Khutbah Jumat Pentingnya Mempererat Tali Persaudaraan
Khutbah Pertama
Hadirin yang dirahmati Allah...
Setiap manusia harus memiliki kesadaran dalam dirinya bahwa mencintai negara adalah sebagian dari iman dan kewajiban. Hakikat mencintai negara bukan hanya mencintai tanah airnya, tapi mencintai negara adalah mencintai penduduk yang hidup di negara tersebut. Seperti apa yang dikatakan Qais, seorang penyair yang gila oleh kekasihnya Laila:
Artinya: "Bukan rumah itu yang membuat hatiku melayang kegirangan (oleh cinta), melainkan cinta kepada sang pemilik rumahnya yang membuat jiwa ini senang."
Mencintai tanah air adalah juga mencintai penduduk yang hidup di tanah air ini. Maka, kita harus menjadikan penduduk bangsa ini sebagai saudara kita. Bahkan menganggap sebagai diri kita sendiri. Artinya, karena mereka adalah gambaran diri kita, maka kita harus mencintai mereka seperti mencintai diri kita sendiri. Kalau diri kita tidak mau disakiti, maka kita tidak boleh menyakiti orang lain. Kita tidak mau dipermalukan di depan publik, maka tidak boleh mempermalukan orang lain.
Tentu, persaudaran yang mesti kita rawat adalah persaudaran kemanusiaan, persaudaraan setanah air, dan persaudaraan sesama muslim. Persaudaraan kemanusiaan adalah persaudaraan yang berlandasan bahwa kita terlahir dari keturunan nenek moyang yang sama yaitu Adam dan Hawa. Persaudaraan sebangsa adalah persaudaran yang dilandasi bahwa kita sama-sama lahir di negara yang sama, yang tentunya kita adalah bagian dari negara ini. Persaudaran seiman adalah persaudaran yang berlandasan kita sama-sama beragama yang sama yaitu agama Islam.
※ Akar Bencana Kemanusiaan
Hadirin, bagaimana seharusnya bersaudara itu? Khatib ingin menganalogikan dengan kehidupan berkeluarga. Persaudaraan yang secara naluriah tumbuh rasa kasih dan sayang di dalamnya.
Apa yang biasanya kita lakukan terhadap saudara dalam keluarga? Ya, memperlakukan saudara kita dengan penuh kehati-hatian, penuh kesabaran dengan berlandaskan kasih sayang tadi. Kasih sayang adalah jalan untuk menggapai keharmonisan dalam persaudaraan. Artinya, orang yang mempunyai rasa kasih sayang tidak mungkin punya keinginan agar saudaranya tersakiti atas tingkah dan ucapannya.
Kalau punya rasa kasih sayang akan timbul rasa empati dan simpati, jadi ketika kita atau saudara ada yang perlu bantuan akan saling mengusahakan untuk membantu. Kalau punya rasa kasih sayang, tak mungkin seseorang menghina, menganiaya, merusak nama baik saudaranya dengan pertingkah laku dan perkataan kita. Maka begitu juga caranya kita dalam menjalankan Ukhuwwah Insaniah, Ukhuwaah Wathaniyyah, dan Ukhuwwah Islamiyyah yaitu memandang mereka seperti halnya saudara kandung kita yang perlu disayangi.
Bahkan nabi memerintahkan umatnya untuk mempunyai rasa kasih sayang kepada seluruh makhluk Allah yang ada di bumi ini. Rasul mengatakan:
Artinya: "Orang-orang yang memiliki sifat kasih sayang akan disayang oleh Allah yang Maha Penyayang, sayangilah semua yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangimu."
Karena Nabi diutus ke muka bumi ini untuk menebarkan kasih sayang. Sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya: "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (Surah Al-Anbiya’: 107)
Lalu, bagaimana jika ada saudara kita malah berbuat kejahatan kepada kita? Apakah kita harus membalas atas perbuatan saudara kita? Maka ingatlah hadis Nabi SAW yang ini:
Artinya: "Maafkanlah orang yang mendzalimimu, sambunglah orang yang memutusmu (tali silaturahmi), berbuat baiklah kepada orang yang melakukan kejelekan kepadamu dan ucapkanlah kebenaran walau itu kepada dirimu."
Sungguh ini memperjelas cara kita memanusiakan manusia, juga memperjelas bahwa Islam itu agama yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, karena agama Islam mengedepankan rasa kasih sayang kepada makhluk Allah SWT.
Hadirin...
Saat ini kita ada di tahun politik, tahun yang sangat rentan adanya permusuhan akibat saling sikut dan gesekan antar saudara sebangsa tersebab beda pilihan.
Khatib ingin mengingatkan bahwa setiap warga negara memiliki hak suara untuk menentukan pilihannya, sehingga perbedaan pilihan janganlah dijadikan celah untuk memecah belah, tapi jadikanlah perbedaan sebagai rahmat.
Siapapun yang akan terpilih nantinya, tetap kita doakan semoga amanah dan mampu membawa negara kita menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur. Karena bagaimanapun negara ini perlu adanya seorang pemimpin. Sebab tanpa adanya pemimpin, negara sebesar ini bisa menjadi kaos yang tentu dikhawatirkan akan terjadinya perpecahan dengan skala besar, dan kita tidak ingin itu terjadi.
Dengan demikian, mari kita jaga persaudaraan ini dengan saling menghargai. Mari kita laksanakan salah satu kewajiban bernegara ini dengan memilih pemimpin yang dianggap kredibel menurut pandangan masing-masing, tidak perlu mempersibuk hati dan pikiran kita atas pandangan perbedaan dari saudara kita.