Khutbah Jumat Salat, Amanah Penghambaan yang Sering Diremehkan
Khutbah Pertama
Maasyiral muslimin rahimakumullah..
Alhamdulillah kita diberi taufik oleh Allah bisa melakukan ketaatan yaitu shalat jumat dalam keadaan sehat wal'afiyat. Mari, kita sama-sama menguatkan keimanan kita kepada Allah dengan takwa kepada-Nya. Alhamdulillah hari ini adalah perayaan di Isra' dan Mi'rajkannya Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad mendapatkan perintah menerima risalah mulia dari Allah SWT. berupa salat 5 waktu.
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah.
Mengenai salat 5 waktu ini masih banyak dari kita yang masih meninggalkannya. Ya, walaupun kita telah begitu sering—bahkan mungkin telah merasa “kenyang”—mendengar ajakan para dai tentang kewajiban menunaikan shalat lima waktu, bahkan ajakan kewajiban itu dijelaskan dari berbagai sisi: dari nash Al-Quran, hadis Nabi ﷺ, hingga ijma’ para ulama. Tidak berhenti di situ, mereka juga menguraikan faidah dan manfaat shalat bagi kehidupan manusia. Namun demikian, kadang kita masih belum mampu mengindahkan ajakan tersebut. Alasannya kerap kali sederhana, tetapi menipu: terlena oleh waktu.
Padahal, salat lima waktu sejatinya tidak memakan waktu lebih dari tiga puluh menit dalam sehari. Dari total 24 jam yang Allah anugerahkan, pelaksanaan salat fardu—yang berjumlah 17 rakaat dalam lima waktu—hanya membutuhkan sekitar enam menit pada setiap waktu salat. Artinya, lebih dari 23 jam dalam sehari adalah waktu yang tidak digunakan untuk salat fardu.
Lalu, apa yang membuat kadang kita terlena hingga meninggalkan salat lima waktu, padahal waktunya begitu singkat dan ringan? Jawabannya bukan semata karena kesibukan, melainkan karena ketidaksadaran akan hakikat diri sebagai hamba Allah.
Karena itulah, Al-Quran memberikan isyarat yang sangat dalam melalui peristiwa Isra’ Mi’raj. Dalam Surah Al-Isra ayat 1, Allah berfirman:
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam.”
Allah menyebut Nabi Muhammad ﷺ dengan kata ‘abdihi’ (hamba-Nya). Ini menunjukkan bahwa kemuliaan tertinggi Rasulullah ﷺ bukan semata karena kenabian dan kerasulannya, melainkan karena kesempurnaan beliau dalam penghambaan kepada Allah.
Dan dari perjalanan agung inilah, Nabi Muhammad ﷺ menerima perintah salat. Seakan Allah menegaskan bahwa salat adalah bukti paling nyata dari penghambaan, dan hanya hamba yang sadar akan kedudukannya di hadapan Allah-lah yang akan menjaga salatnya, meskipun waktunya sangat singkat.
Seharusnya, kesadaran atas setiap nikmat yang Allah karuniakan—nikmat menghirup napas dengan lega, nikmat kesehatan yang sering kita rasakan tanpa sadar—menjadi jalan untuk menyadari betapa kita sangat membutuhkan Allah. Dari kesadaran itulah lahir keyakinan bahwa kita adalah hamba yang fakir di hadapan-Nya. Maka, salat menjadi salah satu media utama ibadah yang menghubungkan kita dengan Allah.
Hadirin...
Salat adalah amanah yang wajib dijaga. Amanah dalam Islam bukan hanya menjaga titipan berupa harta atau barang, tetapi maknanya sangat luas. Di antara amanah terbesar yang Allah titipkan kepada hamba-Nya adalah menjaga salat lima waktu. Menjaga salat berarti menjaga amanah Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan menyia-nyiakan salat, maka Allah tidak akan memperdulikan sedikit pun dari kebaikan-kebaikannya.”
Hadis ini merupakan peringatan yang sangat keras bagi orang yang meremehkan shalat. Maksudnya, siapa saja yang menghadap Allah—baik saat kematian maupun ketika dihisab—dalam keadaan menelantarkan salat, tidak menjaganya, atau tidak peduli terhadap syarat dan rukunnya, maka amal-amal kebaikan lainnya terancam tidak bernilai di sisi Allah.
Hal ini karena amal pertama yang akan dihisab pada hari kiamat adalah salat. Jika salatnya rusak atau disia-siakan, maka amal-amal lainnya pun ikut terancam tertolak. Seakan-akan ia telah meruntuhkan fondasi utama seluruh amal kebaikannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Salat adalah tiang agama; siapa yang meninggalkannya, maka sungguh ia telah merobohkan agama.”
Salat menjadi tanda dan bukti bahwa seorang hamba senantiasa rindu dan ingin berjumpa dengan Allah SWT. Dalam salat, seorang hamba sejatinya sedang bermunajat kepada Tuhannya, berdiri di hadapan-Nya dengan penuh ketundukan dan kerendahan. Bahkan, salat adalah mi‘raj orang-orang beriman, saat ruh dan hati seorang hamba diangkat untuk mendekat kepada Allah.
Salat memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap jiwa dan raga. Ia menghadirkan ketenangan batin dan menjadi jalan meraih keridaan Allah SWT. Allah Taala berfirman:
“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
Salat yang ditegakkan dengan benar akan mencegah seseorang dari perbuatan yang tidak diridai Allah, membentuk akhlak mulia, serta menghapus dosa-dosa seorang hamba. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya salat lima waktu itu menghapus dosa-dosa sebagaimana air menghilangkan kotoran.” (HR. Muslim)
Maka marilah kita jaga salat kita, kita perbaiki wudu kita, dan kita hadirkan hati kita di hadapan Allah, agar hidup kita bersih, jiwa kita tenang, dan iman kita kokoh.