Memaknai Seruan Dialog Sunni-Syiah Imam Akbar

“Dialog intra-Islam itu lebih sulit dilakukan daripada antar-agama, sebab perseteruan internal itu lebih dahsyatdibanding eksternal”. Narasi ini mungkin tepat untuk menjadi bahan refleksi akhir-akhir ini. Di tengah banyaknya wacana rekonsiliasi antar agama di forum-forum dunia, problem intra-agama telah luput dari perhatian. Terutama problem sektarianisme, yang dalam Islam masih begitu sukar untuk dihilangkan. Bahkan lahirnya konflik perang dan radikalisme yang menumpahkan darah sesama muslim, nyaris lahir dari problem internal (intra-agama) Islam itu sendiri.

Sekali lagi, kegelisahan itu tepat dihadirkan di tengah banyaknya forum antar-agama. Di Indonesia,  masih hangat diberitakan forum R20 (Religion Twenty) yang diprakarsai Nahdlatul Ulama pada 2-3 November di Bali. R20 diadakan degan tema besar “Revealing and Nurturing Religion as a Source of Global Solutions: A Global Movement for Shared Moral and Spiritual Values” (Menyatakan dan Menjaga Agama sebagai Sebuah Sumber Solusi Global: Gerakan Global untuk Menebar Nilai Moral dan Spiritual).

Tepat satu hari setelah itu, rapat paripurna ke-16 Majlis Hukama’ Al-Muslimin dilakukan di Kerajaan Bahrain. Kegiatan yang dilaksanakan pada 4 November lalu tersebut mengangkat tema “Hiwar Asy-Syarqi wa Al-Gharbi min Ajli At-Ta’ayusy Al-Insani”

Gelar Pertemuan ke-16 di Bahrain, Ini Topik Bahasan Majlis Hukama Al-Muslimin
Majlis Hukama Al-Muslimin akan mengadakan pertemuan pada 4 November. Bertempat di Kerajaan Bahrain, rapat ini mengangkat sejumlah isu penting.

Dua kegiatan ini (R20 dan Multaqa Majlis Hukama’ Al-Muslimin) sama-sama melibatkan narasi antar-agama untuk menjawab problem-problem kontemporer. Baik Kiai Yahya Cholil Staquf, Imam Akbar Ahmad Ath-Thayyib, dan para pemuka agama lainnya yang hadir bertujuan menyatukan narasi umat beragama di dunia. Seperti upaya penghentian perang Rusia-Ukraina, Islamophobia, Rohingnya, dsb. Namun, ada yang berbeda di momen intenasional Majlis Hukama’Al-Muslimin tersebut. Dari sekian pesan Imam Akbar yang hadir pada konteks menjawab problem internasional, yang menarik dan sempat mendapat sorotan media adalah seruan dialog secara khusus untuk Syiah. Berikut pidato pemungkas Imam Akbar:

“... Yang terpenting adalah seruan kepada seluruh pemuka agama di dunia seluruhnya, terlepas dari perbedaan mazhab, kelompok, dan sistem berpikir mereka, seruan untuk mengadakan dialog intra-Islam demi menegaskan kesatuan, kedekatan, dan saling mengetahui. Dialog demi menegakkan persaudaraan agama dan kemanusiaan yang bisa mencerabut sebab-sebab perpecahan, fitnah dan perseteruan sektarian secara khusus.

Seruan ini kami tujukan secara khusus pada saudara kita sesama muslim, Syiah. Sebab saya tengah siap bersama para ulama besar Al-Azhar, Majlis Hukama’ Al-Muslimin. Untuk membuat dialog terbuka semacam ini dengan hati yang terbuka dan uluran tangan untuk duduk bersama di meja makan satu. Demi melampaui lembaran masa lalu, dan mengokohkan nilai Islam dan kesatuan pendirian Islam yang bercirikan realistis. Serta menyambut tujuan-tujuan (maqhasid) Islam dan syariatnya. Dan mencegah umat Islam untuk terhasut pada seruan-seruan perselisihan,” (Pidato Imam Akbar pada penutupan Forum Dialog Bahrain, 4 November 2022)

Belajar dari Perdebatan Ibnu Buthlan vs Ibnu Ridhwan
Perdebatan dua alim di bidang kedokteran ini menjadi salah satu bukti dinamisnya tradisi keilmuan. Ilmu tumbuh subur dalam dialektika para ulama.

