Membaca Dualitas Mazhab Imam Asy-Syafi’i Lewat Disertasi Ulama Betawi

Buku Al-Imam Asy-Syafi’i fi Madzhabaihi Al-Qadim wa Al-Jadid karya Syekh Dr. Ahmad Nahrawi Abdussalam adalah salah satu karya paling komprehensif tentang Imam Asy-Syafi’i di era modern. Ditulis sebagai disertasi doktoralnya di Universitas Al-Azhar, buku ini mengupas secara mendalam kehidupan, pemikiran, serta perbedaan dua fase mazhab Imam Asy-Syafi’i—yakni saat beliau di Irak (mazhab qadim) dan ketika beliau menetap di Mesir (mazhab jadid). Buku ini tak hanya istimewa karena kedalaman isinya, tapi juga karena penulisnya adalah ulama besar asal Betawi yang menempuh pendidikan di jantung dunia Islam, Mesir.

Buku ini pertama kali diterbitkan pada bulan Mei 1988, bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1408 H. Dalam buku Syekh Ahmad Nahrawi: Jejak Kehidupan Ulama Betawi dalam Kenangan Putri Tercinta, disebutkan bahwa Nahrawi menambahkan "Al-Indunisi" di belakang namanya untuk menandakan asalnya sekaligus mengharumkan nama Indonesia di dunia keilmuan Islam.

Pada lembaran awal buku, Syekh Nahrawi mencantumkan kutipan dari supervisor keduanya, Syekh Prof. Abdulghani Abdulkhaliq, dalam penilaian akhir terhadap disertasinya:

“Sungguh jelas bahwa munaqasyah ini menunjukkan bahwa ini adalah disertasi yang sangat berkualitas, sangat bermanfaat, karena mencakup segala hal yang berkaitan dengan Imam Asy-Syafi'i... Bahkan, dapat dikatakan bahwa ini adalah karya yang paling luas dan lengkap yang ditulis tentang Imam Asy-Syafi'i pada zaman kita.”

Biografi Singkat Penulis

Ahmad Nahrawi Abdussalam lahir di Jakarta pada 16 Rabiulakhir 1350 H (30 Agustus 1931 M) dan wafat di Jakarta pada 20 Syawal 1419 H (7 Februari 1999 M). Sebagaimana dikisahkan dalam buku Syekh Ahmad Nahrawi: Jejak Kehidupan Ulama Betawi dalam Kenangan Putri Tercinta, sejak kecil ia telah bercita-cita belajar di Al-Azhar, Mesir, meski perjalanannya penuh tantangan. Ia bekerja sebagai penjahit, lalu menjadi penyiar dan penerjemah di Radio Mesir (1954), serta mendirikan organisasi Pelajar Indonesia di Mesir (PIM) yang kemudian menjadi Persatuan Pelajar Indonesia (PPI).

Pendidikan beliau mencakup jenjang luas, dari Lc. Fakultas Syariah (1956), dua gelar MA di bidang Kehakiman dan Pengajaran Bahasa Arab (1958–1960), dua diploma hukum dari Liga Arab (1961–1962), hingga master dan doktor di bidang Perbandingan Mazhab dari Fakultas Syariah Al-Azhar (1966 dan 1970).

Biografi

Sepilihan riwayat hidup para tokoh dapat teman-teman temukan

di sini

Pertanyaan-Pertanyaan Kunci dalam Kajian Mazhab

Dalam buku Al-Imam Asy-Syafi’i fi Madzhabihi Al-Qadim wa Al-Jadid, Syekh Ahmad Nahrawi mengawali pembahasannya dengan sejumlah pertanyaan transisional yang menjadi kunci kajian:

“Apa sebenarnya hakikat dari kedua mazhab ini? Apa cakupan dan ruang lingkupnya? Apakah keduanya merupakan dua mazhab yang berbeda baik dari sisi bentuk maupun isi? Ataukah sebenarnya satu mazhab saja, namun diberi dua nama berbeda karena dua pertimbangan yang berbeda? Bagaimana perbandingan antara keduanya? Dan bagaimana kedudukan kedua mazhab tersebut dibandingkan dengan mazhab-mazhab lain yang lebih dahulu ada?”

