Kita Wajib Mencintai Rasulullah SAW
Syekh Ali Jumu’ah menegaskan bahwa teladan utama umat Islam adalah Sayidina Nabi Muhammad SAW. Karena itu, mencintai beliau bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban iman yang harus tampak dalam sikap dan cara pandang seorang muslim.
Beliau menjelaskan, kekeliruan muncul ketika ada orang yang ingin memperlakukan Rasulullah SAW sebagaimana memperlakukan manusia biasa, tanpa pengagungan dan penghormatan yang layak bagi seorang nabi.
Kekeliruan ini sering berangkat dari pemahaman yang tidak utuh terhadap ayat-ayat Al-Quran. Allah berfirman: “Katakanlah, sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian yang diberi wahyu.”
Namun, Syekh Ali Jumu’ah mengingatkan bahwa sebagian orang memotong ayat ini dan hanya menuliskan, “Katakanlah, sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian.” Pemotongan semacam ini menghilangkan makna paling penting dari ayat tersebut, yaitu kedudukan Nabi sebagai manusia yang menerima wahyu.
Para ulama, lanjut beliau, dengan tegas menolak cara baca seperti ini. Mereka menyatakan, “Tidak ada ayat seperti itu di dalam Al-Quran.” Sebab, memotong ayat dan menghilangkan kelanjutannya berarti merusak makna yang dikehendaki Allah.
Syekh Ali Jumu’ah kemudian memberi perumpamaan yang sangat jelas. Ini seperti seseorang mengutip ayat, “Celakalah orang-orang yang salat,” lalu berhenti di situ. Padahal, ayat tersebut tidak pernah berdiri sendiri. Yang benar adalah: “Celakalah orang-orang yang salat, (yaitu) mereka yang lalai terhadap salatnya.” Tanpa kelanjutan ayat, makna Al-Quran bisa dipahami secara keliru dan menyesatkan.
““Tidak ada ayat dalam Al-Quran yang boleh dipahami dengan cara dipotong, karena pemotongan itu menghilangkan makna yang dikehendaki Allah.” — Syekh Ali Jumu’ah
Penjelasan Syekh Ali Jumu’ah ini menegaskan bahwa mencintai Rasulullah SAW harus dibangun di atas pemahaman yang utuh dan adab yang benar. Nabi Muhammad SAW memang manusia, tetapi beliau adalah manusia yang dipilih Allah, diberi wahyu, dan dijadikan teladan sempurna bagi umat ini.
Menghormati beliau, memuliakan kedudukannya, dan menjaga keutuhan pemahaman terhadap Al-Quran adalah bagian dari wujud cinta yang sejati kepada Rasulullah SAW.