Konferensi Islam di Bahrain: Syekhul-Azhar Serukan Persatuan Nyata
TAWAZUN.ID — Imam Akbar Syekhul-Azhar Prof. Dr. Ahmad Ath-Thayyib dalam pidatonya di Konferensi Dialog Intra-Islam menegaskan bahwa persatuan Islam bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk menghadapi krisis global yang semakin menekan umat.
Konferensi ini dihadiri oleh 400 tokoh Islam dari berbagai mazhab dan pemikiran. Dengan tema “Satu Umat, Satu Masa Depan”, pertemuan ini menjadi momentum krusial bagi dunia Islam, yang menurut Syekhul-Azhar, berada di persimpangan jalan di tengah badai krisis yang mengancam eksistensinya.
“Dunia Islam tidak bisa lagi tertidur dalam ilusi perpecahan. Kita berada di tengah badai besar yang dapat menghancurkan peradaban Islam yang telah bertahan selama lebih dari 15 abad.”
Palestina, Barometer Kegagalan atau Keberhasilan Persatuan Islam
Dalam pidatonya, Syekhul-Azhar menegaskan bahwa Palestina adalah kompas umat Islam. Perjuangan rakyat Palestina yang semakin terdesak oleh konspirasi besar, termasuk upaya pengusiran paksa di Gaza dan perampasan tanah mereka, menjadi bukti nyata betapa dunia Islam sangat membutuhkan persatuan yang nyata, bukan sekadar slogan.
Beliau memuji solidaritas dunia Arab dan Islam—baik rakyat maupun pemimpin—dalam menolak ketidakadilan ini sebagai langkah awal menuju persatuan yang lebih luas dan berkelanjutan.
“Jika kita gagal bersatu membela Palestina, maka kita telah gagal sebagai umat. Palestina bukan hanya milik rakyatnya, tetapi milik seluruh umat Islam.”
Mengapa Umat Islam Masih Gagal Bersatu?
Syekhul-Azhar mengkritisi bahwa usaha mendekatkan antarmazhab selama ini hanya sebatas diskusi akademik tanpa implementasi nyata di lapangan.
“Tema pendekatan antara Sunni dan Syiah telah dibahas berulang kali, tetapi hanya di tingkat debat dan perdebatan intelektual. Tidak ada langkah nyata yang membawa gagasan ini ke realitas masyarakat Muslim.”
Beliau mengingatkan bahwa persatuan Islam bukan berarti menyeragamkan keyakinan, melainkan membuka ruang komunikasi dan kerja sama di antara berbagai kelompok dalam Islam tanpa saling meniadakan atau menyesatkan.
Sebagai contoh, beliau menyoroti peran Dar At-Taqrib di Kairo, yang pada tahun 1949–1957 menerbitkan majalah Risalah Al-Islam, sebuah platform yang menampilkan dialog intelektual antara ulama Sunni dan Syiah. Selain itu, puluhan penelitian akademik terkait pendekatan mazhab juga telah diterbitkan di Mesir, Irak, Iran, dan Lebanon.
Namun, menurutnya, usaha-usaha ini tetap belum cukup karena masih bersifat teoritis. Diperlukan langkah konkret untuk menjadikan persatuan Islam sebagai realitas politik, sosial, dan ekonomi.
Pelajaran dari Eropa: Umat Islam Bisa, Jika Mau
Dalam perbandingan yang tajam, Syekhul-Azhar menyinggung bagaimana Eropa mampu membangun persatuan meskipun terdiri dari 27 negara dengan berbagai etnis, bahasa, dan agama.
“Jika mereka yang bukan Muslim mampu membangun persatuan dan menjadikannya perisai menghadapi tantangan politik, ekonomi, dan budaya mereka, maka mengapa umat Islam masih gagal membangun persatuan yang menjadi kebutuhan mendesak bagi kelangsungan hidup mereka?”
Beliau menekankan bahwa Islam memiliki lebih banyak faktor pemersatu dibandingkan Eropa, termasuk kesamaan dalam agama, sejarah, bahasa, dan budaya. Namun, umat Islam justru terpecah karena perbedaan yang seharusnya bisa dikelola dengan bijak.
"Konstitusi Ahlul-Qiblah": Langkah Nyata menuju Persatuan Islam
Sebagai solusi konkret, Syekhul-Azhar mengusulkan penyusunan “Konstitusi Ahlul-Qiblah”, sebuah Piagam Persaudaraan Islam yang bertumpu pada hadis sahih:
“Barang siapa yang menunaikan salat seperti kita, menghadap kiblat kita, dan memakan sembelihan kita, maka dia adalah seorang muslim yang memiliki perlindungan dari Allah dan Rasul-Nya.”
Piagam ini bertujuan untuk menghapus sikap saling mengafirkan, menghentikan narasi kebencian antarmazhab, serta membangun dialog berbasis kesamaan, bukan perbedaan.
Syekhul-Azhar menegaskan bahwa piagam ini bukan hanya simbol, melainkan kebutuhan mendesak agar umat Islam dapat hidup berdampingan dalam bingkai persaudaraan dan kerja sama.
“Kita harus menetapkan prinsip emas: ‘Kita bekerja sama dalam hal yang kita sepakati, dan kita saling memaafkan dalam hal yang kita perselisihkan.’”
Peringatan Terhadap Bahaya Perpecahan
Di akhir pidatonya, Syekhul-Azhar memberikan peringatan keras kepada umat Islam agar tidak terjebak dalam agenda pihak luar yang menggunakan sektarianisme sebagai alat untuk mengadu domba negara-negara muslim.
“Mereka yang menyebarkan fitnah, mengadu domba, dan mempermainkan stabilitas negara-negara muslim adalah pelaku kejahatan yang bertentangan dengan Islam, nilai kemanusiaan, dan norma internasional.”
Beliau menyerukan agar umat Islam mengambil inspirasi dari bangsa-bangsa lain yang telah berhasil membangun persatuan demi memperkuat stabilitas dan melindungi rakyatnya dari ketidakadilan.
Apresiasi kepada Raja Bahrain
Menutup pidatonya, Syekhul-Azhar menyampaikan apresiasi kepada Raja Hamad bin Isa Al Khalifa, yang telah memberikan dukungan penuh terhadap konferensi ini.
Beliau menegaskan bahwa pertemuan ini berlangsung pada saat yang sangat krusial bagi dunia Islam, yang tengah menghadapi berbagai tantangan global yang mengancam peradabannya.
“Saya berharap konferensi ini menghasilkan solusi nyata untuk memperkokoh persatuan umat Islam, agar kita tidak kehilangan peradaban yang telah kita bangun selama lebih dari 15 abad.”