Khutbah Jumat Saling Menyayangi sebagai Implementasi Sifat Allah dan Rasulullah
Khutbah Pertama
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Kasih sayang atau rahmat adalah sifat Allah yang juga harus kita miliki. Sebab Allah menyukai hamba-Nya yang mengamalkan sifat Allah ini. Agar mereka menjadi para kekasih yang mempunyai sifat kasih sayang di antara para umat manusia dan makhluk-Nya. Rahmat termasuk nilai yang luhur dalam Islam. Hadirin, nikmat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah bagian dari tapak rahmat Allah. Sehat, mempunyai harta, istri, anak-anak saleh, itu semua termasuk juga bagian dari rahmat Allah.
Bahkan kata Rahmah dan turunannya, dalam Al-Quran terdapat 199 kali penyebutan dengan variasi makna yang berbeda. Istimewanya sikap rahmat ini berpotensi melahirkan kedamaian di alam semesta. Manusia dengan rasa kasih sayang dan saling mengasihi mampu mempererat kehidupan, sehingga yang rukun akan tetap rukun, yang tererai akan bisa merekat kembali, penuh cinta dan saling sayang pada masyarakat. Tidak adanya kasih sayang, berpotensi manusia tidak mempunyai rasa iba, saling menjauh dari keluarga dan masyarakat. Bahkan berpotensi saling bermusuhan dan saling perang antar manusia dan negara.
※ Etika Lingkungan dalam Islam
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah
Allah Zat Yang Maha Rahman dan Rahim, artinya yang memberi nikmat dan segala kebaikan yang tak terbatas kepada siapa pun yang tak meminta sama sekali imbalan. Nikmat dan kebaikan yang diberi berupa nikmat besar dan nikmat kecil. Rahman dan rahim ini juga diambil dari asal kata Rahmah (kasih sayang). Kalau kita baca Al-Quran, dalam setiap surah, semuanya diawali dengan Basmalah, kecuali Surah At-Taubah. Dalam Basmalah atau bismillahirrahmanirrahim terdapat dua sifat Allah yaitu Rahman dan Rahim. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Artinya, Allah memperkenalkan dua sifat kasih sayang-Nya kepada hamba. Bisa saja Allah memperkenalkan sifat Jabbar yang artinya Yang Maha Kuasa dan sifat Qahhar yang artinya Yang Maha Mengalahkan, tapi Allah mengenalkan kepada hamba-Nya di dalam bismillah yang sering kita baca itu sifat kasih sayang Allah. Rahman dan Rahim-Nya.
Hadirin Rahimakumullah
Kalau kita hitung, sedikitnya umat muslim menyebutkan bahwa Allah Zat Yang Rahman dan Rahim dalam setiap waktu salat fardu saja di 5 waktu itu, maka terdapat 17 rakaat, dan kalau dihitung, terdapat 68 kali penyebutan Rahman dan Rahim yaitu dalam Surah Al-Fatihah ayat pertama, yang mana fatihah termasuk rukun salat, ayat pertama Surah Al-Fatihah menurut Syafiiyyah adalah basmalah. Juga penyebutan Rahman Rahim yang kita baca dari Surah Al-Fatihah ayat ke-3. Maka penyebutannya menjadi 68 kali.
Belum lagi kalau kita membaca surah-surah pendek. Walau bukan termasuk rukun salat dan bismillah bukan bagian dari surah-surah pendek, tetapi biasanya setiap kita membaca surah-surah pendek tersebut, maka kita awali dengan basmalah. Belum lagi di setiap melakukan hal yang dianggap baik oleh syariat Islam, kita mengawalinya dengan membaca basmalah. Maka setiap hari kita terus mengulang menyebut Allah SWT Zat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dan sifat kasih sayang-Nya itu dapat kita rasakan di setiap detik dalam kehidupan ini.
Apa pentingnya dari berzikir dengan melafalkan basmalah, rahman dan rahim Allah itu?
Yaitu agar kita sadar bahwa kasih sayang Allah kepada makhluk-makhluk-Nya sangatlah luas. Dengan sering membaca basmalah yang memperlihatkan sifat rahman dan rahim-Nya ini pun dapat mempengaruhi setiap hamba yang meresapi dan mentadaburi maknanya. Agar kedua sifat ini meresap ke dalam lubuk hati dan diri kita, sehingga kita berusaha menjadi manusia yang ingin mengaplikasikan sikap dari sifat-sifat Allah rahman dan rahim-Nya dalam kehidupan kita. Tak ada lagi pertengkaran, permusuhan antar sesama umat manusia.
Allah SWT mendekralasikan Rahmah tersebut dalam Al-Quran, Ia berfirman:
Artinya: "Dia telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya."
Dalam Al-Quran Allah SWT berfirman:
Artinya: "Dan Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu."
Artinya rahmat Allah, pemberian nikmat bisa dirasakan bagi siapa pun, bagi orang mukmin maupun orang yang tidak beriman. Dirasakan oleh orang-orang baik ataupun orang-orang jahat.
Hadirin jamaah jumat yang dirahmati Allah
Lihatlah Rasulullah SAW yang diutus Allah sebagai Rahmat. Ya, kasih sayang dan mengasihi adalah salah satu faktor Nabi Muhammad diutus. Allah berfirman:
Artinya: "dan tidaklah kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat (kasih sayang) bagi alam semesta"
Rasul bersabda:
Artinya: "Aku ini hanyalah rahmat yang dikaruniakan dan dihadiahkan."
Bahkan Rasul sendiri adalah rahmat bagi alam semesta ini. Artinya, Rasul adalah pemberian terindah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Ya, di kehidupan hari ini, kita tidak akan mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang berpotensi dosa dan mana yang berpotensi mendapatkan keridaan Allah, jika tidak ada Rasulullah SAW.