Wacana dialog Sunni-Syiah mungkin sudah isu lama, namun mengapa sosok Imam Akbar di momen internasional yang begitu sensitif, kembali menghadirkannya? Begitu juga dari sekian kebijakan diplomatis yang ia ucapkan, mengapa pada ajakan dialog dengan Syiah, Imam Akbar Ahmad Ath-Thayyib menyertakan pribadi dan identitas Al-Azhar, (saya bersama ulama Al-Azhar) ? Hal ini menurut saya menjadi pertanda bahwa agama sebelum menjadi problem solver bagi sekitarnya, terlebih dahulu ia harus selesai dengan dirinya. Munculnya ajakan dialog Sunni-Syiah tersebut menurut saya memberikan potret bahwa problem sektarian Sunni-Syiah itu masih riil, terlebih di situasi geopolitik Timur Tengah dan kompleksitasnya. Dari sini mari kita elaborasi lebih jauh wacana rekonsiliasi Sunni-Syiah.

Rekonsiliasi Sunni-Syiah Secara Intelektual

Dari pesan eksplisit Imam Akbar di atas, tentu kita menanti-nanti apa regulasi dan gebrakan yang akan dikeluarkan oleh Al-Azhar pasca ajakan tersebut. Meski hingga saat ini kita tidak mendengar respon serius dari Teheran akan ajakan tersebut. Rekonsiliasi untuk menghapus sektarianisme adalah salah satu gebrakan Al-Azhar yang dikenal dengan At-Taqrib baina Al-Madzahib. Sebuah gerakan pembaharuan Al-Azhar untuk menerjemahkan moderatisme Islam secara luas dan luwes. Tentu hal  itu dihasilkan dengan segenap perangkat keilmuan dan metodologi yang ketat. Sejauh mana gebrakan rekonsiliasi secara intelektual itu dilakukan? Khususnya konteks Sunni-Syiah?

Ajakan seperti ini bukan pertama kalinya dilakukan oleh Syekhul-Azhar. Pada 2015 tercatat Syekhul-Azhar aktif berdialog dan mengomentari tindak-tanduk Ali Khamenei. Seperti komentar Syekhul-Azhar yang menolak campur tangan Syiah pada urusan internal negara Bahrain dan negara-negara Arab. (CNN Bil Arabiyah). Dalam kurikulum Al-Azhar sendiri, implementasi At-Taqrib baina Al-Madzahib itu terejawantah dalam diperluasnya studi fikih (yurisprudensi) pada delapan mazhab—di antaranya adalah mazhab Zaidiyyah milik Syiah. Secara khusus, sampai dibuat fatwa komparatif Sunni-Syiah waktu itu (2015) yang berisi dilarangnya masyarakat Sunni membunuh Syiah dan sebaliknya Syiah membunuh Sunni.

Dalam ruang publik intelektual, hubungan Sunni-Syiah dalam hal ini Al-Azhar dan ulama Syiah,  disebut positif –bersaing dalam produktivitas keilmuan. Sampai-sampai ada ungkapan “rival intelektual sejati Sunni itu adalah Syiah, bahkan nyaris mengalahkannya”. Hal itu kita lihat pada sikap para tokoh Al-Azhar yang ‘terbuka’ pada turats dan intelektual rivalnya. Terbukti, dalam karangannya At-Turats wa At-Tajdid, Grand Imam Syekhul-Azhar secara terang-terangan mengapresiasi Muhammad Baqir Al-Sadr. Pun yang paling dekat adalah gagasan rekonsiliasi Sunni-SyiahMuhammad Quraish Shihab dan apresiasinya pada Tafsir Ath-Thaba’thabai. Dari Syiah kita menemukan Syekh Kamal Haidari yang begitu terbuka membahas berbagai keilmuan Sunni di dalam majlisnya.

Al-Quran

Kumpulan tulisan dengan kata kunci Al-Quran dan cabang ilmunya bisa teman-teman temukan

di sini

Di Indonesia, tokoh-tokoh yang senada dengan perjuangan ini adalah Alm. Jalaluddin Rahmat, Haidar Bagir, dan sebagainya. Hal yang menandai bahwa kegelisahan akan konflik ini, sudah bukan lagi dipikirkan perseorang saja, melainkan banyak pihak yang sudah memiliki wawasan yang tinggi. Maka sudah saatnya masyarakat muslim Indonesia, khususnya Sunni tidak lagi terninabobokkan sejarah berikut agitas-agitasi intolerannya terkait Syiah.

