Memahami Hakikat Cinta Muhammad
“Saat cinta Muhammad telah memenuhi sudut-sudut hati, harumnya iman akan tersebar di dalamnya. Saat cinta Muhammad telah menguasai seluruh daya akal, kekuatan keyakinan bercucuran padanya. Apa hakikat dari eksistensi manusia, selain hati yang beriman dan akal yang yakin?”
Prof. Dr. Muhammad Abdulfadhil Al-Qushi
Dalam Islam, mencintai Nabi Muhammad SAW—sebagaimana kita tahu— merupakan suatu prasyarat untuk menggapai kemenangan di dunia dan akhirat. Secara zahir, sudah cukup besar umat Islam menunjukkan ekpresi kecintaan mereka terhadap Nabi Muhammad SAW. Seperti misalnya, majelis shalawat dan maulid Nabi yang disambut begitu meriah dan antusias dengan jutaan umat Islam merayakannya. Namun, apakah kita sudah paham bagaimana hakikat mencintai Nabi Muhammad itu? Apakah cukup dengan perayaan dan bentuk ekspresi dalam kegiatan tersebut?
※ Hukum Maulidan di Luar Rabiul Awal
Pertanyaan tersebut seyogianya menjadi bahan refleksi bersama. Sebagai umat Islam, kita tidak boleh berhenti pada simbol-simbol saja, melainkan juga perlu menaikkan kualitas keimanan dan pemahaman, dalam hal ini juga perasaan cinta kita pada Nabi Muhammad SAW. Tentu tidak semua orang bisa paham bagaimana hakikat dari “Cinta Muhammad” (Al-Mahabbah Al-Muhammadiyyah) yang betul-betul agung dan berbeda dari segala bentuk cinta yang lain. Dalam tulisan ini, saya akan menguraikan penjelasan Syekh Muhammad Abdulfadhil Al-Qushi dalam tulisannya di Majalah Al-Azhar berjudul, “Al-Mahabbah Al-Muhammadiyyah” yang menjelaskan hakikat “Cinta Muhammad”. Menurut saya, tulisan tersebut dapat menjadi rujukan bagaimana kita seyogianya memahami dan menempatkan perasaan cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
Menariknya, Syekh Muhammad Abdulfadhil Al-Qushi memulai tulisannya dengan satu kegelisahan: apakah “mencintai Nabi” kita pahami sebatas kewajiban moral agama semata? Cinta yang didasari pada aturan “wajib” tentu hanya akan sebatas transaksional: ia lahir akibat takut akan ancaman dosa dan harap akan pahala. Akankah kita mencintai Nabi Muhammad hanya karena itu adalah perintah Allah dalam arti kewajiban moral? Kalau demikian, cinta semacam itu masih bersifat relasi transaksional takut dan harap.
Sedang, objek yang kita cintai itu adalah seseorang yang telah menumbuhkan kasih sayang, nilai-nilai luhur, bahkan cinta itu sendiri pada kehidupan ini. Ia adalah penyambung bumi dengan langit dan penyambung manusia dengan Tuhan. Oleh sebab itu, kita harus melampaui “cinta transaksional” yang sebatas aturan-aturan formal saat mencintai Nabi. Karna pada hakikatnya, sebelum perintah mencintai Nabi itu turun, Cinta Muhammad sebenarnya telah menjadi hakikat semesta yang dirasakan oleh seluruh makhluk dunia, bahkan benda-benda yang tak bernyawa.
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di siniSyekh Muhammad Abdulfadhil Al-Qushi menunjukkan bukti akan hal itu dengan mengutip dua kisah dari hadits Nabi yang menunjukkan perasaan semesta pada marwah dan keagungan Nabi Muhammad SAW. Pertama, hadits yang menceritakan tangisan batang pohon akibat Nabi sudah tidak lagi berpijak padanya saat berkhutbah. Diceritakan bahwa orang-orang mendengar semacam rintihan atau tangisan dari batang pohon tersebut tersebut hingga Nabi meletakkan tangannya pada batang tersebut, ia terdiam. Hadits kedua menceritakan suatu ketika Nabi berfirman tentang Gunung Uhud ketika Nabi melewatinya. “Ini adalah gunung yang mencintai kita dan kita mencintainya”. (dua hadits ini sama-sama dikutip dari Shahih Al-Bukhari).
Berdasarkan hadits ini, kita belajar bahwa Cinta Muhammad tidak sekadar cinta dalam makna kewajiban moral semata, melainkan ia adalah cinta yang menembus hakikat semesta: hingga membangkitkan perasaan pohon dan gunung. Mereka (benda-benda dan tanaman) seolah paham dan mengerti akan agungnya risalah yang diemban oleh rasul yang mulia. Dengan demikian, “Cinta Muhammmad” hakikatnya telah berdenyut di dalam nadi semesta, sehingga ia sanggup membuat batang pohon dan gunung-gunung memiliki empati terhadap keberadaan dan kasih sayang nabi akhir zaman.
Pengalaman Profetik dalam “Cinta Muhammad”
Ada semacam kedudukan tersendiri bagi “Cinta Muhammad” di antara berbagai macam jenis cinta manusia di dunia. Ia lebih dari cinta seseorang pada keluarganya, seorang lelaki pada kekasih wanitanya, bahkan seseorang pada dirinya sendiri. Oleh sebab itu, “Cinta Muhammad”—sebagaimana di atas—tidak bisa dibangun hanya berdasar kewajiban moralitas agama, melainkan sebuah keniscayaan bahkan sebelum kasih sayang dan cinta itu sendiri ada dan dimengerti umat manusia.
Dalam istilah yang lebih mendalam, ada semacam kesadaran dan pengalaman profetik yang dialami umat Islam dalam mencintai Nabi Muhammad. Cinta Muhammad menurut Syekh Muhammad Abdulfadhil Al-Qushi, adalah perasaan otentik yang spesial, tiada tanding dari keseluruhan pengalaman spiritual-profetik. Syekh Al-Qushi membahasakan, “Pengalaman yang dirasakan namun tidak bisa dideskripsikan, dialami namun tidak bisa diceritakan, sukar untuk dijelaskan sehingga hanya cukup diisyaratkan dalam bahasa para ahli.”
※ Statis dan Dinamis dalam Pandangan Islam
Bahkan ada relasi antara “Cinta Muhammad” dengan semesta. Mencintai Nabi Muhammad berarti sekaligus hal-hal yang berhubungan dengan dzat sosok penutup para nabi tersebut yaitu: cinta semesta dalam ruang dan waktu, perkataan, dan perbuatan. Pengalaman spesial dan otentik seorang pecinta sejati Nabi Muhammad bahkan sanggup merasakan—melampaui ruang dan waktu—kehadiran Rasulullah SAW dalam gerak gerik ibadah dan zikirnya. Ia dalam relung kesadarannya, hidup seolah dibersamai, dibimbing, diarahkan langsung oleh Al-Hadi, Asy-Syafi’ (sang pemberi wasilah hidayah sekaligus syafaat).
Itulah hakikat yang perlu kita bawa dalam upaya mencintai Nabi Muhammad SAW. Kitalah yang menaikkan kesadaran itu dalam perasaan kita saat berzikir, bershalawat, bahkan dalam seluruh aktivitas kehidupan kita sehari-hari. Dengan demikian, kita akan sanggup maju secara zahir dan batin melawan krisis spiritual yang menghinggapi sekian ribu umat manusia hari ini. Tabik!