Lihatlah baginda Rasulullah SAW dalam menjalani hidup dan bersosial dengan sekeliling dan lingkungannya, dengan kawan dan orang-orang yang memusuhinya. Di setiap langkah hidupnya adalah panutan yang harus diikuti. Beliau adalah orang yang benar-benar merefleksikan sikap Rahmat Allah. Beliau mengajarkan kita bagaimana cara hidup rukun dan penuh kasih sayang. Kepada orang yang lebih tua, kita diajarkan untuk menghormati, kepada anak kecil dan orang yang lebih muda kita disuruh untuk menyayangi dan mengasihi. Bahkan kepada yang telah menzalimi kita diajarkan oleh Rasulullah untuk memaafkan. Padahal kita juga bisa untuk membalas kezaliman mereka.
Dalam ayat dan hadits di atas, Rasul sebagai rahmat bagi alam semesta. Artinya, dalam ajaran Rasul terdapat nilai-nilai rahmah yang akan melahirkan keindahan, kedamaian dan ketenangan bagi seluruh alam semesta ini. Tak ada dalam ajaran Islam sikap yang tidak mencerminkan kasih sayang.
Hadirin Rahimakumullah,
Ada kisah dari hadits Rasul yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwa di suatu hari Rasul mencium cucunya Hasan bin Ali RA, putra Siti Fatimah yang merupakan putri Rasulullah. Di sana ada Aqra' bin Habis At-Tamimi sedang duduk. Lalu Aqra berkata, "Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh anak, tidak ada yang aku cium (tanda kasih sayang) satupun." Lalu Rasul menjawab:
Artinya: "Siapa yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi."
Jawaban Rasulullah menjadi kaidah dan dasar-dasar dalam menjalankan kehidupan ini. Tentu maksud dari hadits itu bahwa kita semua berpotensi disayangi Allah SWT, jika kita menyayangi sesama makhluk Allah.
Bahkan kepada kaum musyrikin, Rasul memiliki sifat Rahmah. Yaitu beliau tidak meminta kepada Allah SWT agar mereka dilaknat, tetapi justru mendoakan kebaikan, agar mereka mendapatkan hidayah. Saat dilempari batu dan kotoran, beliau mendoakan:
Artinya: "Ya Allah berilah umatku hidayah, karena mereka tidak tahu"
Mereka yang tidak beriman itu tidak tahu derajat Rasulullah di sisi Allah.
Banyak sekali keteladanan Rasul dalam mengaplikasikan sikap kasih sayang di dalam kehidupan beliau, yang mungkin tidak akan cukup dalam waktu yang singkat ini. Dan sungguh, beliau adalah teladan yang harus diikuti.
Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah
Sikap Rahmah tidak terbatas hanya kepada umat manusia saja. Manusia dituntut untuk mempunyai sikap menyayangi kepada apapun termasuk hewan, tumbuhan, dan makhluk-makhluk lainnya. Rasulullah berkata:
Artinya: "Orang-orang yang mengasihani maka akan dikasihani oleh Allah dzat yang maha pengasih. Berkasih hasihanilah kalian kepada segala hal yang ada di bumi, maka akan menyayangi kalian makhluk-makhluk yang ada di langit."
Hadirin Rahimakumullah,
Rasul menceritakan bahwa ada seorang perempuan yang suka pergi malam hari untuk menjual dirinya kepada para lelaki, namun saat melihat ada anjing yang kehausan, cepat-cepat si perempuan tadi memberi air minum, dan apa yang terjadi, wahai saudaraku? Perempuan tadi mendapatkan Rahmah Allah, diampuni dosa dan masuk surga. Karena masih terdapat dalam diri perempuan tadi sikap Rahmah kepada hewan anjing yang sama-sama dikucilkan di masyarakat seperti si perempuan itu, ada rasa iba yang menggerakkan si perempuan tadi untuk memberi minum seekor anjing itu.
Di kisah yang lain ada perempuan yang salihah, ia memiliki kucing yang dikurung di kandang. Namun perempuan tadi tidak memberi makan dan minum atau bahkan perempuan tadi tidak melepas kucing agar terbebas dan bisa mencari makan sendiri. Apa yang terjadi, para jamaah? Perempuan tadi mendapatkan keadilan Allah, yaitu Allah memasukkan perempuan tadi ke neraka-Nya.
※ Benarkah Wudu Perempuan Haid Diharamkan?
Apa hikmah di balik kisah di atas? Ibadah kita kepada Allah, salat, puasa, zakat, malam tahajud, berzikir pagi dan sore, siang dan malam tapi di balik itu, kita tidak mempunyai sikap Rahmah kepada sesama, hewan, dan tumbuhan. Kita masih kerap hasud, menyepelekan orang, tidak mempunyai rasa iba, berbuat kezaliman, menghina, mencemooh, melukai hati dan fisik saudara kita, tetangga kita, baik dengan ucapan, perkataan, dan perilaku kita. Maka sesungguhnya ibadah kita belum berbuah Rahmah yang dikehendaki Allah!
Ma'asyiral muslimin yang dirahmati Allah
Mari kita belajar bersama-sama mengaplikasikan sikap saling menyayangi di kehidupan kita. Kita juga sudah mengetahui bahwa Rahmah adalah sifat Allah dan sifat Baginda Rasullah Muhammad SAW, Sang suri teladan kita. Semoga kita mendapatkan rahmat Allah yang luas itu di dunia ini dan di hari pembalasan. Amin Ya Rabbal 'Alamin.