Proyek rekonsiliasi Sunni-Syiah ini penting untuk dihadirkan pada dua konteks: pertama, visi melampaui problem sektarian –baik teologis maupun murni politis—warisan sejarah. Khususnya, bagaimana mengubah cara pandang bahwa Syiah yang kita lihat hari ini sudah berbeda jauh dengan yang di awal kemunculannya dalam sejarah. Terlebih, Al-Azhar dengan sikap la nukaffiru ahla al-qiblah (kami tidak mengafirkan orang yang menghadap kiblat) berpegang teguh bahwa terlepas dari perbedaan paham teologis, Syiah tetap saudara sesama muslim. Kedua, problem Sunni-Syiah yang sengaja dibesar-besarkan hari ini sebenarnya hanya isu politik yang dibungkus agama. Yakni konflik Timur Tengah yang melibatkan Saudi, Irak, dan Iran. Bahkan tidak berlebihan jika dibilang ada pihak-pihak tertentu yang secara sengaja ingin melanggengkan framing isu tersebut, sebab dari situ mereka mendapat keuntungan. Dari sini, masihkah kita—warga Sunni— termakan framing politik adu domba pertikaian Sunni-Syiah?

Campur Tangan Politik Internasional

Dari paragraf sebelumnya, jelas bahwa problem Sunni-Syiah sejatinya problem politis, alih-alih problem agama yang abadi. Secara geopol, konflik Sunni-Syiah sejatinya banyak dimainkan oleh Arab Saudi yang ikut campur pada perang Iran-Irak. Sejak terjadinya revolusi Iran 1979, Arab Saudi dan negara-negara berbasis kerajaan di Timur Tengah merasa terancam akan menularnya Revolusi Iran di seantero Timur Tengah. Ariel Jahner dalam Saudi Arabia and Iran: The Struggle for Power and Influence in The Gulf menggambarkan bahwa ketika terjadi perang Iran-Irak, Arab saudi jelas mendukung Irak dari segala lini. Sebab Iran di mata Saudi adalah ancaman bagi otoritasnya. Pertarungan antara Arab Saudi dan Iran semakin memanas setelah Arab Saudi menghapus nama Israel dari daftar musuh dan mengalihkan kewaspadaan pada Iran.

Ruh dan Jasad Baginda Nabi saat Peristiwa Isra Mi’raj
Apakah peristiwa Isra Mi’raj dijalani Nabi saat terjaga atau bermimpi? Ruh saja atau sekaligus jasadnya? Tafsiran Syekh Asy-Sya’rawi menjawabnya.

Problem Sunni-Syiah akhirnya tak bersih dari kepentingan politik internasional, politik negara imperialis, hingga negara-negara boneka yang tak menginginkan kerukunan umat Islam. Frame besar konflik Timur Tengah yang kompleks melibatkan blok Timur dan Barat: konflik Amerika-Rusia, Arab Saudi-Yaman, hingga negara-negara imperial yang berkepentingan di baliknya, bahkan nyaris menyentuh narasi besar di balik fenomena ISIS dan terorisme Islam. Betapa tersayat hati ini ketika nyawa harus dipertaruhkan hanya karena ekses politik dan pasar: ribuan nyawa rakyat Syiria dan Irak melayang akibat kesalahpahaman yang dibungkus agama. Perdamaian hanyalah utopia untuk terus melanggengkan perang.

Akhirnya harapan terbesar adalah seruan Imam Akbar Syekhul-Azhar Ahmad Ath-Thayyib di Bahrain tempo hari dapat memengaruhi situasi geo-politik Timur Tengah. Khususnya dari pihak Teheran. Meski usaha-usaha rekonsiliasi intelektual tak selalu berbanding lurus dengan kompleksnya politik, namun hal itu adalah usaha jangka panjang. Cara paling efisien untuk menahan bias problem sektarian, adalah membangun ruang publik—komunikasi secara filosofis—yang terbuka, humanis, dan demokratis. Dengan makna inilah kira-kira pernyataan Imam Akbar di atas mendapatkan momentumnya. Tabik!

💡
Baca juga artikel lain di rubrik OPINI atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim