Membincang Tafsir Ayat “Wa Fauqa Kulli Dzi Ilmin ‘Alim”

Berbicara sebuah ilmu itu bak kita terjun ke dalam samudra tanpa batas, mengikuti aliran sungai tanpa muara dan memasuki labirin tanpa pintu; tak ada kata selesai. Demikianlah watak ilmu; tak pernah berhenti pada satu titik. Di setiap satu ilmu, ada ilmu yang lain, satu pemikiran ada pemikiran yang lain, begitu seterusnya yang saling berkaitan dan berkait-kelindan. Di saat yang sama, manusia dengan segenap keterbatasannya hanya mencicipi satu tetes saja dari samudra ilmu yang tak pernah diketahui ujungnya. Begitu pula akan terlahir ulama, ilmuan dan cendekiawan yang menghidupkan ilmu di setiap zaman dan generasi.

Itulah kira-kira pesan yang tersirat dari firman Allah, “Wa Fauqa Kull Dzi Ilmin Alim” (Surah Yusuf: 76). Dr. Muhammad Abu Musa (salah seorang ulama senior pakar Balaghah Al-Azhar) dalam tulisannya di Majalah Al-Azhar edisi Juli 2025, menjelaskan bahwa ayat ini memuat dua konteks makna; pertama, subjek pengetahuan (orang yang berilmu) akan selalu ada dan terlahir di setiap zaman. Kedua, ilmu pengetahuan itu akan selalu berkembang dan tidak akan pernah final dan mati.

Mula-mula Syekh Muhammad Abu Musa menjelaskan sejak Allah menciptakan manusia dan menjadikannya sebagai khalifah, Allah telah mempersiapkan manusia untuk mengemban amanah yang amat besar; yaitu amanah ilmu pengetahuan. Sejak Allah menitipkan rahasia-rahasia ilmu dan hakikat di alam semesta ini, manusia kemudian dituntut untuk meneliti dan menyingkap rahasia dan hakikat ilmu pengetahuan tersebut. Namun sejak saat itu hingga hari ini, manusia hanya dibekali sedikit saja ilmu pengetahuan—di tengah samudra ilmu Allah yang berada di semesta— sehingga Allah itu berfirman, “Wama Utitum Min Al-Ilmi Illa Qalilan” (Engkau tidaklah diberikan ilmu, kecuali hanya sedikit).

Dalam ayat “Wa Fauqa Kull Dzi Ilmin Alim”, terdapat dua kata yang sama-sama memiliki makna orang yang berilmu (memiliki pengetahuan). Yaitu kata “Dzi Ilmin” dan “Ãlim”. Akan tetapi kata yang kedua sengaja Allah memilih kata “Ãlim” dengan bentuk Shighah Mubalaghah yang menekankan makna lebih. Dengan demikian makna ayat tersebut berbunyi, “Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan, terdapat orang yang lebih mengetahui.” Lantas, apa pesan yang dapat kita ambil dari firman tersebut?

Dalam konteks pertama, ayat di atas sedang menjelaskan bahwa akan terlahir para ahli ilmu di setiap zaman. Menurut Syekh Muhammad Abu Musa, di setiap zaman akan selalu muncul ahli ilmu yang terus menerus berlomba untuk memproduksi dan meneliti ilmu. Allah telah mewariskan rasa cinta dalam hati mereka untuk ilmu pengetahuan. Mereka (kelompok cendekiawan ini) akan terus berupaya mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk menganalisis, meneliti, dan memunculkan ilmu pengetahuan hingga mencapai puncak dari peradaban keilmuan.

Namun, apakah ada puncak dari keilmuan itu sendiri? Menurut Syekh Muhammad Abu Musa, Allah ingin menjelaskan pada kita bahwa ilmu manusia tidak akan pernah berhenti berkembang. Dalam Islam, sumber utama ilmu pengetahuan adalah kitab Allah, Al-Quran Al-Karim. Menurut para ulama, sejak awal mula diturunkan hingga hari akhir, Al-Quran adalah “Maidah Mamdudatun Li Uqulin Nabihin”  hidangan yang terbentang untuk para cendekiawan, ulama, yang berusaha untuk menggali ilmu pengetahuan darinya.

Al-Quran

Kumpulan tulisan dengan kata kunci Al-Quran dan cabang ilmunya bisa teman-teman temukan

di sini

Berdasarkan sifatnya sebagai Kalamullah, Al-Quran dibagi menjadi dua; dari segi teks Arabnya yang terbatas dan dari segi makna dibaliknya yang tidak terbatas. Ulama sepakat bahwa makna di balik teks Al-Quran itu tidak terbatas dan akal manusia tidak akan sanggup untuk menjangkaunya. Jika itu hanya dalam konteks Al-Quran, satu bagian dari kalimat Allah yang diturunkan di dunia, maka bagaimana dengan kalimat-kalimat Allah lainnya yang tak terbatas dan tidak diketahui manusia? Syekh Abu Musa kemudian memungkas bahwa “Anna Al-Qurana Kaunun Nathiqun, wa anna Al-Kauna Quranun Shamitun” (Al-Quran itu adalah semesta yang berbicara, sedangkan alam semesta itu adalah Al-Quran yang diam).

Jika ilmu yang Allah berikan tidak terbatas, begitu pula watak dari ilmu juga tidak akan pernah mati. Syekh Muhammad Abu Musa menjelaskan; watak dari ilmu itu akan selalu berkembang. Semakin seuatu ilmu itu dibahas, ditelaah, diteliti, ia akan semakin luas dan berkembang. “Seolah-olah engkau menemukan bahwa di tiap-tiap pemikiran yang ada, mengandung pemikiran lainnya. Jika engkau sejenak merenunginya, engkau akan mendapatinya sesuatu yang lain, yang itu, sebuah pemikiran tersendiri. Bahwa tidak ada istilah ilmu yang sudah matang, dan mandek sebagaimana yang dikatakan oleh Amin Al-Khuli”.

Menurut Dr. Muhammad Abu Musa, ayat “Wa Fauqa Kulli Dzi Ilmin Alimun” menyiratkan bahwa tidak ada istilah kadaluarsa dalam sebuah ilmu sebab ilmu akan selalu relevan di setiap zamannya. Buktinya, sejak 14 abad yang lalu keilmuan yang diwariskan ulama generasi awal tetap dipelajari oleh generasi sekarang. Bahkan, kini turats Islam semakin berkembang dan bertambah luas cabang keilmuan dan perspektifnya. Namun, sebagian dari ilmu-ilmu tersebut masih menyimpan banyak rahasia-rahasia yang— dalam bahasa Dr. Abu Musa— memanggil para cendekiawan untuk meneliti, mengungkap fakta-fakta baru darinya hingga hari akhir nanti.

Walhasil, melalui ayat ini Allah ingin menegaskan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang tak terbatas, akan selalu lahir para ulama, ilmuan dan cendekiawan di setiap masa. Allah memiliki caranya tersendiri untuk menghidupkan sebuah peradaban keilmuan dengan segenap dialektika zaman; kritik melahirkan pembaharuan, kemandekan melahirkan kebangkitan, ilmu akan melahirkan ilmu lainnya. Di tengah samudra dan perkembangan keilmuan itu, tugas kitalah untuk menjadi bagian yang berperan aktif di dalamnya.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik ISLAMUNA atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim