selain bersabar sebagaimana ketentuan dalam Surah Al-Baqarah 155-156 di atas, kita juga senantiasa ikhlas dan mencari celah bersyukur. Karena bagaimanapun juga, musibah adalah medium dari Allah untuk meningkatkan kualitas atau derajat kita. Akan tetapi, musibah juga bisa menjadikan kita menjadi orang yang merugi dan terhina, jika kita menyikapinya tidak tepat, menggerutu, menyalahkan keadaan, bahkan menyalahkan Tuhan. Ini sebagaimana pepatah masyhur dalam Negeri Arab:

بِالْمُصِيْبَةِ يُكْرَمُ الْمَرْءُ وَيُهَانُ

Artinya: “Dengan musibah orang bisa menjadi dimuliakan dan bisa (juga) menjadi dihinakan.”

Agar musibah yang menimpa kita menjadi ajang untuk kita naik pangkat dan menjadi dimuliakan, kita harus senantiasa bersabar, ikhlas, legawa, dan mencari celah untuk tetap bersyukur. Karena sejatinya memang dunia ini adalah mahal al-ibtila (tempatnya ujian) bagi hamba-hamba yang beriman. Selain itu, Tuhan ketika mencintai makhluk-Nya dan menginginkan kebaikan atasnya, maka Tuhan memang akan memberinya musibah sebagai medianya. Dalam sebuah Hadits, keterangan atas hal itu diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ يُرِدِ للهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ، رواه البخاري

Artinya: “Orang yang Allah inginkan kebaikan atasnya, maka oleh Allah akan diberi musibah.” (Riwayat Al-Bukhari).

Ma’âsyiral Muslimîn Hafidhakumullâh…
Hendaknya menghadapi musibah dan wabah Corona yang masih belum juga sirna dari bumi Indonesia kita tidak boleh putus asa. Agar dengan datangnya musibah itu menjadi perantara bagi kita untuk mendapat kebaikan-kebaikan lain dari Gusti Allah Ta’ala. Bagi kita orang yang beriman, musibah tidak boleh dilihat sebagai peristiwa negatif semata. Melainkan musibah harus dipandang sebagai ajang melatih diri untuk sabar, tabah, dan ikhlas. Manusia pun diuji oleh Allah untuk tidak mudah berputus asa, dikarenakan Allah telah berjanji akan mengangkat derajat orang yang menghadapi musibah dengan penuh kesabaran, kepasrahan dan keikhlasan.

Agar nantinya, Allah akan mengganti apa yang berkurang, hilang, atau lepas dari tangan siapa saja yang terkena musibah dengan anugerah yang lebih baik. Kita tidak boleh berputus asa dalam menghadapi musibah dan wabah Corona juga bertujuan agar kita tidak termasuk orang-orang yang sesat, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Hijr ayat 56. Marilah kita dalam menghadapi musibah ini tetap bersabar, senantiasa menjaga ikhtiar lahir dengan mengikuti protokoler kesehatan dan anjuran vaksin, serta memperbanyak membaca Al-Quran, memperbanyak dzikir dan senantiasa berdoa agar wabahnya segera berlalu. Pun berdoa agar kita tidak menjadi orang-orang yang disebut dalam ayat-ayat Al-Quran berikut ini:

قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ، سورة الحجر: 56

Artinya, “Ibrahim berkata: ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya kecuali orang-orang yang sesat’." (Surah Al-Hijr ayat 56).

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمَ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Pesan Sosial Surah At-Takatsur
Tafsir dengan pendekatan sosial dirasa menarik untuk dibaca hari ini. Antara lain Tafsir Al-Maraghi terhadap Surah At-Takatsur berikut ini.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَمَّا بَعْدُ ،

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ   عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

💡
Baca juga beragam teks khutbah Jumat di KHUTBAH atau tulisan menarik Ahmad Muhakam Zein