Kisah Syekh Fathi Didatangi Perempuan Mengaku Nabi

Tidak ada nabi dan rasul setelah Nabi Muhammad SAW. Demikian Syekh Fathi menegaskan. Namun, ternyata masih saja ada orang yang mengaku menjadi nabi di zaman sekarang, seperti kisah yang dialami oleh Syekh Fathi ini.

Teks Terjemahan Syekh Fathi Hijazi

Mereka yang mencintai Rasulullah SAW, mereka ada di zaman Rasulullah SAW, karena mereka melihat pada Rasulullah SAW sesuatu yang tidak ada pada seorang pun sebelum Rasulullah SAW, dan pada orang-orang di sekitar mereka, dan tidak akan ada, setelah Rasulullah SAW, orang yang mendapat sesuatu sepertinya. Karenanya, tidak akan ada nabi dan rasul setelah Rasulullah.

"Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, melainkan dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi" (Surah Al-Ahzab: 40)

Maka, tidak akan ada orang yang menjadi nabi setelah Rasulullah SAW, selamanya. Siapa pun yang mengaku demikian maka ia telah berbohong. Dan itu pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW, yaitu Musailimah. Karenanya, ia disebut Kadzdzab (pembohong) dan ucapan-ucapannya adalah bohong.

Dan ada juga Sijjah, seorang perempuan yang ingin menjadi nabi. Dia, pada dasarnya, membutuhkan orang yang mengurusnya, maka bagaimana bisa dia mengurusi umat.

Allah yang menciptakannya berfirman:

"Laki-laki adalah penanggung jawab atas para perempuan" (Surah An-Nisa': 34)

Maka, dari sini ia tidak bisa menjadi nabi, dan tidak juga pemimpin dan tidak memiliki sesuatu (tanggung jawab) pada manusia, karena dia butuh orang yang bertanggung jawab atasnya. Karenanya, kamu akan mendengar beberapa angan-angan perempuan, perempuan ingin menjadi nabi, seperti Sijjah.

Sekitar 6 bulan lalu, saya ditemui perempuan.

Ia mengatakan: "Saya seorang guru"

Lalu ia mengatakan: "Tuhanku berbicara dengan denganku"

Lalu saya berkata padanya:

"Apakah akalmu sempurna?"

Ia berkata: "Iya, saya seorang guru"

Saya berkata: "Masyaallah"

"Apa pendapatmu mengenai firman Allah:

"Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, melainkan dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi" (Surah Al-Ahzab: 40)

Ia berkata: "Penutup para nabi laki-laki"

"Pintu masih terbuka untuk perempuan"

Ini ucapan yang bagus.

Kemudian ia membahas perkataan saya yang ada di siaran Al-Quran.

Ia asal berkata apa yang dia tidak tahu. Saya berkata kepadanya. Bagaimanapun orang seperti ini tidak bisa diajak bicara ilmu. Kenapa? Karena ilmu butuh akal. Imam Asy-Syafi'i, semoga Allah meridainya berkata,"Andaikan saya didebat oleh orang yang berilmu, saya akan menang"

"dan andaikan saya didebat orang yang bodoh, saya akan kalah"

Ini benar. Perempuan ini, apa yang saya lakukan padanya? Saya berkata padanya, bagaimanapun dia adalah hamba Allah:

"Ini adalah risalah baru dan saya harap kamu pergi ke siaran Al-Quran, agar kamu menjelaskan pada dunia, risalah kamu"

Tentunya, ini adalah akhir kata. Semoga saja dia paham

Hanya saja dia kembali lagi sebulan lalu. Saya saat itu tidak di rumah. Tetapi saya dikabari orang yang menerimanya.

Ia berkata: "Sampaikan kepada fulan"

"Kamu kedatangan seseorang yang telah berbicara pada Tuhannya"

Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Kita mintakan kepada Allah kesembuhan untuknya.

Karenanya ketika Allah berfirman: "...dan penutup para nabi" (Surah Al-Ahzab: 40), maka tentunya tidak ada perkataan bagi kita, tidak pada laki-laki dan tidak pada perempuan, maka pembicaraan telah berakhir. Maka setiap orang yang berkata dalam hal kenabian, kita katakan kepadanya: "Kamu telah menyelisihi dengan jelas perkataan Allah". Karena Dia telah menutup risalah. Risalah berasal dari siapa? Dari Allah. Allah lah yang berkata, “Aku telah menutup risalah”. Apakah Allah akan mengatakan sesuatu lalu mencabutnya kembali? Maha Suci Allah. Firman-Nya adalah pemisah (antara yang hak dan yang batil) dan bukanlah senda gurau.

💡
Simak terjemahan lain di kanal YouTube Tawazun ID dan Subscribe untuk mengikuti update terkini.

Penerjemah: Ahmad Nasrullah
Penyelaras: M. Ali Arinal Haq