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini diuraikan secara sistematis dalam buku, meskipun tentu tidak seluruhnya dapat dirangkum dalam artikel ini. Namun, salah satu kutipan yang relevan datang dari Prof. Ahmad Amin, yang memberikan ilustrasi ringkas atas perbedaan dua fase mazhab tersebut:

“Para ulama membagi fikih Imam Asy-Syafi’i menjadi dua mazhab: mazhab lama dan mazhab baru. Mazhab lama adalah pendapat-pendapat yang beliau tulis dan sampaikan di Irak, sedangkan mazhab baru adalah pendapat-pendapat yang beliau tulis dan sampaikan di Mesir. Hal ini karena, ketika beliau datang ke Mesir, beliau merevisi sebagian pendapatnya yang terdahulu. Penyebabnya adalah karena beliau berinteraksi dengan para ulama Mesir, mendengar hadis-hadis yang dianggap sahih oleh mereka, serta mendengarkan murid-murid Imam al-Laits bin Sa’d yang meriwayatkan pendapat dan fikih gurunya. Ia juga menyaksikan kondisi sosial di Mesir yang berbeda dengan apa yang pernah ia temui di Hijaz dan Irak. Maka dari itu, Imam Asy-Syafi’i pun menyusun ulang beberapa pendapat fikihnya, dan pendapat-pendapat inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan mazhab baru.”

Struktur dan Isi Buku

Buku ini dibagi menjadi tiga bab besar:

Bab I: Kehidupan Imam Asy-Syafi’i

Membahas fase hidup Imam Asy-Syafi’i, mulai dari masa kecil hingga wafatnya. Penulis menggambarkan Imam Asy-Syafi’i sebagai sosok alim, sastrawan, peletak usul fikih, dan mujtahid yang mendalam dalam ilmu. Selain itu, beliau juga membahas sifat-sifat mulia Imam Asy-Syafi’i serta keberhasilan yang diraihnya melalui usaha keras dan perjuangannya yang panjang dalam memajukan ilmu fikih, agama, dan umat Islam.

Bab II: Zaman Imam Asy-Syafi’i

Menjelaskan latar sosial, politik, budaya, serta kondisi syariat pada masa Imam Asy-Syafi’i, termasuk sikap sang imam terhadap mazhab ahlu ra’yi dan ahlu hadis.

Bab III: Mazhab Imam Asy-Syafi’i

Bab ini terdiri atas tiga bagian penting:

  1. Ushul Asy-Syafi’i – Mengulas sumber hukum (Al-Quran, sunnah, ijma’, qiyas), serta sikap Imam terhadap nasikh-mansukh, maslahah mursalah, istihsan, dan lainnya berdasarkan Ar-Risalah.
  2. Fikih Asy-Syafi’i – Membedakan mazhab qadim (di Irak) dan jadid (di Mesir), termasuk contoh hukum fikih yang berubah dan dalilnya, misalnya:
    - Masalah air mustakmal dan najis dalam bab wudu.
    - Bacaan Al-Fatihah yang tertinggal karena lupa dalam salat.
    - Masalah zakat, puasa, haji, dan jual beli.
  3. Kontribusi Pengikut Mazhab – Menjelaskan penyebaran dan hierarki pengikut mazhab Asy-Syafi’i dari masa Imam Asy-Syafi’i hingga Imam Tajuddin As-Subki (abad ke-8 H), serta menjabarkan konsep takhrij, tarjih, dan peran para mujtahid dalam mazhab ini.

Syekh Ahmad Nahrawi secara mendalam menganalisis perbedaan dan dinamika dua mazhab tersebut, termasuk sikap Imam Asy-Syafi’i terhadap pendapat lamanya, serta hukum beramal dengan mazhab qadim pasca-mazhab jadid ditetapkan.

Penutup

Buku ini layak menjadi bacaan utama bagi siapa saja yang ingin memahami dinamika pemikiran Imam Asy-Syafi’i secara utuh. Lebih dari sekadar pemetaan dua fase mazhab, karya ini mencerminkan ketajaman metodologi dan kedalaman intelektual seorang ulama Indonesia yang menulis dalam lanskap ilmiah dunia Islam. Dengan narasi yang terstruktur dan argumen yang kuat, Syekh Dr. Ahmad Nahrawi membawa kita menelusuri jejak transformasi pemikiran fikih yang lahir dari dialektika antara teks, realitas sosial, dan tradisi ilmiah lintas wilayah.

Semoga resensi ini menjadi pengantar yang mendorong pembaca untuk menyelami lebih jauh warisan keilmuan klasik yang ditinggalkan para ulama. Di tengah arus wacana keagamaan yang kerap tergesa, buku ini mengajarkan bahwa pemahaman mendalam lahir dari kesungguhan, keikhlasan, dan keberanian intelektual untuk meninjau ulang gagasan demi kemaslahatan umat.


💡
Baca artikel lain di rubrik RESENSI atau tulisan menarik Aji Nasrullah