Luka Pesantren Itu Akan Pulih: Antara Tradisi, Kritik, dan Transformasi
Di tengah ramainya perbincangan dan kritik terhadap dunia pesantren akhir-akhir ini, muncul kesadaran baru bahwa lembaga ini sedang memasuki fase penting dalam sejarahnya—sebuah fase transformasi. Beragam pandangan publik tentang pesantren menandai adanya pergeseran paradigma: dari cara masyarakat memandang pesantren yang dulu “tertutup dan tradisional”, kini menjadi lembaga yang semakin terbuka dan adaptif terhadap perubahan.
Namun, bagi saya pertanyaan mendasarnya adalah: pada ranah apa transformasi pesantren perlu dilakukan, dan pada titik mana tradisi harus tetap dijaga?
Di sinilah pesantren diuji: bagaimana menyeimbangkan antara tradisi dan modernitas, antara menjaga dan memperbaharui. Maka pesantren yang sejati—hemat saya— tidak akan menolak kritik, karena pesantren sejatinya tidak pernah takut berbenah. Dalam tubuhnya terdapat dua wajah yang saling melengkapi: satu wajah yang kokoh menjaga nilai-nilai luhur—pilar adab, sanad keilmuan, dan khidmah; dan di sisi lain wajah yang terbuka pada pembaruan, inovasi, serta tantangan zaman.
Luka itu Menjadi Cermin untuk Berbenah
Musibah robohnya bangunan musala di Pesantren Al-Khoziny beberapa waktu lalu menjadi potret getir tentang lemahnya infrastruktur dan perhatian terhadap keselamatan lingkungan belajar di pesantren. Di sisi lain, peristiwa itu juga menyadarkan banyak pihak—baik kalangan internal pesantren maupun pemerintah—akan pentingnya sistem pengawasan dan dukungan fasilitas yang memadai.
Kabar baiknya, kesadaran ini melahirkan komitmen baru dari negara yang sebelumnya absen: hadirnya dana APBN dan pembentukan Dijten Pesantren di Kemenag. Dari luka itu, pesantren belajar untuk bangkit. Sarana pra-sarana kemudian menjadi salah satu prioritas utama pesantren ke depan.
Kasus lain datang dari polemik tayangan “Expose Uncensored” di Trans7 yang dinilai menyinggung kehormatan KH Anwar Manshur dari PP Lirboyo. Tayangan itu memicu gelombang kemarahan besar di kalangan santri karena dianggap melecehkan adab dan menuduh pesantren bersifat materialistik.
Meski sebagian reaksi publik terlampau emosional, kemarahan itu lahir dari kesadaran mendalam: bahwa pesantren bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan rumah adab; tempat di mana hormat kepada guru adalah bagian dari perjalanan intelektual dan spiritual seorang santri. Kritik dari kalangan luar pesantren itu akhirnya terasa seperti serangan terhadap nilai moral yang telah diwariskan berabad-abad.
Dua peristiwa tersebut—robohnya bangunan dan framing negatif akibat kesalahpahaman—menurut saya kemudian menjadi cermin dari dua ujian besar pesantren hari ini: ujian untuk berbenah secara struktural serta ujian untuk bertahan dalam kesalahpahaman publik. Namun justru di situlah letak ketangguhan pesantren: ia bisa terluka, tapi selalu memiliki daya untuk memulihkan diri.
Apa yang Harus Dijaga, dan Apa yang Perlu Berkembang
Seperti diungkapkan Prof. M. Zainuddin dalam tulisannya “Transformasi Pesantren dalam Pembangunan Peradaban”, ada tiga fondasi yang menjadi ciri khas pesantren: pertama, Pola pendidikan live-in — yaitu kehidupan 24 jam di asrama yang menanamkan nilai kebersamaan dan kemandirian. Kedua, Kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) — berupa keteladanan para kiai dan ustaz yang menjadi madrasah hidup bagi santri. Ketiga, Pembiasaan karakter dan adab — keuletan, tawadhu’, kesederhanaan, dan tanggung jawab moral.
Tiga hal ini adalah inti pesantren yang tak boleh diubah oleh zaman. Sebab di sinilah ruh pesantren bersemayam. Namun di luar itu—dalam hal kurikulum formal, sarana-prasarana, dan pola pengajaran—pesantren perlu terus berkembang. Modernisasi bukanlah ancaman, melainkan sarana untuk berkembang dan menyesuaikan dengan zaman.
Hasil riset Alvara Research Center (2025) yang dikutip oleh Hasanuddin Ali dalam tulisannya, “Berdasarkan Riset, Apa yang Anak Muda Harapkan dari Pesantren Hari Ini?” menegaskan hal ini. Generasi muda kini menginginkan pesantren yang lebih modern: memiliki fasilitas yang layak (UKS, MCK bersih, perpustakaan, internet, lapangan olahraga, kantin), dan kurikulum terpadu antara ilmu agama dan umum. “Pesantren yang mampu memenuhi kebutuhan dasar sekaligus menyediakan sarana modern akan lebih mudah diterima oleh generasi muda,” tulisnya.
Walhasil pesantren tidak akan kehilangan jati dirinya dengan beradaptasi. Justru dengan bertransformasi, ia sedang memperkuat misinya sebagai mercusuar pendidikan Islam dalam menyebarkan ilmu, akhlak, dan kebijaksanaan. Kira-kira sudah sejak 2 abad lalu pesantren terbukti memiliki daya hidup luar biasa. Ia bisa terpuruk, namun tidak akan punah; bisa dikritik, tapi tak kehilangan arah. Karena di dalam dirinya mengalir warisan spiritual yang panjang: kesabaran para kiai, ketekunan para santri, dan keikhlasan para pengabdi ilmu.
Setiap luka yang menimpa pesantren bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kehidupan. Ia akan selalu bangkit, berbenah, dan bertransformasi—tanpa kehilangan ruh sucinya. Sebab pada hakikatnya, “Nyantri adalah perjalanan pulang menuju diri sendiri; mengusir kemalasan, kebodohan, dan kesombongan yang menggelapkan hati.” Dan selama ada doa para kyai di sepertiga malam, tirakat para santri dan keberlangsungan majlis ilmu di sana, luka pesantren itu akan pulih. Selalu.